Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 47 - Semakin Menggebu



3 hari ini Arkan selalu gagal untuk menemui Aleia, kadang Arion dan Aaron yang mendampingi, kadang Rayden dan kadang Alden.


Nona muda keluarga Carter itu tidak pernah ditinggal sendirian. Andai seorang bodyguard yang menjaganya, Arkan masih bisa melawan. Tapi jika saudara pria istrinya itu Arkan tak berkutik.


Sadar posisinya teramat salah.


Daddy Alex bahkan sudah mengirim surat perceraian itu di ke perusahaannya.


Sementara keluarganya sendiri pun selalu bertanya-tanya dimana Aleia? kenapa Aleia tidak pulang?


Dan baby Bryan mulai terbiasa dengan aroma keringat Arkan.


Dan di hari ke 4 akhirnya Jerry menyelesaikan semua pekerjaannya tentang tes DNA. Dari 10 sampel yang di uji tak ada satupun yang identik dengan baby Bryan.


Bahkan sampel milik Jakson pun negatif.


Arkan terduduk lesu di kursi kerjanya, menerawang apa yang telah dilakukan oleh mendiang istrinya sebelum mereka menikah.


Bertanya-tanya siapa sebenarnya ayah baby Bryan.


"Bagaimana Tuan?" tanya Jerry, setelah dia melaporkan semunya sang Tuan belum juga memberikan tanggapan.


Tapi pertanyaan Jerry itu tidak membuat Arkan tersadar dari lamunannya sendiri, yang berhasil membuat lamunan itu buyar adalah suara bayi kecil yang kini duduk di atas pangkuannya ...


"Daddy," panggil baby Bryan dengan senyumnya yang begitu riang. Tiap kali baby Bryan tersenyum seperti itu nampak dua gigi kelincinya.


Arkan tidak menjawab apapun, hanya kemudian ikut tersenyum.


"Hentikan semua pencarian, secara hukum baby Bryan adalah anakku. Jika suatu saat nanti ayahnya datang dia tak akan bisa mengambilnya dengan mudah," ucap Arkan.


"Baik Tuan." jawab Jerry patuh.


Sementara itu di tempat lain.


Jakson mengunjungi perusahaan Aleia setelah semua luka di wajahnya pulih, luka akibat pukulan membabi buta Arkan beberapa hari lalu.


Aleia bahkan sangat terkejut ketika pria itu berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.


Aleia sangat gugup, terlebih tiap kali dia melihat wajah pria itu langsung membuatnya teringat akan baby Bryan.


"Tuan Jakson," sapa Aleia, dia bangkit dari kursi kerjanya dan menyambut. Memberi isyarat untuk mereka berdua duduk di sofa.


"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Aleia pula, saat ini masih jam kerja dan dia terus bersikap profesional.


Tapi Jakson datang ke sini bukan untuk membicarakan tentang pekerjaan, tapi membicarakan tentang mereka ...


"Arkan sudah menyerahkan baby Bryan padaku, bercerai lah dengan dia dan ayo kita besarkan baby Bryan bersama," ucap Jakson, saat mengatakan kalimat itu kedua matanya menatap lurus pada Aleia.


Dia bahkan melihat jelas, dua mata indah itu yang terlihat cemas.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Jakson benar-benar membuat dada Aleia sesak. Bagaimana bisa Arkan benar-benar menyerahkan baby Bryan pada Jakson.


"Maaf Tuan, Apa maksud anda bicara seperti itu? Kenapa Arkan harus menyerahkan baby Bryan kepada anda? dia adalah anak kami," jawab Aleia, tak peduli betapa takutnya dia namun Aleia terus mencoba tegar.


Sampai detik ini hatinya masih berat pada bayi itu.


"Berhentilah bersandiwara Leia, kamu juga tahu jika baby Bryan bukanlah anak kandung Arkan, dia adalah anakku."


Deg!


"Tidak," balas Aleia cepat.


"Tentang baby Bryan, saya tidak akan mempertaruhkan dia. Jika apa yang anda ucapkan adalah benar, mana buktinya?" tuntut Aleia.


Ada satu sisi Jakson tersentak ketika mendengar jawaban itu, namun di sisi hatinya yang lain, Aleia semakin terlihat menarik dimatanya.


Rasa ingin memiliki itu jadi semakin menggebu.