
"Baiklah, aku akan membuktikannya," jawab Jakson, masih dengan tatapannya yang dalam. Dia kemudian bangkit hendak keluar dari ruangan itu.
Namun sebelum benar-benar pergi, Jakson kembali berucap ...
"Aku hanya ingin baby Bryan bahagia. Denganku dia pasti asing, karena itulah aku ingin kita bersama. Karena Arkan pun tidak menginginkan mu dan baby Bryan," ucap Jakson pula, kini kedua matanya nampak sayu, berusaha untuk mengambil simpati wanita baik hati itu.
Tapi sungguh, Aleia tak tergerak sedikitpun hatinya untuk terpedaya dengan semua kalimat Jack.
Terlebih Aleia pun tahu, jika selama ini Jack memasukan salah satu anak buahnya ke rumah Arkan. Bertindak dengan licik hanya untuk bisa menang melawan pria itu.
Aleia tahu saat Rayden menyelidiki semuanya. Dan kini anak buah Jakson itu sudah dikeluarkan dari rumah Arkan.
Aleia hanya diam, hanya tatapannya yang dia buat jadi semakin dingin.
Dan disaat Jack benar-benar keluar dari ruangan itu, Aleia dengan segera membuang nafasnya lega.
"Bryan," lirihnya, menerawang nasib sang anak yang malang. Tapi kemudian Aleia menggeleng, percaya tidak pernah ada yang namanya kemalangan dari sebuah kehidupan.
Baby Bryan mungkin lahir dengan cara yang salah, tapi bayi itu tetaplah suci, tetaplah berhak untuk mendapatkan hidup yang baik.
Dan Aleia akan memberi itu semua.
"Diora, ayo kita akhiri ini semua, pergilah dengan tenang dan aku akan menghapus semua rasa benci ku, jadi tolong, tolong bantu aku untuk mendapatkan anak kita. Baby Bryan harus menjauh dari Arkan yang tidak mengininkan dia, dari Jack yang licik," ucap Aleia dengan lirih, seolah bicara dengan Diora yang telah tiada.
Juga mengatupkan kedua tangannya membuat permohonan pada Tuhan. Semoga apa yang dia ucapkan ini jadi nyata.
Di tempat lain.
Di seberang jalan gedung kantor Aleia, Arkan sudah berada di dalam mobilnya. Cukup terkejut saat melihat Jakson keluar dari gedung itu.
Tapi karena kini dia membawa baby Bryan, Arkan tidak bersikap gegabah. Dia tetap berada di dalam mobilnya dan memperhatikan.
"Jer," panggil Arkan.
Jerry yang duduk di kursi kemudi pun dengan cepat menyahut ...
"Iya Tuan."
"Kirim saja hasil tes DNA nya ke perusahaan pria itu dan katakan jangan bermimpi bisa memilki Aleia."
Sesaat hening, sampai suara baby Bryan memecah sunyi itu.
"Daddy, mom," ucapnya dengan menunjuk-nunjuk gedung di depan sana.
"Benar baby, Mommy memang ada disana, tapi kita belum bisa menemuinya."
"No, i want mom, mom, mommy," balas baby Bryan dengan sangat menggemaskan.
Dulu bayi itu jadi pelipur laranya Aleia, dan kini gantian Arkan.
"Kita pulang dulu, ini waktunya kamu tidur siang," jelas Arkan.
Mobil itu kembali melaju dan di setengah perjalanan mereka baby Bryan sudah terlelap.
Dengan menggendong sang anak, Arkan masuk ke dalam rumah. Disambut langsung oleh mama Elma.
Tiap Arkan pulang begini, mama Elma selalu berharap Arkan akan pulang bersama Aleia. Dia selalu menunggu setiap hari.
Tapi hari ini Arkan tetap pulang seorang diri.
"Ar, apa perlu mama menjemput Aleia?" tanya mama Elma, dia mengambil baby Bryan di gendongan sang anak.
Arkan tidak langsung menjawabi, dia tersenyum kecut.
"Tidak perlu Ma, aku lah yang akan membawa Aleia pulang," balas Arkan akhirnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya tetap Arkan sembunyikan rapat. Dia selalu meyakinkan bahwa hubungannya dengan Aleia baik-baik saja.
"Tadi baby Bryan juga sudah bertemu dengan Aleia." bohong Arkan.
"Benarkah?"
"Iya."
Mama Elma tersenyum lebar, senyum yang makin membuat hati Arkan jadi miris.