Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 43 - Perasaan Yang Berubah



Arkan kira, dia tidak akan merindukan Aleia sampai seberat ini. Arkan kira dia bisa menghadapi semuanya seorang diri.


Di dalam keluarganya hanya dia dan Aleia saja yang mengetahui semua prahara parah ini, dan mengembalikan Aleia pada keluarganya ternyata membuat dia tak ada tempat untuk berbagi.


Tak ada yang tau diamnya karena apa.


Tak ada tempat untuknya bersandar.


Huh, Arkan membuang nafasnya dengan sangat berat. Kedua matanya masih terus menatap salah satu kamar di lantai 2 sana.


Sementara waktu terus berlanjut hingga menyentuh angka 8 malam.


Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari mama Elma.


Arkan mengangkatnya, apapun tentang mama Elma selalu jadi yang utama baginya.


"Halo Ar, Kenapa kamu dan Aleia belum pulang? kalian dimana?" tanya Mama Elma dengan suaranya yang terdengar sedikit cemas.


"Aku dan Aleia pergi ke rumah mommy Jia, Ma."


"Oh ya Tuhan, mama kira kemana? lain kali kalau kesana ajak baby Bryan bersama kalian, sekarang cepatlah pulang, baby Bryan menangis terus." terang mama Elma, Bukan dia tidak mengizinkan anak dan menantunya menginap di rumah utama keluarga Carter, tapi malam ini Baby Bryan terus menangis tidak tenang. padahal baby Bryan tidak demam, entah apa yang membuat baby Bryan begitu gelisah.


Sejenak Arkan terdiam, sampai akhirnya dia menjawab dengan satu kata ...


"Baiklah."


Panggilan itu pun mati, tapi Arkan tidak pulang bersama dengan Aleia. Dia hanya pulang seorang diri.


Jam setengah 9 dia tiba di rumah, benar seperti apa kata mama Elma, ketika dia pertama kali menginjakkan kaki masuk ke rumah ini suara tangis baby Bryan adalah yang pertama kali dia dengar.


"Dimana Aleia?" tanya mama Elma saat melihat sang anak datang seorang diri.


"Ada sesuatu hal yang terjadi, malam ini dia menginap di rumah mommy Jia."


"Ya sudah, temui dulu anak mu di kamarnya," balas mama Elma pula, meski banyak pertanyaan tentang Aleia namun mama Elma tahan, sekarang yang lebih penting ditangani adalah tentang cucunya.


Semoga bersama Arkan sang cucu kesayangan akan tenang. Selalu itu yang didoakan oleh mama Elma.


Sang pengasuh masih menggendongnya, berusaha melakukan segala cara agar baby Bryan tenang. Tapi bayi itu tetap menangis dan berontak.


"Berikan padaku," ucap Arkan, suaranya terdengar dingin, bahkan sang pengasuh pun merasa takut dengan suara itu.


Rasa yang dirasakan oleh sang bayi.


Tangan Arkan yang terulur makin membuat tangis bayi itu semakin kencang, dia tidak mau di gendong sang ayah. Baby Bryan butuh mommy nya, mommy Aleia.


"Diamlah, ini sudah malam. Orang juga butuh istirahat," ucap Arkan ketika bayi itu sudah berada di gendongannya.


Namun bukannya tenang, baby Bryan malah semakin berontak. Sampai mama Elma, papa Danu, Aisya dan Aina masuk ke dalam kamar ini. Menatap iba pada pemandangan itu.


Mereka pun tak bisa berbuat apa-apa, baby Bryan pun tak tenang dalam dekapan semua orang.


Sampai akhirnya di jam 11 malam baby Bryan tenang karena lelah dan haus, dia tidur dengan memeluk botol susunya sendiri.


Arkan duduk di tepi ranjang baby Bryan dan menyaksikan bayi itu terlelap. Ada sesak yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.


Mama Elma yang masih menemani pun mengelus pundak sang anak.


"Dia pasti merindukan Aleia," ucap mama Elma, nyaris berbisik. Tak ingin membuat suara ribut hingga bayi itu kembali bangun.


Arkan terdiam. Karena kini pikirannya semakin kacau. Semuanya selalu berjalan diluar rencana bagi Arkan.


Termasuk perasaan benci yang kini seolah berubah jadi iba.


"Aku keluar sebentar Ma," ucap Arkan, mama Elma mengangguk.


Diluar sana Arkan menghubungi sang asisten.


"Lalukan dengan cepat, bagaimana pun caranya dapatkan hasil tes DNA bayi itu dengan pria badjingan itu."


"Baik Tuan," jawab Jerry patuh.