
Joan Pov
Aku mulai membuka mataku perlahan saat silau cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamarku .Aku melirik kearah sampingku dan ternyata istriku sudah tak lagi berbaring di sampingku .
" Sayang " Panggilku dengan nada lemas layaknya orang yang baru saja bangun tidur .
Aku pun membangunkan tubuhku yang masih terasa sangat ngantuk , aku mencari keseluruh ruangan itu .Aku benar - benar terkejut saat mendapati istriku sedang muntah- muntah di toilet .
Sepertinya istriku sedang mengalami gejala morning sickness yang umumnya selalu terjadi pada ibu hamil yang baru memasuki trimester pertama .
Aku dengan cepat menghampiri istriku lalu memijat tengkuk lehernya , ia terus saja mengeluarkan semua isi cairan dari dalam tubuhnya .
" Apa perutmu terasa sangat tidak enak sayang ? " Tanyaku setelah Liza berhenti muntah .
Liza menoleh ke arahku , wajahnya benar - benar pucat .Dengan cepat aku menggendongnya ala bridal style dan kembali membaringkan tubuhnya di kasur .
" Aku ambilin air panas dulu yah supaya perut kamu agak enakan "ucapku hanya dibalas anggukan oleh Liza.
Dengan cepat aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air panas beserta beberapa vitamin ibu hamil .
" Tuan butuh apa ? " Tanya Bi mina , salah seorang pelayan yang sudah berumur diatas 50 tahunan .
" Ini bi, Liza lagi mual makanya aku mau bawain untuk dia air panas dan vitamin " Ucapku dengan nada sopan , kedua orang tuaku memang selalu mengajarkanku untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih tua meskipun mereka adalah pegawai ku sekalipun .
" Ya ampun kasian banget nona Liza ,tuan kalo butuh sesuatu panggil bibi aja , jangan tuan yang turun tangan sendiri ngambil sesuatu kedapur " Ucap bi Mina kepadaku .
Aku menggeleng seraya menampilkan sebuah senyuman " Enggak bi , kalo urusan Liza biar aku aja yang turun tangan sendiri " Jawabku meyakinkan Bi Mina .
" Ya sudah atuh Kalo itu memang maunya tuan , saya mah gak akan maksa , justru saya mah bangga punya majikan yang selain kasep ternyata juga sangat perhatian sama istrinya " Puji Bi Mina dengan mencampur adukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda.
" Bi Mina bisa aja , lagian kan sudah jadi kewajiban saya bi untuk memperhatikan istri saya apalagi Liza kan sedang berbadan dua , butuh perhatian yang ekstra ,hehehe " Ucapku seraya terkekeh pelan.
" Seperti na teh Tuan lagi fall in love with nona Liza " Ucap Bi Mina seraya menepuk bahu ku .
Aku hanya bisa tersenyum Malu- malu, sepertinya benar kata Bi Mina .Aku benar - benar sedang jatuh cinta pada wanita itu .
" Bibi bisa aja sih , ya udah aku ke kamar dulu yah bi kasian Liza nungguin nya kelamaan " Pamitku pada Bi Mina , dengan cepat aku kembali ke kamar dengan membawa nampan yang berisi segelas air panas beserta beberapa vitamin .
Aku benar - benar tak tega melihat istriku yang semalam sangat ceria berubah menjadi sangat muram begini , mungkin ia akan mengalami gejala ini selama 2 bulan ke depan .
Liza mulai terduduk menyandarkan kepala dan punggungnya di headboard , ia terus saja memijat kepalanya yang terasa pening .
Aku dengan cepat memberikannya beberapa vitamin , setelah ia meminum beberapa macam vitamin itu aku kembali memberikannya segelas air hangat yang langsung di teguk habis tak tersisa olehnya .
" Aku panggillin dokter aja yah sayang ? " Tanyaku yang langsung dibalas gelengan oleh Liza.
" Gak usah by , entar juga baikan kok " ucap istriku .
" Tapi aku gak tega ngeliat kamu seperti ini sayang " Ucapku seraya mengelus rambut istri ku yang terurai indah .
" Percaya deh sama aku , aku gak papa kok " Ucap Liza seraya meraih tanganku dan menatapku dengan tatapan meyakinkan .
" Ya udah kalo kamu memang yakin baik - baik aja , tapi kalo gak ada perubahan bilang sama aku yah sayang , aku gak bisa biarin kamu kenapa - Napa " Ucapku yang terdengar seperti sebuah ancaman .
" Iya suamiku sayang " Ucap Liza dengan senyuman manisnya , ah aku benar - benar meleyot melihat senyuman itu .
Aku membalikkan tubuhku agar tidak terlihat seperti orang yang kebucinan , kini aku beralih mengambil sesuatu didalam laci .
Aku mengambil sebuah dompet bermerk Dior yang sudah ku pesan dari Paris beberapa hari yang lalu .Aku langsung memberikannya kepada istriku yang sedang terduduk menatapku.
" Didalamnya ada sebuah Black card beserta beberapa kartu kredit, Debit beserta kartu ATM untuk memenuhi semua kebutuhanmu , aku akan mengisinya setiap bulan " Jelasku yang langsung membuat Liza menatapku dengan tatapan yang tak dapat diartikan .
" Gak usah by , kamu udah ngeluarin berapa miliar coba mulai dari cincin nikah ,biaya pernikahan , semua pakaian yang kamu siapkan untukku juga dari brand ternama bahkan sampai kaos kakiku juga bermerk Gucci.Dan yang paling aku gak bisa toleri yaitu karena kamu malah gantiin semua biaya penalti dari semua kontrak yang sudah ku batalkan secara sepihak , ini terlalu berlebihan buat aku " Ucap Liza seraya kembali memberikan dompet itu padaku .
Aku mengangkat wajah halus Liza menatap manik matanya yang indah itu " SEMUA HAL ITU GAK BISA MENGGANTIKAN MASA DEPAN KAMU YANG SUDAH AKU REBUT , KARIR YANG SUDAH SUSAH PAYAH KAMU GAPAI LI " Ucapku dengan menegaskan setiap perkataan ku.
Aku mulai meneteskan air mata saat mengingat betapa buruknya perlakuanku pada Liza malam itu , andai saja diriku tidak tersulut emosi mungkin hari ini Liza masih berada ditempat syuting untuk menggapai cita - citanya untuk menjadi seorang aktris internasional , berada disebuah award dengan mengenakan gaun indah , menyapa para fans yang selalu mendukungnya .
Namun hal ini justru berbanding terbalik , Liza malah terbaring lemah tak berdaya , ia bahkan tak bisa memasukkan sembarang makanan yang dahulu menjadi makanan favoritnya .
Di dunia ini orang yang paling aku benci adalah diriku sendiri .Bukan Dilan ataupun siapapun itu .