Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 35 - Tidak Bisa Gegabah



"Dimana Arkan?"


Satu pertanyaan itu akhirnya terlontar oleh mama Elma, dia telah pulang dari pertemuannya dengan sang sahabat.


Tiba di rumah jam 4 sore.


Dia melihat Aleia tidur bersama baby Bryan dalam 1 ranjang yang sama di dalam kamar bayi itu. Meski terdiri nampak jelas jika kedua mata yang semantu membengkak, mengisyaratkan jika Aleia tertidur setelah menangis deras.


Sementara Arkan tidak terlihat dimana pun, padahal mobil anaknya itu sudah ada di garasi.


"Tuan Arkan ada di ruang kerja Nyonya, sejak pulang dari rumah sakit beliau berada di sana terus, belum keluar hingga sekarang."


Mama Elma melihat jam, berarti sudah sekitar 5 jam anaknya itu ada disana.


"Dia tidak makan siang?"


"Tidak nyonya."


"Aleia?"


"Tidak juga, dia hanya meminum segelas air putih. Kata nyonya Aleia perutnya merasa tidak nyaman."


"Apa mereka bertengkar?"


"Ti-tidak nyonya."


"Jawab yang benar."


Pelayan itu terdiam, langsung menundukkan wajah.


Dan mama Elma hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar. Hanya bisa mengadu kegundahan hatinya tentang rumah tangga Arkan pada sang suami.


Sementara papa Danu hanya diam. Sama seperti dia dulu yang tak pernah ingin masalah rumah tangganya di ketahui para orang tua, papa Danu pun kini tidak tahu harus menanggapi apa.


Karena baginya Arkan dan Aleia akan menentukan sendiri apa yang terbaik untuk mereka.


Namun melihat sang istri yang begitu gundah, akhirnya papa Danu hanya mengangguk. Mengiyakan jika nanti dia akan bicara dengan Arkan.


Alangkah terkejutnya Aleia ketika dia keluar dari dalam kamar mandi itu sudah melihat mama Elma dengan banyak makanan di atas meja sofa yang ads di kamar ini.


"Sini makan dulu, biar mama suapi," ucap mama Elma, saat itu Aleia menggunakan handuk kimono dan langsung ditarik mama Elma untuk makan.


"Nanti saja pakai bajunya, makan dulu. Sejak siang tadi kata bibik kamu tidak makan, katanya juga perutmu sakit. Jadi sekarang makan, setelahnya mama akan oles perutmu menggunakan minyak kayu putih."


Aleia kehabisan kata-kata, hanya menahan sesak di dada karena menahan tangis. Berulang kali dia berkedip, menahan air mata agar tidak jatuh.


Mama Elma sangat menyayangi dia dan hal itu makin membuatnya sulit. Padahal ketika mandi tadi, Aleia sudah merencanakan diri untuk kabur.


"A," ucap mama Elma ketika 1 sendok makanan sudah siap.


Aleia menurut, dia membuka mulutnya dan menerima suapan itu.


Makan dalam keadaan seperti ini rasanya begitu sulit, karena tiap kali mengunyah makanan ada saja air mata yang siap jatuh.


Aleia kira mama Elma tidak melihat kesedihan itu, tapi dia salah.


Mama Elma bisa melihatnya dengan jelas.


Tapi mama Elma tidak bicara apa-apa, terus pura-pura tidak mengetahuinya.


"Nah, sekarang pakai baju mu, pakai yang hangat. Langsung istirahat, malan ini biar baby Bryan mama yang temani," ucap mama Elma, ketika semua yang ingin dia lakukan telah selesai. Menyuapi Aleia makan dan memberinya minyak kayu putih. Sebelum pergi mama Elma juga mencium kening Aleia yang masih duduk di sofa, mengelus puncak kepal sang menantu.


Dengan bibir yang tersenyum teduh, mama Elma keluar dari dalam kamar itu.


"Hah," Aleia membuang nafasnya dengan kasar, menatap kosong pada sembarang arah.


Dalam keadaan seperti ini, sepertinya dia tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan.


Masih duduk disana dengan tatapan kosong, tiba-tiba lamunannya buyar saat mendengar suara pintu kembali terbuka.


Melihat Arkan datang ...


Deg!