
Liza POV
Aku membuka mataku yang masih terasa berat , malam ini aku melakukan syuting hingga larut malam sehingga hanya punya waktu tidur sekitar 1 jam .
Aku masih enggan untuk berdiri dari posisi tidurku .Aku kembali menutup mataku yang terasa sangat lengket seperti sudah di lem, namun panggilan dari salah satu staf membuatku mau tak mau harus kembali membuka mataku dengan paksa .
Aku berdiri dari kursi lipat itu , aku mulai melakukan beberapa peregangan agar tubuhku terasa sedikit lebih segar .
Setelah tubuhku mulai terasa lebih segar , kini aku beralih menatap Kak Nia yang merupakan Fashion stylist yang mempunyai tugas untuk menentukan setiap konsep pakaian yang harus ku kenakan di setiap adegan syuting.
" Apa syutingnya dipercepat lagi kak ? " Tanyaku pada Kak Nia .
Kak Ani mengangguk " Iya tapi tenang aja Li sutradara bakal ngasih waktu 1 jam untuk waktu sarapan "
" Mendingan kamu ganti baju sekarang Li , supaya setelah itu kamu bisa sarapan" Ucap Kak Nia , aku hanya bisa menganguki setiap ucapan Kak Nia .
Kini aku mulai mengikuti langkah kaki kak Nia yang sudah bergegas menuju ruang busana .
Setelah sampai di ruangan itu , Kak Nia langsung memberikanku dress black and white dari brand Balmain yang harganya mencapai 26 juta .
Sesuai dengan peran karakterku di drama yang merupakan seorang anak mafia terkaya didunia , jadi aku diwajibkan untuk selalu mengenakan pakaian - pakaian bermerk dengan harga fantastis di setiap adegan scene untuk menjiwai karakter tokoh .
Aku mulai mengambil dress itu dari tangan kak Nia , kini aku bergegas menuju ruang ganti yang jaraknya bersebelahan dengan ruang busana.
Aku melihat pantulan tubuhku dicermin , ternyata sangat pas dengan balutan dress itu .
"Cantik kok " Gumam ku pada diri sendiri .
" Emang udah cantik dari lahir kok " Ucap seseorang dari arah belakangku .
Aku langsung berteriak kegirangan melihat sosok pria yang baru saja datang itu .
Pria itu menghampiriku dengan membawa sebuket bunga mawar kesukaanku .
Aku langsung memeluk pria itu , melepaskan kerinduan yang berhari - hari ini menghantuiku .Kami memang jarang ketemu dikarenakan sibuk dengan pekerjaan masing - masing .Dilan yang sibuk mengerjakan album solo terbarunya membuatnya jarang mengunjungi ku ke lokasi syuting.
Pria bertubuh jangkung dengan selisih 11 cm lebih tinggi dari tubuhku membuatku harus sedikit berjinjit untuk mensejajarkan tubuh kami .
Dilan sedikit membungkuk agar aku lebih mudah memeluknya .Pria itu mulai lebih mempererat pelukannya .
" Ekhem , ekhem , EKKKHEEEMMM " suara toa itu langsung membuat ku dan Dilan melepaskan pelukan kami dengan tiba - tiba .
Kami berdua serentak menoleh kearah sumber suara , aku tersentak kaget saat melihat pria yang baru saja datang adalah Joan .
Aku sama sekali tidak ingat jika Joan akan datang pagi ini .
Joan menatap Dilan dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh siapapun , pria itu kemudian tersenyum simpul kearah Dilan .
Joan mengulurkan tangannya kearah Dilan "Perkenalkan saya Joan Arkan Rivenno , CEO dari PT .IT Rivenno Group .Saya adalah partner bisnisnya Liza "Ucap Joan memperkenalkan dirinya.
Aku sangat merasa lega karena Joan tidak mengatakan bahwa kami pernah dijodohkan .Yang membuatku lebih merasa lega yaitu karena pria itu tidak mengatakan tentang sesuatu yang terjadi pada malam itu
Dilan tak berekspresi dirinya hanya menunjukkan senyuman pada Joan ,ia tahu jika Joan bukanlah tandingannya .
" Senang bertemu dengan anda pak Joan, perkenalkan saya Dilan Alexi " Sapa Dilan dengan senyuman ramahnya .
Joan tersenyum tipis tanpa membalas ucapan Dilan , kali ini beralih menoleh ke arahku .
Joan menyodorkan sebuah bingkisan yang dibawanya kepadaku .Ia tak berucap tangannya masih setia menyodorkan bingkisan itu ke arahku .
Aku belum mengambil bingkisan itu dari tangannya , aku hanya mengernyitkan dahiku kearahnya .
" Ini obat pelangsing untukmu , anggap saja sebagai rasa terima kasih saya karena kamu sudah bersedia melakukan kerja sama " Jelas Joan , dengan cepat aku mengambil bingkisan itu dari tangannya .
Joan tersenyum puas seraya mengedipkan matanya kepadaku , Dilan yang menyaksikan hal itu hanya menatapku dengan penuh tanda tanya .
" Kalian pasti belum makan kan ? " Tanyaku mencoba mengalihkan perhatian keduanya .
" Belum " Jawab Dilan dan Joan secara serentak .
" Gimana kalo kita bertiga makan bareng ? " Tanyaku yang langsung membuat Dilan menatapku dengan tajam , mungkin saja ia tidak suka jika aku mengajak pria lain untuk makan bersama .
Aku tak menghiraukan Dilan , aku lebih fokus menatap kearah Joan .Jujur saja aku tidak ingin jika Joan merasa cemburu kepada Dilan , bukan karena aku mempunyai perasaan kepada Joan justru aku tidak ingin Jika Joan sampai mengusik kehidupan Dilan hanya karena diriku .
" Bagaimana kak , apa kakak mau makan bersama ? " Tanyaku meyakinkan Joan .
Joan mengangguk penuh semangat "Tentu saja Li , pagi ini aku belum sempat sarapan " .
Aku tersenyum puas mendengar jawaban dari Joan , kini aku beralih menatap Dilan yang masih memasang ekspresi datarnya .
Dilan menatapku dengan tatapan kesal , jarang - jarang aku melihat Dilan bersikap se posesif ini .
Aku menatap Dilan berusaha meyakinkan dia untuk ikut makan bersama , namun hasilnya nihil pria itu masih kekeh dengan pendiriannya .
" Dilan kalo Lo nggak mau ikut , nggak papa kok gue bisa pergi berdua aja sama Liza " Ancam Joan yang membuat pertahanan Dilan runtuh seketika .
" Siapa bilang gue gak mau ikut ? Yuk kita pergi sekarang cacing diperut gue udah kelaparan dari tadi " Jawab Dilan dengan sewotnya , ia dengan cepat bergegas keluar dari ruangan itu mendahuluiku dan Joan .
Aku berlari menghampiri Dilan diikuti Joan yang terus mengikuti setiap langkah kakiku .Sepertinya pria itu tidak ingin jika aku dekat - dekat dengan Dilan .
Hanya memakan waktu kurang lebih 2 menit , kini kami telah sampai diruang parkir khusus mobil .
" Pake mobil gue aja yah " Ucap Joan yang lagi - lagi membuat Dilan menatap pria itu dengan tatapan tajam .
Aku hanya mengangguk , kini aku mengikuti langkah Joan yang mulai berjalan ketempat dimana ia memarkirkan mobilnya ,diikuti Dilan yang sedang berjalan malas dibelakang ku .
Joan mulai memasuki mobil mewahnya , tadinya ia memintaku untuk duduk disampingnya disebelah kursi pengemudi , namun aku menolak , untung saja Dilan peka dan mau menggantikan posisiku untuk duduk didepan .
Joan mulai melajukan mobilnya menuju restoran yang tidak jauh dari tempat syuting ku , selama perjalanan tak ada obrolan kami bertiga sibuk dengan aktivitas masing - masing.