
Selamat membaca!
Pagi mulai menyapa lewat terik matahari yang menembus kaca mobil. Membuat Alissa seketika mulai mengerjapkan kedua matanya.
"Sepertinya aku ketiduran semalam." Alissa pun mulai terlihat menoleh ke arah kursi kemudi dengan perlahan sambil menyatukan kesadaran pada pandangan matanya yang masih terlihat samar. Namun, apa yang dilihatnya, membuat kedua matanya seketika membeliak saat ia tak lagi melihat Elliot di kursi kemudi mobil. Alissa hanya menemukan sebuah kartu kredit di sana dan bahkan ponselnya pun sudah tak lagi ada di saku celananya.
"Ke mana pria itu? Kenapa dia meninggalkan aku begitu saja dan bahkan ia juga membawa ponsel milikku?" Alissa bergegas keluar dari mobil dan terus mengedarkan pandangan matanya ke seluruh area yang masih dapat dilihatnya. Namun, tetap saja sosok pria yang dari semalam bersamanya kini bagai ditelan bumi, hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Kini Alissa benar-benar merasa sangat kesal sampai menendang sebuah kaleng yang ada di depan langkahnya. Ia tidak terima karena Elliot meninggalkannya begitu saja, setelah semua bahaya yang telah dilaluinya.
"Percuma saja semua bahaya itu aku hadapi bersamanya semalam, kalau ujung-ujungnya aku tidak mendapat berita apapun darinya," gerutu Alissa yang masih terus mencari keberadaan Elliot di sekitarnya.
...πΊπΊπΊ...
Sementara itu, Elliot tampak berada di dalam sebuah bus. Ia memang sengaja meninggalkan Alissa, karena ia tidak ingin jika wanita itu harus terlibat dalam bahaya yang sedang mengintainya setiap saat. Bukankah terlalu merepotkan bila Alissa ikut bersamanya karena untuk berlari dan berkelahi seorang diri akan sangat membuatnya jadi leluasa, itulah sebagian dari alasan yang ada dalam pikiran Elliot saat meninggalkan Alissa.
"Maafkan aku Alissa, aku tidak mau nyawamu sampai terancam, tapi nanti setelah masalah ini selesai aku pasti akan menemuimu lagi untuk berterima kasih karena kamu telah menolongku." Selain pergi meninggalkan Alissa, pria itu ternyata juga membawa ponsel wanita itu dan menggantinya dengan sebuah kartu kredit yang ia tinggalkan di kursi kemudi mobil.
Kini Elliot terlihat mulai mengambil ponsel itu dari saku jasnya. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk menghubungi Kelly dan mengajaknya bertemu.
Tanpa menunggu lama, panggilan telepon pun terhubung dan suara Kelly mulai terdengar menyapanya dari seberang sana.
π±"Iya halo Elliot, kamu di mana?" tanya Kelly memulai percakapannya di telepon.
π±"Temui aku di cafe tempat kemarin kita ingin bertemu, oke! Aku sedang menuju ke sana."
Tanpa berkata panjang lebar, Elliot langsung menutup panggilan teleponnya. Membuat Kelly merasakan keanehan atas perubahan dalam diri pria yang dicintainya itu.
"Kenapa ya Elliot sepertinya berubah kepadaku?" batin Kelly bertanya-tanya.
Namun, ia sadar betul bahwa saat ini yang paling penting bukanlah egonya. Melainkan keselamatan Elliot. Kini Kelly pun menepikan sejenak segala pikirannya. Ia langsung beranjak dari ranjang yang ditidurinya untuk mengganti pakaian dan pergi ke tempat yang sudah disepakatinya dengan Elliot.
30 menit waktu berlalu dengan begitu cepat. Kini Elliot baru saja menuruni bus yang dinaikinya, setelah ia tiba di halte yang berada di depan restoran tempat dirinya bertemu dengan Kelly.
"Apa Kelly sudah tiba lebih dulu di restoran itu ya?" batin Elliot sambil menatap jauh ke arah restoran tempat dimana ia akan bertemu dengan Kelly.
Setibanya di restoran yang memang buka 24 jam itu, pandangan matanya pun langsung tertuju kepada tiga orang laki-laki yang saat ini sedang memperhatikannya. Elliot seketika menghentikan langkahnya dan terus mengamati ketiga orang tersebut dari tempatnya berada.
"Sial, ternyata dugaanku benar! Orang-orang ini ada hubungannya dengan Kelly! Jika mereka tahu tempat ini berarti ponsel Kelly telah disadap oleh seseorang," geram Elliot di dalam hatinya.
Tak ingin membuang waktu, pria itu langsung memutar tubuhnya untuk menjauh dari restoran. Membuat ketiga orang itu mulai mengikuti jauh di belakangnya.
"Mereka harus aku habisi agar tak lagi mengejarku," gumam Elliot memiliki sebuah rencana.
Baru saja Elliot berbelok ke arah sebuah jalan yang berada tidak jauh dari restoran, mobil Kelly pun terlihat tiba di depan restoran. Namun, sebelum mobilnya masuk ke dalam area parkiran, wanita itu sempat melihat seorang pria yang memiliki potongan rambut yang sama dengan Elliot berbelok ke sebuah jalan yang berada jauh di depan sana, tapi bukan itu yang membuat Kelly khawatir, melainkan ketiga orang yang mengikuti di belakang pria itu.
"Itu sepertinya Elliot, tapi siapa ketiga orang itu?" gumam Kelly penuh pertanyaan.
Kelly pun merubah perseneling mobilnya untuk melaju mundur dan setelah itu ia mulai menginjak pedal gas pada mobilnya untuk menyusul pria yang dilihatnya mirip dengan Elliot yang kini sudah tak lagi terlihat olehnya.
...πΊπΊπΊ...
Di sebuah jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Elliot sedang berlari dengan cepat dan saat pandangan ketiga orang itu terhalang oleh dinding jalan, Elliot langsung bersembunyi di dalam sebuah tong sampah.
Ketiga orang itu pun ikut berlari untuk menyusul Elliot yang kini telah menghilang dari pandangannya. Sampai akhirnya setelah berbelok ke kanan kini ketiganya tepat berhenti di tempat dimana Elliot saat ini sedang bersembunyi.
"Sial kemana perginya pria bodoh itu, lagi-lagi kita kehilangan jejaknya."
"Menyusahkan memang pria itu, kalau begini Tuan Garry pasti akan sangat marah," ujar pria yang satunya menyahuti keluhan rekannya.
"Lebih baik kita cari pria itu sampai ketemu, agar Tuan Garry tidak kecewa dengan kita!" titah pria yang satunya lagi dengan wajahnya yang terlihat sangat geram terhadap Elliot.
Ketiga pria itu akhirnya memutuskan untuk berpencar mencari Elliot. Di saat mereka mulai lengah, Elliot pun seketika keluar dari dalam tong sampah dengan cepat, sambil menodongkan pistol ke arah ketiganya.
"Jangan bergerak atau kepala kalian akan pecah oleh peluru ini." Ancaman Elliot membuat ketiganya terhenyak kaget, mereka tak menyangka bahwa pria yang menjadi target buruannya mempunyai sebuah pistol untuk melawan mereka.
"Letakkan tangan kalian ke atas, cepat!" bentak Elliot dengan lantang.
Ketiganya menuruti apa yang diperintahkan oleh Elliot. Mereka saling pandang satu sama lain seolah mempunyai sebuah rencana.
Elliot mulai melangkah keluar dari tong sampah, ia langsung melangkah mundur untuk menjauhi ketiga pria yang saat ini masih mengangkat kedua tangan mereka.
Setelah Elliot berhasil menjaga jarak aman dengan ketiganya. Kini Elliot berupaya untuk menggali informasi tentang siapa yang memberi perintah pada mereka untuk menangkap atau bahkan membunuhnya.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian? Atau aku akan menembak kepala kalian satu persatu!"
"Ayo cepat katakan!" bentak Elliot karena ketiganya masih diam dan mengabaikan pertanyaannya.
Setelah lama menunggu, seorang pria itu akhirnya mulai membuka mulutnya. Namun, belum sempat pria itu mengucapkan satu nama, sebuah tembakan dari arah belakang ketiganya langsung menghujam kaki Elliot sebelah kanan, hingga membuat pria itu terjatuh sambil berteriak kesakitan.
"Sial, ternyata ada satu orang lagi." Elliot seketika pasrah dengan keadaannya saat ini. Namun, tiba-tiba terlintas dalam benaknya sosok Alice yang sangat ia rindukan.
"Maafkan aku Alice, Kakak tidak sempat melihat anakmu saat lahir nanti. Bahkan sebelum Kakak mati, Kakak tidak bisa mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu kepadamu," gumam Elliot terlihat begitu sedih akan nasibnya yang sedang berada di ujung tanduk.
...πΊπΊπΊ...
Bersambung βοΈ
Berikan komentar positif kalian ya.
Jangan lupa berikan juga gift untuk novel ini sebanyak-banyaknya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87