
Pagi itu Arkan tidak benar-benar pergi meninggalkan rumah utama keluarga Carter.
Hatinya terlalu pilu untuk langsung pergi tanpa hasil.
Layaknya penguntit, Arkan menunggu di ujung jalan melihat apakah mobil sang istri akan keluar dari rumah megah itu.
Aleia tidak akan mungkin berlama-lama di dalam rumah, selama ini wanita itu selalu mencurahkan semua waktunya untuk bekerja. Jadi wanita mandiri adalah hal yang selalu Aleia inginkan, itulah yang Arkan tahu.
Dia hanya duduk disana dengan tatapan yang kosong, berulang kali ponselnya berdering panggilan masuk dari Jerry pun terabaikan begitu saja.
Kedua matanya hanya mengamati dengan pikirannya yang kosong, Arkan bahkan sampai tidak sadar jika sudah 3 jam dia menunggu.
dan kemudian angin segar seperti berhembus menerpa wajahnya saat akhirnya dia melihat mobil sang istri keluar dari gerbang tinggi rumah itu.
Deg! jantung Arkan berdenyut, dengan tergesa dia menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengekori Aleia.
Mobil putih milik istrinya itu terus melaju sampai akhirnya tiba di kantor wedding organizer milik mommy Jia.
Aleia belum sempat turun dari mobil itu namun Arkan sudah lebih dulu keluar dan menghampiri.
Jadi ketika Aleia keluar, Arkan dengan segera merengkuh tubuh istrinya untuk dia dekap erat.
"Leia," panggil Arkan lirih.
Tak sadar jika tidakannya itu membuat hati Aleia berdebar dalam sesak. Kedua tangan Aleia kaku, tak kuasa untuk bergerak untuk membalas pelukan itu.
"Leia, maafkan aku," ucap Arkan, namun belum sempat dia banyak berucap tiba-tiba tubuhnya ditarik kasar oleh seseorang, sampai pelukannya pada Aleia terlepas.
Lalu sebuah pukulan keras mendarat tepat di rahangnya.
Bugh! Arkan terhuyung hingga jatuh ke jalanan. Pukulan keras itu berasal dari Arion.
"Jangan sentuh kakak ku lagi!" ancam Arion, bukan hanya daddy Alex yang tau tentang perlakuan Arkan selama ini pada Aleia. Tapi seluruh keluarga besar telah mengetahuinya.
Karena itulah tak ada satupun yang setuju Aleia kembali pada pria itu, meskipun Aleia pun memohon untuk diberi kesempatan 1 kali lagi membaiki rumah tangganya.
Tapi permintaan Aleia tak diindahkan. Kini dia bahkan selalu berada dalam pengawasan daddy Alex dan saudara-saudaranya yang lain.
"Ayo Leia, kita pergi," ucap Arion, dia bahkan langsung menarik sang kakak untuk segera pergi dari sana. Masuk ke dalam kantor itu dan mengabaikan Arkan begitu saja.
Tatapan diantara Arkan dan Aleia seketika putus, seperti hubungan mereka yang tak menemukan titik temu.
"Leia!" panggil Arkan, dia bangkit dengan susah payah. Sampai tidak sadar jika sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"LEIA!"
"ALEIA!!" pekik Arkan. Kedua matanya sudah nampak merah, penuh dengan rasa penyesalan. Dada yang semakin sesak tiap kali melihat langkah Aleia yang semakin jauh.
Tapi sekuat apapun dia berteriak memanggil sang istri, Aleia tetap tida berbalik dan menoleh ke arahnya. Aleia tetap berjalan hingga menghilang masuk ke dalam gedung.
"Leia," panggil Arkan lirih.
Saat dia berkedip, air mata itu benar-benar jatuh.
"Maafkan aku Leia, ayo kita besarkan baby Bryan bersama," lirihnya, seolah Aleia bisa mendengar itu.
Padahal kalimat itu hanya mampu dia dengar seorang diri.
Ya, saat ini Arkan benar-benar sendirian.