
Mobil Joan terhenti disebuah bangunan kosong yang menjulang tinggi , bangunan itu bersebrangan dengan rumah Dilan .Joan sengaja menjadikan bangunan yang belum jadi itu sebagai tempat persembunyiannya karena bangunan itu memiliki Rooftop yang bisa dijadikan tempat yang paling strategis untuk memata- matai segala gerak - gerik Dilan dan Liza .
Joan mulai mengeluarkan beberapa barang yang ia butuhkan untuk dibawa ke Rooftop .Ia mulai mengambil dua botol air minum dan beberapa camilan dan tak lupa ia pun membawa teropong jarak jauh yang akan ia gunakan sebagai fasilitas utamanya untuk mematai - matai setiap pergerakan dirumah itu .
Joan dengan cepat berlari menaiki tangga menuju Rooftop , saat sampai di Rooftop Joan mulai mencari keseluruh arah .Ekspresi Joan terlihat bahagia saat menemukan Dafa yang masih setia menunggu ditempat itu .
" Halo bos " Sapa Dafa saat bosnya itu sudah duduk disampingnya .
" Nih " Joan menyodorkan sebotol air minum serta camilan kepada Dafa .
Mata Dafa mulai berbinar setelah menerima pemberian dari bosnya itu , jujur saja Dafa sudah sangat kelaparan sedari tadi .
" Makasih bos " Ucap Dafa dengan senyum yang terus melekat diwajahnya .Tanpa basa - basi Dafa mulai menyantap makanan itu dengan lahap .
Berbeda dengan Joan ia justru malah mulai melakukan aksinya memantau rumah Dilan .
Joan dengan fokus menggunakan teropong hadiah pemberian kakeknya itu , teropong seharga puluhan juta itu hanya Joan gunakan untuk hal yang sangat penting .
Mata Joan menyipit ketika mendapati Liza yang sedang mengobrol dengan Dilan dengan serius .
Joan sangat frustasi karena tak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang mereka bicarakan .
" Ada apa bos ? " Tanya Dafa yang melihat tingkah aneh bosnya itu .
Joan menghentikan aktivitasnya kali ini ia mulai mengalihkan pandangannya menuju Dafa .
" Gue kesel daf gak bisa ngedenger pembicaraan mereka . Takutnya kan si Dilan ngomongnya mesum sama cewek gue " jawab Joan , sikap posesifnya benar - benar tak bisa lagi ditoleri oleh Dafa.
Dafa membuang napasnya kasar, sikap bosnya benar - benar seperti seorang pria yang ketakutan jika wanitanya selingkuh .Toh , mereka berdua juga tidak pacaran ataupun menikah .Joan bersikap seolah - olah dirinya memiliki wanita itu padahal kenyataannya Liza hanya menganggap Joan sebagai angin lewat .
Dafa menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal " Bos banyak nyamuk nih udah malam juga , mendingan kita pulang aja bos " Rengek Dafa seraya menggaruk tangannya yang gatal akibat gigitan nyamuk .
Joan menggeleng pelan , ia masih bersikukuh untuk tetap berada ditempat yang jauh dari kata nyaman itu .Meskipun badannya sudah dipenuhi gigitan nyamuk sekalipun ,pria itu akan tetap memata- matai Liza hingga wanita itu pulang .Joan ingin memastikan jika tak terjadi sesuatu antara Liza dan Dilan .
"Gaji Lo gue tambahin 10 kali lipat deh " Tawar Joan yang membuat Dafa langsung teriak kegirangan .
Dafa menyengir seraya membungkukkan tubuhnya 90 derajat
" Terima kasih banyak bosku yang ganteng dan baik hati , kalo begitu saya akan tetap setia menemani anda meskipun harus terserang penyakit demam berdarah sekalipun " .
Joan menatap Dafa dengan tatapan sinis , ia sudah terbiasa menghadapi sikap Dafa yang mata duitan itu .
Joan mengambil sesuatu dari saku jasnya , kemudian ia memberikan benda itu kepada Dafa .
Dafa dengan cepat menuruti perintah bosnya itu , ia berlari turun dari Rooftop dan mulai beraksi untuk memasangkan alat itu di balkon kamar yang ditempati Liza yang berada dilantai 2 .
Untung saja ada sebuah tangga lipat yang disimpan dipekarangan rumah itu , Dafa dengan cepat memindahkan tangga itu menuju ke balkon yang akan dipasangkan alat penyadap .
Dafa harus ekstra hati - hati karena Liza dan Dilan sedang berada disebelah kamar itu , dirinya bahkan harus mengendap - endap layaknya seorang maling .
Dafa mulai menaiki tangga itu tanpa menimbulkan suara apapun , setelah sampai di balkon itu ia langsung memasangkan alat penyadap itu disalah satu bunga yang dipajang sebagai hiasan .
Akhirnya Dafa sudah bisa bernapas lega setelah alat itu selesai dipasang, dengan cepat ia turun dari balkon itu dan kembali menghampiri bosnya yang sedang memantau pergerakannya .
Joan mengacungkan jempolnya kearah Dafa , pria itu langsung mengambil handset bluetooth yang terhubung dengan alat penyadap itu .
Joan tersenyum puas saat ia sudah bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas .Kali ini ia mulai memadukan dua aktifitas sekaligus yaitu melihat dan mendengar .
" Lan belakangan ini gue sering ngerasa kesepian , terkadang gue juga ngerasa ketakutan "
" Li gue udah berkali - kali ngingetin, kalo Lo kesepian dan ketakutan panggil aja gue , gue siap kok nemenin Lo kapanpun "
" Bukan gitu lan , gue cuman gak mau ngerepotin dan nyita waktu Lo .Gue paham yang Lo rasain saat kecapean kerja , kelelahan dan tentunya Lo juga pasti ngerasain yang namanya frustasi ngadepin fans - fans yang fanatik "
" Hmmm gue udah terbiasa dengan semua hal itu Li "
" Nah makanya gue gak tega buat ngerepotin Lo Lan terlebih lagi Lo gak boleh terlalu kecapean , gue cuman pengen Lo selalu sehat dan selalu ada disamping gue Lan"
" Li satu - satunya orang yang gak pernah gue ngertiin adalah Lo Liza Nathalia Hope " Ucap Dilan seraya merangkul pundak Liza .
" Kok gue ? Emang gue kenapa Lan ?"
" Karena Lo selalu ada buat gue , tapi gue gak pernah ada buat Lo .Gak adil namanya Li kalo Lo selalu ngeluangin waktu buat ngejaga gue sementara gue gak pernah ngeluangin waktu sedikitpun untuk nemenin Lo li "
" Lan kalo menurut Lo itu gak adil , gimana kalo kita nikah aja supaya Lo bisa nemenin gue setiap saat ? "
Joan membuka handsetnya dengan kasar , ia sangat kesal mendengar perkataan Liza yang mengajak dilan menikah .Hatinya terasa seperti teriris - iris oleh belati .Air matanya langsung turun begitu saja membasahi pipinya ,baru kali ini ia merasakan patah hati yang diakibatkan oleh seorang wanita .
Dafa terkejut melihat wajah Joan yang dibanjiri air mata , sudah dipastikan bahwa bosnya itu mendengar sesuatu yang seharusnya tak ia dengar .
" B- bos mau p-ulang ? " Tanya Dafa terbata - bata.
Joan mengangguk , tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung melenggang pergi meninggalkan Dafa beserta barang - barang yang dibawanya .