
Joan mulai menaiki setiap anak tangga menuju ruang kerja Ansel .Kedatangan Joan yang tiba - tiba membuat semua pelayan beserta pengawal yang berada dirumah itu langsung menyambutnya dengan sebuah penghormatan .
Penampilan Joan yang acak - acakkan ditambah dengan matanya yang sembab memunculkan banyak pertanyaan dari sebagian orang yang bekerja dirumah itu .
" Tuan Joan kenapa yah , gak biasanya dia datang dengan penampilan yang acak - acak kan seperti itu .Padahal biasanya dia selalu berpenampilan rapi ditambah dengan jambulnya yang selalu ditata dengan indah bak pangeran disebuah kerajaan " bisik pelayan wanita bernama Tia kepada pelayan lainnya .
" Iya yah ketampanannya hari ini jadi berkurang 1 level " Balas Ella, seorang pelayan yang dikenal tukang ngerumpi .
" Udah udah kalian berdua jangan ngomongin Tuan muda lagi ! " Bentak seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan , wanita bernama Rina itu telah mengabdikan dirinya untuk bekerja dengan keluarga Rivenno selama 30 tahun .Rina merupakan orang kepercayaan almarhum kakek Joan .
Joan menatap sinis kearah Tia dan Ella , sebuah gosip yang diomongkan oleh para pelayan tukang onar itu membuat moodnya tambah buruk .Sayang sekali dirinya tidak punya kekuatan untuk memarahi kedua wanita itu .Sisa kekuatan yang dimilikinya saat ini hanyalah membuat sebuah pengakuan kepada kedua orang tuanya .
Joan mengalihkan pandangannya kearah Rina .Wanita itu sudah seperti nenek bagi Joan .Semenjak kecil Joan dan Sarah selalu ditinggalkan kedua orang tuanya yang sibuk bekerja di luar negeri , Rina lah yang mengurus mereka hingga mereka beranjak remaja .
" Nek apa papah ada ruang kerja ? "Tanya Joan dengan wajah tanpa gairah .
" Iya Ar papah dan mamah kamu ada diruang kerja kok " balas Rina ditambahi dengan sebuah anggukan kecil .Rina selalu memanggil Joan dengan nama Arkan karena panggilan Joan sewaktu kecil adalah Arkan .Hanya saja saat Joan mulai bekerja diperusahaan nama panggilannya diganti dari Arkan menjadi Joan.
" Yaudah Joan temuin mereka dulu yah nek " pamit Joan dengan sebuah senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya .
Joan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Rina beserta pelayan lainnya .
Tubuh Joan seketika bergetar dengan sangat kuat saat berada diambang pintu ruang kerja Ansel . Di ruangan itu sudah terdapat Ansel dan Auris yang sedang terduduk membicarakan sesuatu dengan sangat serius .
Pria dan wanita paruh baya itu menoleh kearah Joan secara bersamaan .Auris tersenyum kegirangan seraya memeluk putranya itu .
" Ya ampun sayang , kok gak bilang - bilang sih kalo kamu mau datang kesini. Andai saja mamah tau kamu bakal datang kesini hari ini pasti mamah masakkin makanan kesukaan kamu " Ucap Auris seraya membelai rambut Joan .
Joan hanya mematung disertai dengan tatapannya yang kosong .Tubuhnya terus saja bergetar , pria itu mulai memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana untuk mengurangi sedikit rasa takutnya .
" Mah , pah maafin Joan " Ucap Joan lirih , pria itu mulai mendudukkan tubuhnya dilantai .
" Apa yang kamu lakukan , berdiri sekarang juga !" Bentak Ansel melihat anaknya yang sedang terduduk dihadapannya .Posisi Joan seperti orang yang sedang bersujud dihadapan kedua orang tuanya .
" Maafin Joan pah,mah .Hiks ...hiks...hiks...." Ucap Joan disertai isakan tangis.
Ansel baru kali ini melihat anaknya menangis ,ia tidak tahu apa yang telah terjadi kepada anak bungsunya itu .
Ansel mulai membangunkan tubuh Joan sehingga sejajar dengan tubuhnya .
"Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan? " Tanya Ansel dengan ekspresi tenang .
" Iya sayang , apa yang sedang terjadi sama kamu ? gak biasanya kamu seperti ini ? " imbuh Auris yang sama penasarannya dengan Ansel .
" Joan katakan cepat apa yang sedang terjadi ! " Bentak Ansel .
Joan mulai mengangkat wajahnya perlahan , bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya meskipun harus mendapatkan amukan dari kedua orang tuanya .
" Aku ngehamilin seorang wanita pah " Ucap Joan terbata- bata .Ansel langsung mencengkram keras rahang tegas Joan.
" WANITA MANA YANG SUDAH KAMU HAMILI ? Tanya Ansel dengan menekankan setiap perkataanya .
" Liza pah mah , wanita yang sebelumnya menolak untuk ku nikahi "Jawab Joan .
Prak ....
Sebuah vas bunga kaca langsung terjatuh kelantai setelah dilemparkan oleh Ansel kearah kepala Joan .
Joan meringis kesakitan , tangannya meraba - raba ke setiap sudut wajah yang terasa perih akibat terkena goresan kaca .
" Bagaimana bisa kamu ngelakuin sesuatu rendahan seperti itu , terlebih lagi orang yang kamu hamili adalah putri dari keluarga ternama .Mau disimpan dimana muka papah, HAH ? " Ucap Ansel seraya menaikkan nada suaranya dikata terakhirnya .
" Udah pah jangan diributin lagi , lagian Liza juga adalah putri dari keluarga baik - baik . Bibit bebet bobotnya udah kita ketahui juga kan pah , lagian yang sudah terjadi biarlah terjadi, nasi sudah jadi bubur. Toh Liza juga udah mengandung cucu dari keluarga ini pah , yang kita harus lakuin sekarang hanyalah menikahkan Joan dengan Liza " Ucap Auris menenangkan suaminya .
Ansel terlihat berpikir sejenak , yang diucapkan oleh istrinya benar - benar masuk akal . Saham perusahaanya pasti akan meledak jika digabungkan dengan saham keluarga hope .
" Baiklah papah setuju sama mamah kamu , lakukan saja pernikahan kalian dalam Minggu ini . Rencanakan pernikahan ini dengan sangat matang , papah gak mau ada satu hal pun kesalahan " Ucap Ansel yang membuat Joan tersenyum simpul .Meskipun darah mengalir dari jidat dan pipi Joan , tapi perjuangannya untuk mengakui hal ini ternyata membuahkan hasil yang membuatnya sangat merasa puas .
" Makasih banyak pah , Joan janji akan ngelakuin yang terbaik ".Ucap Joan lirih , ia dengan cepat memeluk Ansel kegirangan .
Auris ikut tertawa bahagia melihat ekspresi Joan yang sebelumnya terlihat sangat murung berubah 90 derajat menjadi sangat ceria.
" Lakuin juga tanggung jawab kamu sebagai seorang suami sekaligus ayah untuk calon bayi kamu " Ucap Ansel seraya melepaskan pelukan Joan .
Joan hanya bisa mengangukan kepalanya pelan , ia benar - benar salah tingkah saat ini .Air matanya turun tanpa ia sadari dikarenakan rasa bahagia yang tak terbendung .
" Tapi papah punya satu syarat " Ansel mengacungkan satu jari telunjuknya kearah Joan .
Joan mengernyitkan dahinya dengan ekspresi yang sangat tegang " Syarat apa pah ? "
" Saham kamu yang sebesar 50 persen akan papah bagi dua dengan calon Cucu papah " Ucap Ansel yang sama sekali tak membuat Joan terkejut maupun menolak .
Joan hanya tersenyum " Tanpa papah kasih syarat juga , Joan pasti ngelakuin hal itu kok .Untuk calon anak kesayanganku , Joan nggak akan tanggung - tanggung pah , Joan akan berikan semua saham beserta semua aset yang Joan miliki padanya "
Ucap Joan dengan sangat percaya diri didepan Papah dan mamahnya itu , Ansel dan Auris hanya bisa geleng- geleng kepala melihat tingkah laku anaknya itu .Keduanya sadar jika Joan memang sudah dari dulu menginginkan seorang anak .