
Keluar dari ruangan itu, Aleia langsung bertemu dengan Alden.
Deg!
Kedua matanya membola, jantungnya tersentak seketika, bahkan buru-buru Aleia menghapus air matanya yang masih tersisa. Sebelum Alden sempat melihat Arkan, Aleia dengan segera menarik saudara laki-lakinya itu untuk pergi dari sana.
Aleia sungguh tak ingin Alden pun ikut melukai pria itu, pria yang hingga kini masih berstatus sebagai suaminya.
"Kamu menangis?" tanya Alden, Aleia memeluk lengannya dengan kuat dan terus menariknya menjauh.
"Tidak, hanya kelilipan."
"Jangan bohong."
"Tidak, ayolah cepat, kini harus menemui tuan rumah acara ini." kilah Aleia, dia terus memalingkan wajah, tidak ingin Alden melihat wajahnya yang sembab.
Menjelang malam Arkan pun telah tiba di rumahnya. Mama Elma kembali menghela nafas kecewa saat melihat Arkan lagi-lagi pulang sendirian.
Wanita paruh baya itu terus bertanya-tanya, kapan Aleia pulang ke rumah ini?
"Ar."
"Ma, ada yang ingin aku bicarakan," balas Arkan, bahkan sebelum ibunya itu sempat banyak berucap.
Dan kini Arkan beserta kedua orang tuanya telah duduk di ruang kerja yang ada di rumah itu.
Mama Elma dan papa Danu duduk berdampingan, sementara Arkan segera bersimpuh seraya menyentuh kedua tangan ibunya yang berada di atas pangkuan.
Mama Elma dan papa Danu tentu saja sangat bingung, mereka takut jika Arkan akan mengatakan tentang perpisahannya dengan Aleia. mengingat wanita itu telah lama tidak kembali ke rumah ini.
"Ma, Pa, sebelumnya aku ingin meminta maaf," ucap Arkan.
Mama Elma jadi semakin cemas saja saat mendengar permintaan Maaf itu.
Sampai akhirnya Arkan menjelaskan semua yang terjadi di antara rumah tangganya dan Aleia. Dari pertama saat dia menikah dengan Diora yang hanyalah jebakan, karena nyatanya baby Bryan bukanlah anak kandungnya.
Kecelakaan itu terjadi karena Aleia ingin mengatakan tentang kebenaran ini pada Arkan tapi Diora menghalanginya.
dan karena kecelakaan itu pula Arkan membenci Aleia dengan sangat dalam. selama satu tahun pernikahan mereka Arkan selalu memperlakukan Aleia dengan buruk, bukan hanya dengan kata-kata kasar tapi juga sikap yang kejam.
Seluruh pelayan di rumah ini adalah saksinya.
Mendengar itu mama Elma menangis, dia bahkan Sampai Menutup mulutnya menggunakan kedua tangan agar tangis itu tidak semakin pecah. berulang kali menyebut nama Tuhan di dalam hatinya agar dia tetap tenang.
Ya Tuhan, Hanya dua kata itu yang bisa Mama Elma ucapkan tiap kali dia mendengar cerita dari Arkan.
Dan puncaknya saat Aleia pulang ke rumah utama, keluarga Aleia akhirnya mengetahui semua sikap kasarnya selama ini. Jadi daddy Alex meminta Arkan dan Aleia bercerai.
"Aku tidak mau bercerai dengan Aleia Ma. Ku mohon, bantu aku untuk membawanya pulang," mohon Arkan.
Seumur hidupnya baru kali ini dia membuat sebuah permohonan pada kedua orang tuanya. Selama ini Arkan selalu bisa melakukan apapun sendirian.
Tangis mama Elma semakin menjadi, sementara papa Danu hanya membuang nafasnya dengan kasar.
Karena menyakiti Aleia sama saja Arkan telah menyakiti seluruh keluarga Carter.
Tapi melihat Arkan yang memohon seperti ini, mambuat papa Danu menyadari bahwa Arkan telah menyesal dengan semua kesalahannya dan sangat mencintai istrinya itu.
Papa Danu tidak bisa diam saja, dia pun akan mengupayakan agar menantunya kembali.
Agar Arkan dan Aleia bisa kembali bersama. Memperbaiki apa yang telah salah dan menjalin hubungan yang baru.
Dan tentang baby Bryan, sesaat mereka memang kecewa. Tapi kasih sayang yang begitu tulus pada bayi itu mengesampingkan amarah yang nyaris menguasai diri.
Bukan bayi itu yang bersalah, tapi Arkan dan Diora.
"Bangkitlah, besok kita temui keluarga Carter," ucap papa Danu, setelah cukup lama dia hanya diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai hai, apa kabar semuanya? yang punya rumah sebelah Fizzzzo jangan lupa mampir ke cerita ku disana ya.
Judulnya : Diam-diam Hamil Anak Boss
By : Lunoxs
Rendra × Nadine
"Ayolah Nad, hamil anakku, anggap saja ini kerjasama," ucap Rendra, dia adalah seorang direktur utama sementara Nadine sekretarisnya.
Pembicaraan mereka disaksikan oleh asisten Jo-asisten pribadi Rendra.
Nadine nampak berpikir, menatap sang tuan penuh selidik, kasihan juga sih. Sudah tua, 35 tahun, masih ingin senang-senang tapi dituntut punya anak. Sedangkan pernikahan Rendra tidak pernah menginginkannya.
"Ya sudah ayo, tapi agar hidupku lebih terjamin, ayo kita buat surat perjanjian, Tuan."
"Sip," balas Rendra cepat, "Sekarang katakan apa syarat darimu?" Timpal Rendra lagi.
"Selama aku hamil, aku ingin tetap bekerja, tapi aku tidak mau melakukan pekerjaan apapun."
"Pintar."
"Aku tidak mau ada nominal uang, berikan saja black card milik Tuan dan aku akan menggunakan semauku."
"CERDAS!" balas Rendra lagi.
Sementara asisten Jo menahan tawa mendengar keduanya. Tangannya pun terus mencatat poin-poin penting.
Jangan lupa mampir ya ...