Forced Marriage

Forced Marriage
Maafmu Tak Merubah Apapun



Joan menatap Liza yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit, dirinya benar- benar tidak habis pikir dengan apa yang telah diperbuatnya kepada wanita itu .


Joan menatap perut Liza yang terlihat masih rata , ia mulai mengelus perut itu dengan sangat lembut .


" Ayah akan mempertahankanmu nak " Gumam Joan mengajak bicara calon bayi yang ada didalam rahim Liza .


Air mata menetes begitu saja membasahi pipi pria itu , baru kali ini Joan merasakan kebahagiaan sebesar itu .Dirinya memang sangat menyukai anak kecil , bahkan ia sempat berpikir untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan .


Namun kedua orang tuanya melarang dengan keras keinginan Joan itu karena status Joan yang masih belum menikah .Alhasil Joan harus mengubur dalam - dalam keinginannya itu .


" Tuan Joan " Panggil dokter Ririn yang baru saja memasuki ruangan itu .


Dokter Ririn merupakan salah satu dokter pribadi keluarga Rivenno .Dokter itu sangat dipercayai oleh kedua orang tua Joan untuk memeriksa kesehatan anggota keluarga mereka setiap bulan.


Joan menoleh kearah sumber suara , pria itu menghapus air mata yang membasahi pipinya .Dokter Ririn menatap Joan dengan keheranan , dokter berumur 40 tahunan itu dapat menebak bahwa wanita yang sedang terbaring itu adalah kekasih Joan dan bayi yang sedang dikandungnya adalah darah daging Joan .


" Wanita ini sedang mengandung bayi saya , sudah berapa hari usia kandungannya ? " Tanya Joan kepada dokter Ririn .


" Usia kandungannya sudah menginjak 3 Mingguan Tuan" Jawab Dokter Ririn dengan lemah lembut.


Ternyata benar dugaan Joan , bayi yang dikandung oleh Liza adalah bayi hasil hubungan yang telah ia lakukan secara paksa pada wanita itu sebulan yang lalu .


" Perlukah saya melakukan USG untuk kembali memastikannya Tuan ? "


Joan menggeleng dengan cepat " Tidak perlu dok , saya hanya ingin dokter memberikan perawatan terbaik kepada calon istri serta calon bayi saya ! " Titah Joan pada dokter Ririn.


Dokter Ririn tersenyum , turut berbahagia karena seorang bayi akan turut serta meramaikan mansion keluarga Rivenno yang sama sekali belum memiliki seorang cucu.


" Baik Tuan saya akan memberikan perawatan terbaik dirumah sakit ini kepada Nona Liza serta calon bayi anda " Dokter Ririn membungkukkan tubuhnya 90 derajat .Setelah itu ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu meninggalkan Joan yang masih setia menunggu Liza yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri .


Joan kembali fokus menatap Liza , ia mulai mengecup kening wanita itu berulang kali .


" Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia Li " Gumam Joan seraya terus mengecup kening Liza .


Joan mulai menghentikan aktivitasnya karena takut akan menganggu wanita itu , kali ini ia beralih mengambil hpnya dari saku jasnya.


Ia mulai memainkan hpnya mengirimkan pesan bahwa dirinya tak akan masuk kekantor hari ini kepada Asisten beserta manajernya .


Joan mengurus pembiayaan perawatan , ruangan , beserta obat - obat dan vitamin untuk ibu hamil yang dibayarkan menggunakan black card atau kartu tanpa batas miliknya .


Joan langsung kembali keruangan tempat Liza dirawat setelah menyelesaikan urusannya di ruangan administrasi .


Joan tersenyum bahagia saat melihat wanita itu sudah terbangun , Joan dengan cepat menghampiri Liza yang masih terlihat kebingungan .


" Dimana Dilan ? " Tanya Liza saat Joan baru saja menghampirinya .


Ekspresi Joan langsung berubah menjadi muram , mengapa wanita itu terus saja memperdulikan Dilan .


"Dia udah pulang " Jawab Joan jujur , memang benar Dilan sudah pulang setelah ia memukulnya dengan keras .


Liza hanya mengernyitkan dahinya tak percaya dengan ucapan pria yang ada dihadapannya itu .


" Dilan pulang setelah mengetahui kamu hamil " Ucap Joan kikuk, ia berusaha memberitahukan setiap kebenarannya kepada wanita itu.


Liza membulatkan matanya tak percaya dengan semua ucapan Joan " Hamil ? gak mungkin aku hamil "


Liza menangis histeris ia memukul - mukul dada bidang Joan dengan sangat keras .Joan hanya terdiam tanpa perlawanan , ia memang pantas mendapatkan balasan atas perbuatannya .


" Kamu bohong kan , aku gak mungkin hamil hiks....hiks...hiks.." Liza terus saja terisak sembari terus menyiksa Joan .


Joan berusaha mengunci kedua tangan Liza dan dengan cepat memeluk wanita itu .


" Maafin aku li , aku gak nyangka kalo masalahnya sampai serumit ini " bisik Joan ditelinga Liza , wanita berusaha mendorong tubuh kekar Joan agar menjauh darinya .


" Maaf mu tak merubah apapun , bayi ini sudah ada dirahim ku .Apa yang harus kulakukan sekarang hiks ....hiks..." Tangisan Liza semakin menjadi - jadi , Joan tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu .


" Aku akan menikahimu ,aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan bayi kita " Ucap Joan seraya mengelus pelan perut Liza .


Plak .....


Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri Joan. Pria itu hanya bisa memegangi pipinya yang terasa sangat perih .


" Aku akan segera menggugurkan bayi ini , aku tidak sudi jika harus menikah denganmu " Ancam Liza yang langsung membuat Joan tertantang .