
"Tidak Dad ... aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu," jawab Arkan, lengkap dengan tatapannya yang nanar, membalas kedua mata yang kini menatapnya tajam.
Arkan menelan ludah, merasakan tenggorokan yang tercekat.
Dulu hal inilah yang dia mau tentang rumah tangganya bersama Aleia, sebuah perceraian. Bahkan tiap malam dia menggaungkan itu dalam benaknya.
Namun kini ketika pintu pisah itu sudah di depan mata, Arkan tidak menyangka jika rasanya akan sesakit ini.
Arkan sadar, sangat sangat sadar bahwa selama 1 tahun pernikahan dengan Aleia dia telah banyak melukai wanita itu. Ucapan kasar, bahkan perlakuan kejam.
Tapi apa yang terjadi satu tahun silam tak bisa dia ubah, kini Arkan sangat ingin memperbaiki semuanya.
Bahkan jika Aleia meminta baby Bryan, dia akan mengusahakannya. Melawan kebenciannya sendiri, agar rumah tangga ini tetap utuh.
"Jangan melawan ku Ar, sama seperti 1 tahun lalu saat aku meminta mu untuk menikahi Aleia, kali ini aku juga bisa menghancurkan perusahaan mu jika surat ini tidak kamu tanda tangani," balas daddy Alex, sedikit pun dia tidak goyah dengan keputusan yang sudah diambil.
Arkan tidak menjawab kalimat itu, dia bangkit dari duduknya dan segera bersimpuh di depan sang mertua. Kedua lututnya menjadi penopang.
"Maafkan aku Dad, maafkan semua sikap ku pada Aleia selama ini. Hukumlah aku apapun, tapi jangan meminta aku untuk bercerai dengan Aleia," ucap Arkan diantara kepalanya sudah menunduk dalam.
Tak akan yang tau bagaimana rasa sesak di dada pria itu, sampai terasa sulit untuknya bernafas.
Hidupnya telah hancur, apa yang dia bangga-banggakan selama ini nyatanya hanyalah semu. Bahkan bukan hanya Arkan yang kecewa, seluruh keluarganya pun akan hancur andai mengetahui jati diri baby Bryan yang sesungguhnya.
Dan perihal Aleia, Arkan tidak ingin kehilangan dia juga.
Tapi sayang, daddy Alex sedikitpun tidak tersentuh dengan semua permohonan Arkan.
daddy Alex malah bangkit dari duduknya dan segera pergi dari sana, namun sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, daddy Alex kembali berucap ...
"Ku beri kamu waktu 1 minggu untuk menandatangani surat itu, jika tidak aku akan membawa kasus ini ke pengadalian." Daddy Alex akan tetap sekuat tenaga untuk memisahkan anaknya dari pria badjingan itu.
"Maaf Tuan Arkan, sebaiknya ada segera pergi dari sini, jangan lagi membuat Tuan Alex marah," ucap salah satunya.
Arkan tergugu, dia bahkan masih bersimpuh di posisi yang sama.
Sampai akhirnya seorang penjaga keamanan coba membantunya untuk bangkit.
"Aku bisa sendiri," balas Arkan lirih.
Dengan langkah gontai, dia pun keluar dari ruangan itu. Berulang kali melihat ke arah lantai 2 rumah ini, berharap bisa melihat sang istri.
Sebentar saja, dia sangat ingin melihat wajah Aleia.
Sebentar saja, setidaknya dia ingin melihat wajah sang istri.
Leia. Panggil Arkan dari dalam hatinya.
Tapi hingga dia nyaris keluar dari rumah itu, Aleia sedikitpun tak terlihat olehnya.
"Silahkan pergi Tuan."
Arkan hanya diam, berulang kali menoleh kebelakang. Andai Aleia berlari ke arahnya, andai Aleia berteriak memanggil namanya.
Andai.
Tapi andai itu, tak pernah jadi kenyataan.
Arkan mendudukkan dirinya di kursi kemudi, melihat pintu gerbang utama rumah ini yang sudah terbuka lebar di depan sana.