Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 41 - Membuat Perhitungan



Aleia di bawa oleh mommy Jia untuk segera menuju kamarnya. Sengaja dihindarkan dulu dari daddy Alex dan Rayden.


2 pria itu pasti akan mencerca banyak pertanyaan, sementara Aleia saat ini masih cemas dan takut. Belum dalam keadaan yang tenang.


Aresha menemui suami dan ayah mertuanya seorang diri, bertemu di ruang tengah keluarga itu.


"Dad, tidak perlu cemaskan Aleia, biar dia tenang dulu bersama mommy Jia," ucap Aresha.


"Baiklah, daddy akan pergi ke ruang kerja." jawab daddy Alex dengan lemah, dia juga butuh untuk menenangkan diri. Bagaimana pun tentang pernikahan Aleia ada andil dia di dalamnya. Rasanya akan sangat merasa bersalah jika benar akhirnya Aleia sering diperlakukan kasar oleh Arkan.


Dan setelah daddy Alex pergi, Aresha dan Rayden saling pandang. Sepasang suami dan istri itu membuang nafasnya perlahan, dalam benaknya mereka memikirkan 1 hal yang sama.


Menyelediki masalah rumah tangga sang adik selama 1 tahun terakhir, dengan bantuan Zhack dan Darco.


Sementara itu di luar sana, Arkan masih berdiri. Tak jauh dari tempatnya sudah ada 3 penjaga keamanan yang selalu mengawasi, siap mengusirnya dengan kasar kapan pun dia membuat keributan.


"Astaga, kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Arkan, bingung sendiri. Jerry yang berdiri di sampingnya pun hanya bisa diam. Berhadapan dengan keluarga Carter sejak dulu memang tidak mudah, terlebih jika ada perselisihan seperti ini.


Masih untung sang tuan hanya bertemu 2 pria dari keluarga itu, nasibnya akan lebih buruk jika bertemu dengan semuanya.


Dengan buru-buru Arkan coba menghubungi sang istri menggunakan sambungan telepon, ingin mengatakan pada Aleia agar tenang dan nanti bisa menjelaskan semuanya pada pihak keluarga.


Sumpah, sedikitpun Arkan tidak berniat untuk memulangkan Aleia pada keluarganya. Dia hanya ingin Aleia jauh dari baby Bryan dan berada di tempat yang tepat.


Tapi sayang, panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Sayup-sayup dia malah ne dengar ada suara dering ponsel di dalam mobilnya.


Ponsel dan tas milik Aleia tertinggal.


"Arght!" geramnya.


"Lebih baik kita pergi dulu Tuan, saat ini keadaan sudah tidak baik," ucap Jerry, coba menenangkan sang Tuan. Jika Arkan semakin tersulut maka keadaan akan semakin sulit.


"Aku akan menyerahkan tas ini dulu pada Aleia, bagaimana dia bisa menghubungi aku jika ponselnya tertinggal."


"Jangan sekarang Tuan, lebih baik besok kita datangi nyonya di kantor nya."


Mendengar itu Arkan mengangguk kecil, masih dengan nafasnya yang memburu.


Ketika mobil mereka mulai keluar dari halaman rumah itu, semakin terasa mengganjal di hati Arkan. Pergi dalam keadaan seperti ini sungguh membuatnya tidak tenang.


Hari itu juga, Arkan mulai mendapatkan beberapa nama pria yang dekat dengan Diora sebelum wwnita itu bersama dia.


Dari banyaknya nama, hanya 1 yang membuat Arkan mengepalkan kedua tangannya kuat, bahkan mencengkeram kertas itu hingga koyak.


Dan nama itu adalah Jakson Wu.


Seketika ingat apa yang di tanyakan Aleia pagi tadi. 'Bagaimana jika ayah baby Bryan adalah musuh mu.'


"Menjijikkan," umpat Arkan, tatapannya mengisyaratkan amarah. Bagaimana bisa selama ini dia dipermainkan oleh kedua orang Badjingan itu, Diora dan Jack.


"Aku akan buat perhitungan dengan mu Jack. Anak itu aku tidak akan sudi merawatnya," geram Arkan, dadanya bergemuruh penuh amarah.


Meski belum memastikan semuanya, tapi dia sudah yakin jika baby Bryan adalah anak pria itu.