
3 bulan telah berlalu semenjak Arkan dan Aleia kembali bersama.
Jakson tak berkutik untuk mendapatkan Aleia, semenjak hasil tes DNA nya dengan baby Bryan dikirim ke perusahaan.
Langkahnya kembali terhenti saat mengetahui kabar bahwa Arkan dan Aleia rujuk.
kebahagiaan kedua orang itu tentu sangat melukai hatinya, satu-satunya cara yang bisa Jakson lakukan untuk memecah rumah tangga itu adalah mencari tau siapa ayah baby Bryan yang sesungguhnya.
Tapi sekeras apapun dia mencari, pelakunya tetap juga tidak dia temui.
Dan meski pun sudah memberi restu, bukan berati daddy Alex menerima Arkan dengan mudah. Tiap kali mereka bertemu, daddy Alex masih saja memperlakukan dingin sang menantu.
Seperti malam ini, saat Aleia, Arkan dan baby Bryan berkunjung ke rumah daddy Alex untuk makan malam bersama.
Dan setelah makan malam itu usai, mereka semua duduk di ruang tengah.
Daddy Alex hanya bicara dengan Aleia dan baby Bryan, bahkan menggendong bayi itu juga, baby Bryan yang mulai bisa berlari dengan aktif.
Tapi pada Arkan, daddy Alex melirik pun tidak.
"Tangkap!" ucap Daddy Alex dengan antusias, dia melempar bola pada baby Bryan. Tapi bola itu tidak berhasil di tangkap dan malah masuk ke kolong meja.
Baby Bryan hendak masuk ke kolong itu hingga membuat semua orang tertawa.
Termasuk daddy Alex, opa-opa berwajah dingin itu.
"Dad, sebenarnya aku dan Aleia punya kabar bahagia untuk disampaikan," ucap Arkan, coba memulai pembicaraan diantara dia dan sang ayah mertua.
"Kabar apa Leia?" tanya daddy Alex pula, hingga membuat Arkan menelan ludah kasar.
Sementara mommy Jia, ingin sekali rasanya menjewer telinga sang suami. Telah banyak waktu yang terlewat, bahkan Arkan telah berubah begitu banyak, tapi suaminya itu tetap saja menyimpan dendam.
Susah sekali benci itu pergi.
Tapi Aleia hanya diam saja, tetap memberikan Arkan kesempatan untuk bicara.
"Aleia hamil Dad," jawab Arkan.
Seketika daddy Alex terdiam, tatapan yang awalnya tertuju pada baby Bryan berangsur pindah pada sang putri. Aleia yang saat ini duduk disebelah Arkan.
Aleia tersenyum, sementara daddy Alex menatap haru.
"Iya Dad."
"Peluk Daddy."
Aleia bangkit dan segera mengelus anaknya, di susul pula oleh mommy Jia yang memeluk keduanya.
Namun pelukan itu seketika lepas saat mendengar suara Arkan seperti mau muntah ...
"Huwek!"
Aleia buru-buru kembali pada sang suami ...
"Apa mual lagi?"
"Sedikit," balas Arkan lirih.
"Apa kamu sakit sayang?" tanya mommy Jia, menghampiri Arkan juga.
"Tidak Mom, Arkan tidak sakit, tapi dia yang mual saat aku hamil," terang Aleia, tersenyum kikuk.
Dan daddy Alex yang ikut mendengar penjelasan Aleia pun akhirnya bisa tersenyum lebar. Ternyata cucunya pun berpihak padanya.
"Baguslah, itu memang pantas kamu dapatkan," ucap daddy Alex, kini mommy Jia tak mampu lagi menahan diri, dia dengan segera menatap tajam sang suami.
Jangan macam-macam! itulah arti tatapan mommy Jia.
Tapi senyum daddy Alex tak bisa luntur, dia senang sekali melihat menantunya menderita.
Hampir jam 9 malam, Arkan dan Aleia pamit pulang. Saat itu wajah Arkan pun mulai nampak pucat, mommy Jia sangat khawatir, tapi daddy Alex tetap tidak peduli.
"Mom, Dad, kami pulang dulu ya," ucap Aleia.
"Iya sayang, urus suami mu dengan baik."
"Iya Mom."
"Lemah sekali," desis daddy Alex.
"DAD!" kesal Aleia dan mommy Jia.