
Arkan menatap Aleia dengan tatapan yang tidak pernah bisa Aleia baca.
Kedua matanya nampak sayu dan tajam sekaligus.
1 langkah Arkan masuk ke dalam kamar itu, Aleia pun langsung bangkit dari duduknya.
Sama-sama melangkah dengan tujuan yang berbeda, bukan saling menemui.
Sama-sama meraskan sesak di dada dan memendamnya sendiri. Ingin diucapkan namun kadang kata yang keluar malah lain, bukannya meredam tapi malah semakin menyulut api yang menyala.
Aleia tidak bersuara, mengambil baju gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Arkan duduk di tepi ranjang, mengarah pada pintu kamar mandi yang tertutup. Dia membuang nafasnya dengan kasar, tapi tetap saja beban dalam hatinya sedikit pun tidak berkurang.
Kata papa Danu, manusia tidak ada yang sempurna, karena itulah mereka butuh orang lain untuk saling menyempurnakan.
Pernikahan bukan hanya dijalani oleh 1 orang, tapi 2. Kadang kita selalu ingin dimengerti, sampai lupa bagaimana jika kita jadi dia.
Arkan kembali mengingat kejadian sekitar 1 tahun lalu, saat dia dan Aleia mengucapkan janji suci di hadapan tuhan dan keluarga. Mulutnya berjanji untuk selalu membahagiakan Aleia, tapi hatinya bersumpah untuk membuat hidup wanita itu seperti di neraka.
Sejak awal pernikahan ini sudah salah.
Sampai tabir masa lalu kembali terkuak satu per satu, dan ternyata bukan hanya hidup Aleia yang seperti di neraka.
Arkan pun kini merasakan hal yang sama, kecewa, marah, malu, semua rasa menyakitkan itu dia tanggung saat ini.
Lamunan Arkan buyar saat melihat pintu kamar mandi itu terbuka. Melihat Aleia yang sudah menggunakan baju tidurnya, celana panjang dan baju setinggi siku. Rambutnya tergerai panjang, sebagian menutupi wajahnya yang sembab.
Lidah Arkan terasa sangat kelu untuk bicara lebih dulu.
"Leia," panggil Arkan akhirnya, saat Aleia sudah duduk di depan meja riasnya dan menyisir rambut.
Dan merasakan hati yang nyeri saat mendengar Arkan mengucapkan 1 kata ...
"Maaf," ucap Arkan.
1 kata namun seperti hujan deras yang jatuh dihati gersang Aleia.
Wanita itu masih diam, menggigit bibirnya sendiri dengan kuat. Maaf yang Arkan ucapkan entah maaf untuk yang mana.
Pria itu terlalu banyak menorehkan luka.
"Besok, aku akan mengantar mu pulang ke rumah mommy Jia. Aku akan menyelesaikan semua masalah tentang baby Bryan sebelum menjemput mu kembali."
Entah apa maksud Arkan mengucapkan itu, tapi tetep saja terasa sesak di hati Aleia. Tapi sekarang Aleia tak ingin mereka bertengkar, dia coba bertanya dengan nada yang pelan juga. Bahkan dia pun berbalik dan membalas tatapan Arkan.
"Apa yang mau kamu lakukan tentang baby Bryan? sekarang dia adalah anakku," balas Aleia lirih, membahas baby Bryan selalu membuat hatinya teriris.
Aleia melihat Arkan yang menggeleng pelan.
"Dia bukan anak kita," putus Arkan dan saat itu juga jatuh lagi air mata Aleia.
Terus saja begini, mencoba kuat tapi berakhir lemah. Sangat lemah.
"Ceraikan saja aku Ar, aku akan membesarkan baby Bryan sendiri," pinta Aleia dengan air mata yang mengalir deras.
"Ceraikan saja aku Ar," mohon Aleia, dia bahkan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ceraikan saja aku," ucapnya sekali lagi, tentang baby Bryan tak bisa dia rundingkan.
Anak itu tidak bersalah.