
Hampir jam 9 malam ketika Aleia tiba di rumah, dia mendatangi ruang kerja sang ayah dan melihat daddy Alex masih duduk di kursi kerjanya.
Daddy Alex memang tidak lagi memegang perusahaan Carter Kingdom, tapi banyak yayasan yang dia urus, bersama mommy Jia keduanya banyak membantu orang-orang yang tidak mampu.
"Dad," panggil Aleia dengan manja, dia meletakkan tasnya di atas meja dan segera duduk di hadapan sang ayah.
"Daddy masih marah padamu, kenapa datang kesini?" tanya daddy Alex, dia tidak melihat ke arah sang anak. Melainkan tetap fokus pada laporan yang dia baca.
Banyak sekali hal yang membuatnya marah dengan gadis kecilnya ini, sejak Aleia meminta pernikahan itu. Beralaskan pesan terakhir Diora, padahal nyatanya karena Aleia sangat mencintai Arkan.
Bahkan karena cinta yang terlalu besar itu, Aleia menutupi semua perlakukan kasar Arkan, lalu hingga kini masih saja terus mencintai pria itu.
"Dad, sebenarnya baby Bryan bukanlah anaknya Arkan," jawab Aleia.
Mendengar itu daddy Alex langsung menatap sang anak.
"Di rumah sakit itu aku mengatakannya pada Arkan tapi dia tidak percaya dan melempar ku keluar. Apa yang Arkan lakukan selama ini karena aku lah yang selalu memancingnya."
"Sampai kapan Leia? sampai kapan kamu akan terus menyalahkan diri mu sendiri dan membela Arkan."
"Aku mencintai dia Dad."
"Tapi dia tidak mencintai kamu."
"Tapi sekarang katanya dia sudah mencintai aku Dad."
"Tau darimana? apa dibelakang daddy kamu menemui dia?"
"Tidak sengaja bertemu dad."
"Akan daddy marahi Alden nanti."
"Dad, jangan begitu, Arkan sudah berubah."
"Astaga Leia." Daddy Alex menutup dokumen di tangannya, menatap kedua mata sang anak yang nampak memohon.
"Waktu dia 2 hari lagi, jika Arkan tidak menunjukkan bahwa kamu sangat berharga, daddy akan pastikan perceraian itu akan tetap terjadi."
"Bagaimana dengan baby Bryan Dad, sekarang aku sangat menyayangi dia."
"Lupakan lah, itu bukan tanggung jawab mu, tapi tanggung jawab Arkan. Meskipun dia bukan darah daging Arkan, tapi dia sudah jadi bagian keluarga Bright."
"Naiklah ke kamar mu."
"Daddy tidak menyayangi aku lagi?"
"Pergilah, sebelum daddy panggil mommy mu."
"Daddy jahat."
"Kamu lebih jahat."
Aleia bangkit dari duduknya, tapi bukan keluar dari ruangan itu, melainkan mendekati sang ayah dan memeluknya erat.
"Maafkan aku Dad, maafkan aku, maafkan Arkan," ucap Aleia diantara isak tangisnya yang terdengar jelas.
Mendengar itu daddy merasa sangat sesak, tapi mengabulkan keinginan Aleia bukanlah perkara mudah.
Mereka berdua sampai tidak sadar jika mommy Jia melihat keduanya di ambang pintu.
Dia membuang nafasnya perlahan. Manusia tak pernah lepas dari yang namanya kesalahan, dan kesempatan kedua berhak di dapatkan oleh siapa pun.
Malam bergulir.
Pagi-pagi sekali sekitar jam 8, Arkan dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah utama keluarga Carter.
Mommy Jia adalah yang pertama kali menyambut dan mama Elma langsung menangis di pertemuan pertama mereka, ketika masih berada di teras rumah.
"Maafkan Arkan Jia, aku mohon."
"Jangan menangis El, kita bicarakan ini pelan-pelan," mommy Jia memeluk lengan mama Elma dan membimbingnya untuk masuk.
Seluruh keluarga Carter tak terkecuali, juga keluarga Bright kini berkumpul di ruang tengah.
Arkan memohon pada semua orang agar dia bisa membawa Aleia pulang. Cinta mungkin hanya akan terdengar seperti omong kosong, karena itulah dia mengatakan jika akan bertanggung jawab pada Aleia, sesuai dengan janji suci yang pernah Arkan ucapkan di Altar pernikahan.
Aleia tak kuasa untuk menahan diri agar tidak menangis.
Kini semua orang hanya menunggu jawaban daddy Alex.