
1 piring pasta telah siap tersaji di atas meja. Arkan dan Aleia makan bersama dari 1 piring itu.
Sesekali Aleia pun menyuapi sang suami dan Arkan menghapus sisa saos di sudut bibir istrinya.
"Tidak mual lagi?" tanya Aleia.
"Tidak, jika ku perhatikan setelah kita menyatu pasti mualnya hilang."
"Iiss bohong."
"Serius."
Aleia mencebik.
"Besok aku ada acara di dekat kantor daddy, apa aku boleh berkunjung ke kantor daddy?"
"Tentu saja, aku yang akan menjemput mommy."
"Tidak usah, biar aku datang sendiri, aku kan bawa mobil."
"Lisa yang menyetir?"
"Aku sendiri."
"Pakai supir ya?"
"Tidak enak Dad, kalau setir sendiri kan bebas semauku mau kemana, mau berapa lama."
"Baiklah," balas Arkan, dia juga langsung mengecup bibir istrinya. Jangan sampai mulut ini jadi mengomel panjang lebar.
Malam itu mereka tidur hampir di jam 1 malam.
Tapi tetap saja sama-sama bangun di jam 5 pagi. Bersiap dengan kesibukan masing-masing.
Baby Bryan selalu jadi prioritas sebelum keduanya sama-sama pergi bekerja. Bayi itu bahkan mulai berlarian di kamar ini. Pokoknya saat pintu kamar ini sudah terbuka, baby Bryan pasti langsung masuk.
Aleia berjongkok, mengimbangi sang anak.
"Baby, nanti mommy ada acara, kalau mau menyusul minta antar asisten Jerry ya?" ucap Aleia, mengajak bicara anaknya.
"No," baby Bryan menggeleng kuat.
"Kenapa tidak mau? pagi ini daddy ada rapat, daddy tidak bisa mengajak mu."
"Di humah ja."
"Di rumah saja?"
Baby Bryan mengangguk.
Arkan gemas sendiri melihat interaksi keduanya, rasanya sudah tidak sabar menunggu kelahiran adik baby Bryan.
"Sini, cium daddy dulu," ucap Arkan, dia pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar, siap menyambut sang anak.
Baby Bryan pun langsung berlari dan jatuh di pelukan daddy.
Banyak sekali ciuman yang Arkan berikan sampai baby Bryan merasa geli, bayi itu tertawa dengan sangat keras.
"Mom, aku tidak usah sarapan ya? mulut ku terasa pahit, nanti kita makan siang bersama saja," ucap Arkan, mereka semua kini telah duduk di meja makan.
Pagi ini Arkan tidak mual, tapi dia sedikitpun tidak ada selera untuk makan, bahkan mulutnya pun terasa pahit.
"Minum susu saja ya?"
Arkan menggeleng, malah menatap buah milik sang istri yang juga berisi susu.
Aleia yang paham langsung mendelik.
Arkan mendengus kecewa.
Pagi itu jadi hanya Aleia dan baby Bryan yang sarapan, sementra Arkan hanya menemani.
"Nanny, kalau baby Bryan rewel langsung telepon aku ya, atau kalau dia mau menyusul telepon saja asisten Jerry."
"Baik Nyonya."
"Mommy dan daddy pergi dulu ya sayang, emuah," cium Aleia. Arkan juga mencium sang anak.
Lalu menggandeng tangan sang istri untuk keluar dari rumah. Berhenti di teras rumah dan melihat mobil mereka berdua sudah terparkir sempurna di depan sana.
Arkan mencium bibir istrinya dengan begitu dalam, seolah mengambil banyak energi dalam ciuman itu.
Aleia bahkan sampai harus mendorong dadda suaminya agar ciuman itu terlepas.
"Dad, kita mau kerja loh."
"Mommy sih, pagi tadi aku tidak diberi susu."
"Astaga, nanti siang saja."
"Janji?"
"Iya."
"Kalau begitu jangan lama-lama, aku sangat menunggu kedatangan mommy."
Aleia mencebik.
Dan Arkan kembali menciumnya dengan lembut. Memang Arkan yang menanggung mual, tapi tetap saja Aleia yang kewalahan.
Karena obat sang suami hanya 1, tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi author:
Judul: Eternal Enemy
By : Navizaa