Forced Marriage

Forced Marriage
Egois



Joan menatap wanita itu dengan tatapan penuh amarah , hatinya terasa seperti ditusuk pisau belati setelah mendengar perkataan Liza yang ingin menggugurkan bayi yang tak bersalah itu .


" Bayi itu tak bersalah Li , tolong biarkan dia lahir kedunia .Aku akan mengurus bayi itu sendiri jika kamu tidak mau " Ucap Joan dengan tegas .


Liza menggeleng " Tidak , aku tidak ingin bayi ini menghancurkan masa depanku .Aku tidak mau jika karier yang sudah kubangun dengan susah payah harus hancur begitu saja akibat kehadirannya didunia.


"Li tolong , jalankan saja peranmu sebagai orang yang mengandung dan melahirkannya .Setelah itu serahkan saja semuanya padaku " Mata Joan terlihat berkaca - kaca .


" Maaf aku tidak bisa , aku akan segera menggugurkan bayi ini , lebih baik sekarang kamu cepat pergi dari tempat ini !Perintah Liza , wanita itu berusaha dengan keras mendorong tubuh Joan keluar dari ruangan itu .


Joan hanya bisa mengalah , dirinya hanya bisa menuruti perintah Liza untuk keluar dari ruangan itu .


Setelah keluar dari ruangan itu , Joan dengan cepat memanggil Dokter Ririn dan memintanya untuk menjaga Liza agar tetap berada dirumah sakit ini.


Ia hanya takut bila Liza akan melakukan sesuatu yang nekat setelah keluar dari tempat ini .


Setelah menitipkan Liza pada dokter Ririn , kini Joan langsung tancap gas menemui manajer Dafa untuk meminta bantuannya .


Joan mempercepat jalannya memasuki perusahaan yang diketuai olehnya itu .Dirinya tak memperdulikan sapaan setiap karyawan yang sedang berlalu lalang.


" Selamat siang pak " Sapa asisten Aileen saat Joan mulai memasuki ruangannya .


" Dimana Dafa " Tanya Joan dengan napas tersenggal - senggal .


" Manajer Dafa sedang berada dikantin pak " Ujar Aileen .


Joan menepuk jidatnya, ia benar- benar tak ingat jika sekarang adalah waktu makan siang . Semua karyawan termasuk Dafa pasti sudah berada dikantin .


Joan berpikir sejenak , sepertinya ia tak bisa mengandalkan Dafa untuk membantunya saat ini .Joan beralih menatap kearah Aileen yang terlihat sedang mengetik sesuatu pada layar komputernya .


" Leen saya perlu bantuan kamu " Ucap Joan menghentikan aktivitas Aileen.


Aileen menoleh kearah bosnya " Bantuan apa pak ?"


Aileen menutup mulutnya dengan kedua tangannya , ia tak percaya dengan ucapan bosnya itu .


Aileen tertawa kecil " Bapak gak lagi bercanda kan ? "


Joan menggeleng dengan ekspresi datarnya " Saya serius , lakuin saja apa yang saya perintahkan ! " Titah Joan dengan sangat tegas.


Melihat ekspresi serius terpancar dari wajah Joan , akhir Aileen mulai mempercayai ucapan bosnya itu .


" Baiklah pak , saya akan segera memberitahukannya kepada semua wartawan, untuk membeberkan berita tentang pernikahan bapak " Ucap Aileen seraya membungkukkan tubuhnya .


Joan mengangguk kecil ,kini ia mulai meninggalkan Aileen sendirian dan langsung beralih menuju ke meja kerjanya untuk mengerjakan suatu hal .


Joan membuka komputernya , ia mulai mengirimkan sebuah email kepada seseorang yang sedang berada di Amerika .


Email itu ditujukan kepada Liam Maverick Hope yang tak lain adalah ayah Liza .Isi email itu bertuliskan tentang pengakuan Joan atas apa yang telah dilakukannya pada putri semata wayang Liam .Tidak hanya itu Joan juga menuliskan bahwa ia akan menikahi Liza secepatnya jika sudah mendapatkan persetujuan dari Liam .


Joan akhirnya bisa bernapas lega setelah mengirimkan email itu , Liam yang menjabat sebagai presiden memang sangat susah dihubungi bila hanya melalui telepon pribadi. Karena itulah Joan lebih memilih mengirimkannya lewat email agar terbaca oleh sekretarisnya .


Joan mulai berdiri dari tempat duduknya , sekarang yang ingin ia lakukan adalah memberitahukan rencana pernikahannya pada kedua orang tuanya .


Joan melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan , ia kembali menancap gas mobilnya menuju ke Mansion kediaman kedua orang tuanya .


Disepanjang perjalanan pikiran Joan hanya dipenuhi dengan segala rasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan pada Liza .Ia benar - benar ingin mengutuk dirinya atas kelakuan kejinya itu .


Air mata Joan mulai menetes sehingga membuat pria itu harus menghentikan mobilnya sebentar agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan .


Joan menangis sejadi - jadinya di dalam mobil Ferrari itu .Joan berkali - kali memukuli stir mobilnya dengan kepalan tangannya .


Pikiran Joan dihantui dengan penolakan yang akan wanita itu lakukan , Joan harus menguatkan mental dan hatinya untuk memiliki wanita itu sepenuhnya .


Menjalani pernikahan dengan orang yang tak mencintai kita bukanlah hal yang mudah , meskipun Joan memiliki uang dan aset yang bejibun namun semua hal itu tak dapat merubah sebuah perasaan yang dinamakan cinta .