
"Tuan, nyonya Aleia sudah bergerak ke lokasi acara," lapor Jerry, melalui sambungan telepon yang terhubung di antara dia dengan sang tuan.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, Arkan masih berada di rumah dan menghabiskan waktunya bersama dengan baby Bryan. anaknya yang selalu berucap mom mom mom terus.
Jika Arkan tidak mengalihkan perhatiannya, maka baby Bryan akan menangis.
Sulit untuk menemui sang istri di tempatnya bekerja maka Arkan pun memutuskan untuk menemui Aleia di tempat acaranya berlangsung. Aleia selalu mendatangi event yang dia tangani.
Arkan sangat rindu, rasanya tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak bertemu. Karena itulah dia melakukan segala cara.
Sore ini ada sebuah acara pertunangan yang Aleia tangani, acara itu berlangsung di Lin Luxurious Hotel.
"Daddy pergi dulu sebentar sayang, daddy akan membawa mommy pulang," ucap Arkan, bicara dengan baby Bryan yang masih terlelap. Bayi itu tidur sejak 1 jam yang lalu.
Dengan mengemudikan mobilnya seorang diri, Arkan segera menuju hotel LLH.
Berhenti di basement hotel itu Jerry menghampiri.
"Ini seragamnya Tuan," ucap Jerry, dia mengulurkan sebuah paper bag pada sang tuan.
Di dalam paper bag itu berisi seragam pegawai di kantor Aleia. Seragam untuk mengelabui penjaga Aleia hari ini, yaitu sang adik Alden Carter.
Tanpa banyak kata Arkan pun mengganti bajunya di dalam mobil, menggunakan masker dan topi sekaligus.
Lalu masuk ke dalam hotel itu layaknya bagian dari acara yang berlangsung di hotel ini.
Sementara Jerry mengawasi dari jauh.
Arkan menuju lantai 8, mendatangi ballroom acara. Pintu itu masih terbuka lebar karena tamu baru saja berdatangan. Acara akan dimulai tepat di jam 6 sore.
Tanpa canggung sedikit pun Arkan masuk ke dalam sana, beberapa pekerja yang bertugas dalam acara itu tidak menaruh curiga sedikitpun pada Arkan. Semuanya sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Sementara Arkan terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.
Sampai akhirnya tatapan dia tanpa sengaja bersitatap dengan Alden.
"Tuan, tuan Alden sudah keluar dari ballroom itu," ucap Jerry, mereka terhubung melalui sambungan telepon, ada sebuah airbuds yang terpasang di telinga kiri Arkan.
Arkan segera berbalik dan melihat Aleia di ujung sana. Benar saja, Alden tidak terlihat lagi.
Jantungnya bergemuruh, debar menggebu. Seperti berjalan secara otomatis, Arkan pun mendekati sang istri.
"Nyonya, ada sedikit masalah," ucap Arkan dengan kepalanya yang menunduk.
Aleia tersentak, dia sangat mengenal suara itu.
Sementara orang yang baru saja bicara dengan Aleia pun menyingkir, merasa urusan mereka telah usai.
"Angkat wajah mu," titah Aleia, seragam ini adalah seragam anak buahnya yang bertanggung jawab untuk acara ini, karena itulah Aleia berani memberikan perintah.
Dan Arkan benar-benar mematuhi keinginan Aleia itu, dia bukan hanya mengangkat wajah, tapi juga melepas masker dan topinya.
Deg! Aleia sangat terkejut. Tapi wanita cantik itu tidak bereaksi apapun, hanya kedua matanya yang nampak lebih membola.
Aleia tidak ingin ada keributan, jadi dia putuskan untuk pergi lebih dulu.
Tapi rindu yang Arkan rasakan tidak bisa melepas Aleia pergi begitu saja. Sebelum wanita itu sempat melangkah, Arkan sudah lebih dulu menarik Aleia untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Brak! pintu itu tertutup.
Aleia menarik tangannya kuat hingga terlepas.
"Lepas!" pekik Aleia, lalu seketika dia mundur saat melihat Arkan bersimpuh di hadapannya.
"Maafkan aku Leia," ucap Arkan lirih, pandangannya menatap lantai. Ruangan yang sunyi ini membuat suaranya terdengar begitu jelas.
Aleia mundur selangkah, menatap jelas kepala yang sedang menunduk itu.