Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 50 - Bukan Kata-kata



"Aku salah Leia, aku salah tentang Diora. Aku salah tentang perlakuan ku padamu selama ini, Aku salah," ucap Arkan.


Hati Aleia bergetar nyeri saat mendengar itu. Dia menatap langit-langit ruangan, tidak ingin ada air bening yang jatuh dari kedua matanya.


"Maafkan aku tentang kamu Leia, maafkan aku tentang baby Bryan."


"Apa kamu menyerahkan baby Bryan pada Jakson?" balas Aleia dengan cepat, kini dia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Kepedulian Aleia hanya penuh pada baby Bryan.


Dan mendengar pertanyaan itu, Arkan mengangkat wajahnya dengan cepat.


"Tidak, apa Jakson yang mengatakan padamu?" balas Arkan pula.


Aleia terdiam.


"Jakson bukanlah ayah kandung baby Bryan Leia, selama ini kamu mengira dia ayah kandungnya kan? itu tidak benar, aku sudah melakukan tes DNA."


Penjelasan Arkan tentu membuat Aleia terkejut, pasalnya dia mendengar dengan jelas saat Diora terhubung sambungan telepon dengan pria itu. Bahkan karena panggilan itulah dia bisa mengetahui jika baby Bryan bukanlah anak Arkan.


Diantara keterkejutanya sendiri, Aleia kemudian tersentak saat tiba-tiba Arkan menggenggam erat tangan kanannya, masih dengan bersimpuh seperti itu.


"Daddy Alex ingin kita bercerai. Tapi aku tidak ingin kita bercerai Leia. Aku ingin kita tetap bersama."


"Kenapa? bukannya ini yang kamu inginkan?"


"Tidak, bukan ini yang aku inginkan. Aku ingin kamu."


"Kenapa? agar kamu bisa memperlakukan aku semau mu."


"Tolong Leia, jangan begini, aku tau aku salah, kamu ingin memukul ku menggunakan tingkat baseball, maka lakukan lah, aku tidak akan menghindar."


Saat itu juga air mata Aleia jatuh, apa yang sudah dia Tahan sejak tadi akhirnya sekarang tumpah.


"Jangan menangis Leia, jangan menangis," mohon Arkan.


"Kamu ingin menampar ku? tampar lah," Arkan melepaskan tangan kanan Aleia, memberi kesempatan wanita itu untuk memukul dia.


Tapi Aleia hanya diam, malah jadi semakin sesenggukan tangisnya.


Arkan menggeleng.


"Tidak," jawabnya dengan pasti.


"Aku ingin kamu dan baby Bryan Leia, aku mencintai kalian berdua."


"Bohong."


"Bagaimana caranya agar kamu percaya."


"Katakan semua kebenaran ini pada keluarga kita berdua."


Arkan terdiam sesaat, sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Apapun keinginan Aleia akan dia turuti, apapun, bahkan jika harus menimbulkan kecewa dari seluruh keluarganya.


Aleia sangat tahu, Arkan pasti akan menyembunyikan masalah ini rapat-rapat. Pria itu selalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.


Sementara Aleia pun tak ingin ada yang di tutupi tentang jati diri sang anak.


Tentang baby Bryan pun belum dia ceritakan pada seluruh keluarganya. Aleia hanya selalu berkata bahwa apa yang sebenarnya terjadi tak sekejam dalam rekam CCTV itu.


Malam sebelum Aleia pulang ke rumah semuanya sudah baik-baik saja, mereka bahkan masih saling memadu kasih.


Sedikit pertengkaran itu jadi salah paham semua orang, hingga berakhir seperti ini.


"Jemput aku bersama seluruh keluarga mu."


"Aku akan melakukannya, apapun yang kamu minta akan aku turuti," jawab Arkan.


Aleia tak menjawab apapun, kini yang ingin dia lihat adalah bukti, bukan kata-kata.


Jadi setelah Arkan menjawab, Aleia segera keluar lebih dulu dari ruangan itu, menanggalkan Arkan yang masih bersimpuh disposisinya.


Pria itu bangkit, membuang nafasnya perlahan. Kembali menggunakan masker dan topinya lalu keluar dari sana.