
Detik itu juga Arkan mendatangi perusahaan Jakson Wu. Kedatangannya di perusahaan itu sontak mencuri perhatian semua karyawan yang ada di sana. Siapapun tahu jika selama ini Arkan dan Jakson selalu berselisih tentang bisnis. Selalu bersaing tentang keunggulan produk dari perusahaan masing-masing.
Selalu berebut pasar untuk menjual produk mereka.
"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk begitu saja ke ruangan Tuan Jack," hadang sang sekretaris. Dia menghalau jalan CEO Bright Kingdom.
Tapi Arkan tak mau dengar, dia dengan segera masuk ke dalam ruangan itu disaat Jerry mengambil tindakan untuk wanita itu menyingkir.
Arkan membuka pintu itu dengan sangat kasar, sampai membuat Jack menatap heran ke arah pintu.
Cukup terkejut saat melihat Arkan yang datang.
Bahkan tanpa banyak kata Arkan segera masuk ke ruangan itu dan berjalan cepat menghampiri Jack yang sudah berdiri dari kursi kerjanya.
Bugh! satu pukulan keras Arkan layangkan tepat di wajah Jack. Pria itu jelas terhuyung, tersungkur di atas mejanya sendiri.
Jerry mengunci pintu hingga tak ada satu pun yang bisa masuk ke ruangan ini. Sementara Jack hanya sendirian, bahkan asistennya pun tidak berada di ruangan ini.
Arkan menarik kerah baju Jack dan mengangkat pria itu, hendak kembali memberikan pukulan tapi gagal, karena sekarang Jack melawan.
"Shiit!" umpat Jack, keduanya saling serang.
Tapi tetap saja Arkan yang selalu unggul, pria yang sedang dipenuhi amarah itu tak akan ada yang bisa menandingi.
Berada di bawah kuasa Arkan, Jack tersenyum miring. Mulai sadar jika marahnya Arkan ini pasti karena bayi itu.
"Bagaimana Ar? apa sangat nikmat menikahi wanita seperti Diora?"
"Kurang ajar!"
Bugh! Arkan kembali menjatuhkan sebuah pukulan keras di wajah Jack.
Jack sampai tak berdaya.
"Kembalikan baby Bryan padaku, bersama dengan Aleia," ucap Jack lagi. Pria itu belum tahu jika saat ini Arkan pun telah menerima Aleia sebagai istrinya.
Yang Jack tahu hanyalah pria itu yang mengembalikan Aleia pada keluarganya.
Jack tidak tahu jika kalimat yang baru saja dia ucapkan Malah semakin menyulut amarah di dalam hati Arkan.
"Cukup Tuan, jika lebih dari ini tuan Jack bisa mati."
Arkan lantas melepaskan Jack, melempar pria itu sampai tersungkur ke lantai.
"Ambil anak mu, tapi jangan harap bisa memiliki Aleia," ucap Arkan, setelah banyak memberikan pukulan, akhirnya Arkan buka suara.
Dan meski Jack babak belur, tapi dia tersenyum. Tersenyum membodohi Arkan yang telah menikah dengan wanita murahaan itu.
Tak masalah baginya mengakui baby Bryan sebagai anak, karena imbalannya dia akan mendapatkan Aleia.
Senyum Jack jadi semakin berkembang.
Ketika Arkan dan Jerry keluar dari ruangan itu, sudah ada Tom yang berdiri disana dengan tatapan tajam.
Tapi baik Arkan atau pun Jerry tidak ada yang mengindahkan kehadirannya. Kedua pria dari perusahaan Brigt itu segera pergi dan Tom buru-buru menyelematkan sang Tuan.
Di dalam mobil yang sedang melaju untuk pulang, Arkan termenung.
Lalu lamunan itu buyar saat Jerry buka suara ...
"Maaf harus mengatakan ini Tuan, tapi sebaiknya sebelum menyerahkan baby Bryan pada Jack lakukan dulu tes DNA diantara mereka berdua. Pria yang dekat dengan wanita itu tidak hanya 1, bisa saja Jack bohong hanya untuk mendapatkan nyonya Aleia." Jerry bicara seperti itu setelah mengamati semuanya. Melihat Jack pria itu bukan berat pada baby Bryan, malah tujuan utamanya sang nyonya.
Seolah baby Bryan hanya digunakan sebagai alat.
"Jack sudah mengakui jika itu anaknya."
"Jack pria licik, kita tidak pernah mempercayai ucapanya."
Arkan terdiam.
Saat itu Arkan tidak langsung pulang, dia meminta Jerry untuk membawanya ke rumah utama keluarga Carter.
Tapi Arkan tidak masuk. Tetap duduk di dalam mobilnya dan terus memperhatikan kamar milik sang istri dari seberang jalan.
Sampai malam datang dan lampu di dalam kamar itu menyala.
"Aleia," lirih Arkan, rasanya berat sekali beban ini.