Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 44 - Surat Perceraian



Malam itu disaat semua orang terlelap, Arkan masih setia terjaga, duduk di sofa kamar baby Bryan dan terus menyaksikan bayi itu terlelap.


Dalam diam dan kesendiriannya, Arkan baru menyadari bahwa bayi kecil itu tidak bersalah sedikitpun. Apa yang membuat dadanya sesak sekarang adalah kebodohannya sendiri.


Terpedaya oleh semua tipu muslihat Diora yang akhirnya membuat hidupnya hancur.


"Tidak, hidupku tidak akan hancur karena kamu Diora," gumam Arkan.


"Bagus semuanya terkuak sekarang, sebelum aku semakin terlihat bodoh di mata Aleia," timpalnya lagi masih dengan suaranya yang lirih. Meski berat, namun dia coba untuk berdamai dengan keadaan ini.


Pagi datang.


Arkan biasanya tidak pernah memandikan baby Bryan, karena semuanya telah di urus oleh Aleia dan sang pengasuh.


Tapi pagi ini dia menggulung kemejanya hingga ke siku dan memandikan baby Bryan secara langsung. Setelah ini Arkan akan langsung menjemput Aleia untuk kembali pulang.


"Kamu terlalu banyak bermain, lihat baju ku jadi basah semua," ucap Arkan, bicara pada baby Bryan. Dia sedang berusaha untuk menerima keadaan ini, tapi kembali menyebut dirinya sebagai Daddy untuk baby Bryan masih sangat sulit untuk dia lakukan.


"Pakai baju mu bersama nanny, aku akan menjemput mommy," ucap Arkan lagi. Dia pun menyerahkan baby Bryan pada sang pengasuh.


Bayi yang pagi ini telah kembali ceria, berulang kali berupa ...


"Daddy Daddy." Dan tertawa.


Tapi tanpa banyak kata lagi, Arkan dengan segera keluar dari dalam kamar itu.


Arkan masih terus melakukan segala cara untuk membuat hatinya sendiri merasa tenang.


Bukan hanya pada Jack, pada beberapa pria yang pernah dekat dengan mendiang istrinya pun dia lakukan pemeriksaan DNA secara sembunyi-sembunyi.


Andai Arkan tidak mengenal Bayu dia tidak akan bisa melakukan tes ini, mengingat tes DNA adalah hal riskan. Hanya bisa dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.


Tanpa mengikuti sarapan di rumahnya bersama keluarga yang lain, Arkan segera mengemudikan mobilnya seorang diri menuju rumah utama keluarga Carter, menuju rumah mertuanya.


Entah bagaimana nasib baby Bryan nanti, tapi sekarang dia akan kembali dekatkan dengan Aleia. Sungguh, Arkan tidak ingin lagi melihat bayi itu menderita.


Jam 7 lewat 15 menit, Arkan telah tiba di rumah mommy Jia.


Menekan bell rumah itu dan pintu pun terbuka, dibuka oleh seorang pelayan.


"Tuan Arkan, silahkan masuk. Tuan Alex sudah menunggu anda," ucap pelayan itu seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.


Namun mendengar kalimat itu Arkan sedikit mengerutkan dahi, merasa heran.


Terlebih saat sang pelayan mengarahkannya untuk masuk ke ruang kerja daddy Alex. Masuk ke dalam sini, Arkan tahu ada sesuatu yang tidak beres.


"Duduklah," ucap daddy Alex dengan suaranya yang sangat dingin.


Arkan menurut, dia duduk di hadapan daddy Alex dan Mereka hanya terhalang oleh meja kerja di ruangan itu.


"Segera tanda tangani surat ini," ucap daddy Alex, tanpa banyak basa basi dia menyerahkan sebuah dokumen.


Arkan yang bingung membaca lebih dulu apa isi berkas itu.


Surat perceraian.


Deg! seketika jantung Arkan seperti teremat. Kedua matanya mendelik, dia menggeleng.


"Tidak Dad, aku tidak akan pernah menceraikan Aleia."


"Kenapa? agar putriku bisa terus kamu siksa? jadi pelampiasan mu?" balas daddy Alex, dengan banyak pertanyaan yang dia beri.


Namun belum sempat Arkan menjawab, daddy Alex sudah lebih dulu melempar banyak foto di atas meja itu. Foto dari berbagai rekaman CCTV, tentang perkelahiannya dengan Aleia dan semua sikap kasar yang pernah dia berikan pada sang istri.


Saat itu yang Arkan rasakan hanyalah sesak di dada, sementara mulutnya kelu mau bicara dari mana dulu. Bahkan foto saat dia melempar Aleia keluar di rumah sakit waktu itu pun tergambar jelas disana.


Diantara kegamangannya, daddy Alex kembali buka suara ...


"Segera tanda tangani surat perceraian itu dan pergilah."