
Aleia memejamkan mata saat Arkan mulai menciumnya dengan mesra, dia pun tidak ragu untuk membuka mulut dan membalas ciuman itu.
Sama-sama memainkan lidahn sampai perasaan ini menuntut. Entah bagaimana caranya, tapi kini kedua insan itu telah jatuh di atas ranjang. Arkan menindih tubuh sang istri dan terus memberikan sentuhan yang memabukkan.
Sampai akhirnya Aleia mendorong pelan dada Arkan hingga ciuman itu terlepas ...
"Nafas ku habis," ucap Aleia jujur, nafasnya terengah.
Arkan terdiam, menatap dua bola mata indah milik Aleia. Masih saja dia lihat sisa-sisa tangis itu. Coba mengeringkan bibir Aleia yang basah karena ulahnya, mengusapnya lembut menggunkaan ibu jari.
"Katakan, apa kamu melakukan ini agar aku mengizinkan mu tetap merawat baby Bryan?" tanya Arkan.
Sebuah pertanyaan yang membuat jantung Aleia tersentak. Dia menelan ludahnya kasar, terkejut karena Arkan mengetahui niatnya dengan mudah. Bahkan sebelum dia berhasil merayu lebih dalam.
"Itu tidak akan berhasil Leia, karena aku sudah mengambil keputusan," timpal Arkan lagi, tegas, tidak bisa dibantah.
Tentang baby Bryan ini adalah yang terbaik. Bagaimanapun juga bayi itu harus bertemu dengan ayahnya. Dan karena Arkan punya kemampuan untuk mencari itu, karena itulah dia lakukan.
Dan mendengar itu tentu saja Aleia kembali, dia lupa bahwa Arkan memang tidak mudah untuk dia hadapi.
Perlahan Aleia kembali mendorong dada Arkan, ingin terlepas dari kungkungan pria itu. Arkan tidak akan berubah pikiran, jadi tidak perlu ada penyatuan.
Tapi sayang Aleia tidak berhasil, meski dia sudah menambah kekuatan dorongnya, tapi Arkan tetap bergeming. Tetap di posisi yang sama, menindih dia.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Arkan lagi, sentuhannya memang terasa hangat, tapi suara itu tetap saja terdengar dingin.
"Kamu tidak ingin mengabulkan keinginan ku, jadi untuk apa begini," balas Aleia, mulai ketus.
"Lakukan karena kamu istriku, bukan karena baby Bryan," balas Arkan.
Mulut Aleia yang hendak bicara langsung bungkam, saat Arkan kembali menciumnya dengan sangat dalam, bahkan lebih menekan sampai dia tidak bisa berkutik.
Jeritnya yang tertahan bahkan berubah jadi desaah.
Gerakan yang awalnya memberontak, lama-lama berubah jadi mencengkram menahan hasrat.
Di hentakan Arkan yang pertama, Aleia merasa sangat dicintai, karena pria itu melakukannya dengan begitu lembut. Jauh berbeda ketika pertama kali dulu.
Namun bagi Arkan, ini rasanya sama saja, masih sangat memabukkan untuk dia.
Dan di ujung permainan mereka, Arkan menumpahkan semua lahar itu di dalam sana. Denyut yang saling bersahut.
Dadaa Aleia naik turun.
"Haus," ucapnya setelah permainan panjang itu.
Sebelum melepaskan diri dan mengambilkan Aleia minum, Arkan lebih dulu mencium kening Aleia penuh cinta.
Bukan hal sulit bagi Arkan untuk mencintai istrinya, karena dulu pun Arkan sudah pernah merasakannya.
Pagi datang.
Apa yang Arkan ucapkan semalam benar-benar dilakukan oleh pria itu. Sementara dia harus memisahkan Aleia dan baby Bryan.
Kepergian Aleia pagi ini, belum diketahui oleh mama Elma dan papa Danu. Akan dia menjelaskan nanti saja.
"Aku tidak akan membuang baby Bryan, aku juga akan memastikan bahwa ayah kandungnya bisa menerima dia. Percaya saja padaku," ucap Arkan.
Aleia menggeleng.
"Masuklah ke mobil," titah Arkan lagi, yang hendak mengantarkan Aleia untuk tinggal sementara di rumah mommy Jia. Arkan pun akan menjelaskan alasannya nanti pada keluarga sang istri.
"Jahat kamu Ar, kenapa tidak kita besarkan saja baby Bryan?"
"Masuk mobil."
"Ar_"
"Leia, jangan memancing amarah ku." Arkan dengan cepat mencium bibir istrinya, ingin Aleia berhenti bicara.
Tapi sungguh, Aleia tak bisa melakukan ini.
"Satu lagi," ucap Aleia. pintu mobil sudah terbuka, namun masih ada 1 hal yang ingin dia katakan kepada Arkan.
"Bagaimana jika ayah baby Bryan ternyata musuh mu sendiri?" tanya Aleia.
Arkan terdiam.