Forced Marriage

Forced Marriage
Protect You



Zea tersenyum simpul saat melihat Liza yang terlihat sedang berbicara dengan Joan .


Joan melambaikan tangannya kearah Zea yang berhenti diambang pintu ruangan kamar rawat Liza .


" Halo Tante , udah lama yah kita gak ketemu " Sapa Joan sembari menyalami tangan Zea saat wanita bertubuh bak model itu berdiri disampingnya .


Zea tersenyum menunjukkan sederetan gigi putihnya " Selamat Joan bentar lagi kamu jadi seorang ayah " Zea menepuk pelan bahu Joan .


Joan tersenyum kikuk " Tante juga bentar lagi jadi seorang nenek " Gombal Joan .


Zea terkekeh seraya kembali menepuk bahu Joan .Kini Zea beralih menatap putrinya yang sedari tadi menundukkan kepalanya .


Zea mengangkat wajah Liza agar mau menatap kearahnya ."Li berhentilah menangis seharusnya kamu itu seneng sayang kan bentar lagi kamu bakal punya baby , ya kan Joan ? "


Joan mengangguk " Iya Li seharusnya kamu bersuka cita bukan berduka kek gitu " imbuh Joan yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Liza .


 


Zea mulai menghapus air mata yang membasahi pipi anaknya itu " Udah yah nangisnya , kasian cucu mamah entar ikutan stress lagi " Zea beralih mengusap perut Liza yang masih terlihat rata .


Liza menoleh kearah mamahnya itu " Mah , Liza gak mau nikah sama kak Joan" Pinta Liza dengan nada memohon .


Zea menggeleng pelan " Gak bisa sayang , kamu harus nurut ini semua demi kebaikan kita bersama " Ujar Zea seraya mengelus rambut panjang Liza yang terurai dengan indah .


Liza hanya terdiam,ia beralih menatap ke arah Joan " Kak , tolong keluar dulu ada hal penting yang pengen aku omongin sama mamah " 


Joan menanggapi Liza dengan senyuman khasnya " Baiklah aku keluar dulu yah Tan " Pamit Joan sebelum keluar dari ruangan itu .


" Iya Joan, tante ngobrolnya bentar kok karena masih banyak urusan yang harus Tante selesaikan diperusahaan " 


Joan mulai melangkahkan kakinya keluar meninggalkan sepasang ibu dan anak itu .


Zea dan Liza menatap punggung Joan yang mulai menghilang dari pandangannya , Zea langsung menutup pintu ruangan itu agar tak ada menguping obrolan mereka .


Setelah menutup pintu dengan rapat , Zea kembali mendekati putrinya yang masih terbaring di ranjang .


Plak .....satu tamparan mendarat mulus di pipi tirus Liza yang membuat wanita itu sontak meringis kesakitan .


" Apa kamu udah gila hah , jelas - jelas Joan udah ngambil masa depan kamu .Apalagi yang kamu harapkan sekarang , apa kamu masih berharap meneruskan karier kamu sebagai seorang aktris hah ? " Bentak Zea yang membuat tubuh Liza langsung gemetar ketakutan .


Liza sudah biasa mendapatkan perlakuan kasar dari wanita yang telah melahirkannya itu .Bahkan saat umurnya masih 8 tahun pun ia sudah mendapatkan beberapa memar dan luka ditubuhnya akibat kekerasan yang dilakukan Liam dan Zea kepadanya .


Liza kembali menitikkan air matanya bibirnya gemetar ketakutan " Ma..Afin ...Lizaa mah..." Ucap Liza terbata - bata .


Zea tak menggubris ucapan anak  semata wayangnya itu , yang paling penting baginya sekarang adalah memaksa Liza menikahi Joan dengan cara apapun .


Kesabaran Zea sudah habis ,kini tangannya beralih mencekik Liza dengan perlahan - lahan .


" Apa kamu masih mau menolaknya hah , seharusnya kamu tau Li apa yang akan papa kamu lakuin sama mamah kalo kamu sampai nolak perjodohan ini " Zea semakin memperkuat cekikkannya yang membuat Liza kesakitan dan sulit bernapas .


"CUKUP TANTE ! " Teriak seseorang yang baru saja masuk dengan tiba - tiba .


Zea melirik kearah belakang tepatnya ke sumber suara .Wanita itu membulatkan matanya melihat sosok yang baru saja masuk keruangan itu adalah calon menantunya , Joan .


Joan menghampiri Liza yang kelihatan sulit bernapas meskipun cengkraman tangan Zea sudah lepas dari lehernya .


 Joan menahan tubuh Liza yang sekarang ini dalam kondisi sangat lemah , napas wanita itu tersenggal - senggal .


Joan menekan tombol darurat yang ada di ruangan itu , tak membutuhkan waktu lama seorang seorang dokter beserta para perawat mulai menangani Liza .


Joan dan Zea mulai keluar dari ruangan saat dokter memerintahkan mereka untuk menunggu diluar saja.


" Apa Tante puas terus - terusan ngelakuin kekerasan sama Liza ? " Joan sedikit menaikkan nada suaranya .


Zea hanya terdiam tak menggubris pertanyaan dari Joan .Wanita itu hanya terdiam seraya menatap lurus ke arah depan , menghiraukan Joan yang sedang duduk disampingnya .


Tanpa Zea dan Liza sadari bahwa semenjak Joan meninggalkan mereka berdua didalam ruangan , ternyata saat itu Joan pergi keruangan CCTV  untuk melihat segala perlakuan Zea kepada Liza .Namun sebelum itu Joan juga memasukkan alat penyadap suara kedalam tas Zea saat wanita itu menepuk bahu Joan.


Joan langsung lari marathon dari ruangan CCTV keruangan perawatan Liza yang jaraknya lumayan cukup  jauh .


Pria itu benar - benar ketakutan melihat Liza yang sudah kehabisan napas .Ia tak tahu apa yang akan terjadi kepada gadis malang jika saja Joan terlambat memasuki ruangan itu .


Joan mengusap wajahnya gusar , kali ia mulai berdiri dari posisi duduknya dan mulai berjalan mondar - mandir didepan pintu ruangan itu .


Tatapan Joan langsung fokus kearah dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu .


" Gimana dok ? " Tanya Joan dipenuhi rasa cemas .


" Kondisi pasien saat ini masih lemah , tuan Joan belum bisa membawanya pulang hari ini " Ucap Dokter itu lirih .


Mendengar penjelasan dari sang dokter , Joan melemparkan tatapan kesalnya kearah Zea yang masih duduk santai tanpa rasa bersalah sedikitpun .


" Apa pasien sudah bisa dijenguk dok ? "Tanya Joan mengalihkan kembali tatapannya .


Dokter itu tersenyum seraya mengangguk " Boleh , asalkan jangan membuat pasien sampai stress berlebihan karena itu akan membuat kondisinya kembali memburuk " 


" Baik dok " Joan tersenyum simpul seraya meninggalkan dokter beserta Zea yang masih terdiam diluar ruangan .


Joan mulai memasuki ruangan itu , dilihatnya Liza sedang berbaring membelakanginya .Wanita itu hanya menatap kosong kearah luar jendela .


 " Apa kamu baik - baik saja Li , apa terasa sakit banget Li ? " Ucap Joan seraya memeluk tubuh Liza dari arah belakang .


Liza masih setia terdiam , pandangan matanya sangat kosong .Pikirannya saat ini entah berada dimana .


" Tenang saja Li , aku bakal ngelindungin kamu dari siapapun sekalipun dia orang  yang ngelahirin kamu .Jika mereka berani nyentuh kamu meskipun hanya sehelai rambut, akan kubuat mereka menyesal seumur hidup " Bisik Joan yang masih bisa terdengar oleh Liza .


Liza tersadar dari lamunannya dengan cepat ia membalikkan tubuhnya menghadap Joan .


Wajah wanita itu sangat sembab ditambah lehernya yang memerah akibat cengkraman keras jari jari Zea .


Joan mengusap wajah Liza dengan sangat lembut , pria itu menghapus setiap butiran - butiran air mata yang keluar membasahi pipi Liza .


" Kak Joan " Panggil Liza lirih .


" Tolong bawa aku pergi jauh dari tempat ini , aku gak mau ngeliat mamah ataupun papah " Pinta Liza lirih .


Joan menatap wanita itu dengan sangat dalam , sehingga manik matanya bertemu dengan manik mata Indah Liza .


" Tenang saja Li , tanpa kamu minta pun aku akan membawa kamu secepatnya  dari sini " 


Liza tersenyum simpul mendengar perkataan Joan , ia yakin Joan bisa melindunginya dari siksaan kedua orang tuanya itu .Dimatanya Joan adalah satu - satunya orang yang bisa ia percayai , melindunginya dari marabahaya apapun .


" Aku pengen nikah dengan kakak , aku pengen ngelahirin bayi ini " Liza mulai memegangi perutnya dengan ekspresi wajah yang sangat serius .


Joan membulatkan matanya tak percaya dengan semua yang diucapkan wanita itu " Apa kamu serius dengan semua omongan kamu itu Li? " 


Liza mengangguk dengan senyuman tipisnya " Iya kak , aku akan mempercayakan hidupku beserta hidup anakku kepada kakak " 


Joan tak dapat membendung rasa kebahagiaannya air matanya menetes begitu saja , tubuhnya refleks menarik Liza kedalam pelukannya .


" Makasih Li, aku janji bakal ngebahagiain kalian berdua " Ucap Joan penuh rasa syukur.