Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 57 - Makan Siang



Aleia bertemu dengan banyak orang di tempat acara itu berlangsung. Dia tidak hanya menyapa tuan rumah tapi juga beberapa kenalannya dan sang ibu di dunia bisnis.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang membuatnya kembali teringat akan Diora. Setelah hari-hari pernikahannya dengan Arkan yang indah, Setelah dia hamil 2 bulan, dan akhirnya nama itu kembali terdengar di telinganya.


kembali muncul di ingatan.


"Baby Bryan pasti sekarang sudah tumbuh semakin besar ya? Apa kamu sudah membawanya ke makam ibu kandungnya?" tanya orang itu, salah seorang wanita sosialita yang menghadiri acara ini. Mungkin usianya sama dengan sang kakak, Rayden.


Aleia tidak langsung menjawab, dia tersenyum kecil. merasa tentang hal ini tidak perlu dia ceritakan pada orang lain.


Terlebih selama ini dia memang belum pernah mengajak baby Bryan untuk mengunjungi makam Diora.


"Sebentar lagi kamu akan punya anak kandung sendiri, malangnya nasib baby Bryan."


"Kenapa harus malang? baby Bryan akan tetap beruntung dalam hidupnya."


"Kasih sayang mu pasti berat sebelah Leia," balas wanita lagi, dan Aleia benar-benar marah mendengarnya.


"Anda bisa bicara seperti itu karena Anda tidak punya anak, saya permisi," jelas Aleia, lalu pergi dengan bibir tersenyum.


Mulut Aleia terus menggerutu sepanjang langkahnya meninggalkan wanita itu.


Hiiss menyebalkan sekali. Kalau ini bukan ditempat umum sudah ku tarik itu mulutnya.


Huh sabar-sabar, bagaimana pun dia pelanggan ku juga.


Sudah tidak merasa nyaman untuk menghadiri acara itu, jadi Aleia putuskan untuk pergi lebih cepat. Masih jam 11.00 siang tapi dia sudah mengunjungi kantor sang suami. Padahal rencana awalnya tadi dia akan datang di sekitar jam 1.


"Dad ..." rengek Aleia seraya masuk ke dalam ruangan sang suami. Aleia sampai lupa mengetuk pintu saking kesalnya hati dia. Dan Betapa terkejutnya Aleia ketika melihat ternyata di dalam ruangan itu suaminya tidak hanya sendirian, melainkan sedang duduk bersama dengan para Kepala Divisi.


"Maaf, maafkan kelancangan saya," ucap Aleia buru-buru, dia bahkan langsung menundukkan kepalanya sebagai bentuk permohonan maaf.


"Tidak perlu meminta maaf nyonya, kamilah yang salah karena terlalu lama berada di ruangan ini, kami permisi," ucap salah satu Kepala Divisi, buru-buru dia menjawab itu.


Semua orang di kantor ini sudah tahu jika sang Nyonya tengah hamil 2 bulan, jadi tidak ada satupun yang berani merusak suasana hati sang nyonya, karena pasti akan berhadapan langsung dengan sang CEO.


"Tidak Pak, aku lah yang salah, kenapa bapak yang minta maaf."


"Kami permisi Nyonya."


"Iya iya," balas Aleia dengan mengangguk.


Ya ampun ini tadi canggung sekali.


Aleia yang merasa bersalah, Arkan malah mengulum senyum. Pria itu bahkan menyambut sang istri dan menutup pintu ruangannya.


Klik! Arkan mengunci pintu. Aleia yang masih cemas sampai tidak sadar.


"Maafkan aku Dad."


"Its oke mommy, tadi hanya eveluasi kecil, bukan masalah besar."


"Benarkah?"


"Iya." Arkan menarik pinggang sang istri, dipeluknya erat dan dibimbing untuk duduk di sofa.


Tapi bukan duduk sendiri, melainkan duduk di atas pangkuannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Mom? ku lihat wajah mommy sangat murung."


"Dad, bagaimna jika besok kita ajak baby Bryan untuk mengunjungi makam Diora. Bagaimana pun baby Bryan harus tau jika ibu kandungnya adalah Diora. Aku tidak ingin saat besar nanti ada salah paham. Yang perlu kita lakukan hanyalah memberi kasih sayang tanpa membeda-bedakan anak-anak kita," jelas Aleia panjang lebar, sampai tak sadar jika sang suami sudah membuka kancing bajunya hingga ke bawah, lalu melepas pengait brra di belakang punggungnya dan membuat buahnya menggantung begitu saja.


"Ahk Dad!" pekik Aleia, sadar-sadar tubuh atasnya sudah pollos.


"Baiklah sayang, besok kita akan kunjungi makam Diora bersama baby Bryan," jawab Arkan.


Tanpa banyak kata lagi, dia langsung menyantap makan siangnya.


Ahk! pekik Aleia lagi.