
Arkan bisa menerima Aleia untuk jadi istri yang sesungguhnya bagi dia. Arkan bisa tetap mempertahankan rumah tangga ini dan memperbaiki semuanya.
Tapi Arkan tidak akan pernah bisa menerima baby Bryan.
Jadi besok rencananya dia akan mengantarkan Aleia untuk pulang lebih dulu pada kedua orang tuanya. Sadar, Aleia butuh waktu untuk sendiri, berkumpul bersama keluarga dan menata hati.
Sementara Arkan mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari tahu siapa ayah baby Bryan. Arkan akan berikan anak itu pada orang yang paling berhak.
Tidak ingin menjadikan baby Bryan sebagai pelampiasan amarahnya, karena itulah Arkan ambil keputusan seperti ini.
Luka pasti akan sembuh. Itulah yang diyakini Arkan. Mungkin sekarang Aleia akan menangis berpisah dengan bayi itu.
Tapi kelak, Aleia akan menyadari jika ini adalah keputusan yang tepat.
Sudah yakin dengan keputusannya, Arkan bangkit, berjalan menuju Aleia yang kini menangis tersedu. Dia berdiri tepat di hadapan wanita itu dan segera memeluknya.
Sentuhan hangat yang bahkan tidak Aleia duga akan terjadi. Disaat dia telah menyerah dengan semuanya, pelukan itu datang dengan sendirinya.
"Tidak Ar, jika kamu tidak ingin menceraikan aku, maka jangan buang baby Bryan. Kalau kamu butuh waktu, aku akan pulang bersama baby Bryan," ucap Aleia dengan menggebu, dia coba membuat penawaran. Bagaimana pun caranya, baby Bryan harus tetap disini, berada di dalam perlindungan.
Aleia mendongak hingga Arkan bisa melihat tangisnya yang hebat, sampai air mata itu membasahi seluruh wajahnya.
Arkan membelai wajah Aleia, merapikan rambut istrinya. Dia selipkan beberapa rambut kebelakang telinga.
"Kali ini saja, hargai keputusan ku sebagai suami mu," ucap Arkan lirih. Tatapannya nampak begitu sendu. Ini juga bukan hal yang mudah untuk dia.
Dan mendengar itu, teramat menyakitkan bagi Aleia. Dia masih menangis, bahkan sampai terisak. Sejauh ini berusaha nyatanya Aleia tetap tidak bisa memiliki keduanya. Arkan dan baby Bryan.
Tapi dengan demikian, maka dia harus rela melepas baby Bryan.
Aleia menggeleng pelan, tak terbayang bagaimana nanti jika baby Bryan sendirian. Tapi memperdebatkan masalah ini maka hubungannya dengan Arkan pun semakin pelik.
Bingung, takut, cemas, Aleia tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa menangis di dalam pelukan sang suami.
Dan Arkan pun semakin menenggelamkan Aleia di dalam dekapannya.
Cukup lama keduanya terus seperti itu, sampai tangis Aleia reda dan hanya menyisahkan suaranya yang sesenggukan.
"Ar," panggil Aleia, kini suaranya sudah mulai terdengar sumbang.
Arkan sedikit melerai pelukan mereka dan menatap wajah sang istri yang sembab.
Dia hanya diam, tapi dari tatapannya itu sudah mengisyaratkan kata Apa.
Sebelum bicara Aleia mengatur nafasnya.
"Kata orang, masalah rumah tangga hanya akan selesai di ranjang. Apa kamu mau melakukannya?" tanya Aleia, coba meluluhkan hati Arkan yang keras dengan cara seperti ini.
Arkan terdiam, tidak segera menjawab pertanyaan itu. Hanya semakin menatap kedua mata Aleia dengan lekat.
Banyak hal yang telah terjadi, disaat seperti ini Arkan baru ingat jika dulu mereka pun pernah memiliki kenangan yang indah, tertawa bersama, lari ketika menghindari hujan dari gedung ke gedung kuliah yang lain. Memakan sandwich di taman dengan buku-buku yang berserak di atas rerumputan.
Tanpa banyak kata Arkan dengan segera mencium bibir Aleia begitu dalam.