
Selamat membaca!
Pertarungan antara kedua pria yang memiliki dua tujuan berbeda pun di mulai. Benjamin mulai melancarkan serangan secara bertubi-tubi hingga membuat Gary kewalahan. Di sinilah Garry tersadar bahwa Benjamin memang bukan lawan yang bisa diremehkan.
"Ternyata kau boleh juga ya. Baiklah sekarang aku akan serius menghadapimu!" Garry tampak mengusap bercak darah yang ada di sudut bibirnya karena Benjamin berhasil memukul telak tepat di wajahnya.
Benjamin berdecih kesal. Ia merasa Garry tengah meremehkannya. Membuat pria itu tanpa aba-aba langsung menyerangnya kembali. Kali ini Benjamin memulainya dengan sebuah tendangan yang dapat dipatahkan oleh Garry. Setelah berhasil menghindari beberapa serangan Benjamin, kini Garry balik menyerang dengan pukulan lurus ke arah wajah Benjamin berulang kali. Serangan dari sisi kiri dan kanan coba dilancarkan oleh Garry secara bergantian. Namun, Benjamin dengan mudah dapat membaca serangan tersebut. Sampai akhirnya, Garry dengan liciknya mengeluarkan sebuah pisau kecil tanpa sepengetahuan Benjamin dari balik sakunya.
"Aku tidak punya pilihan lain. Walaupun cara ini licik yang terpenting aku bisa menang dari pria ini," batin Garry penuh rencana.
Kini pria itu tampak sudah menggenggam pisau kecil yang telah disembunyikannya dan bersiap menyerang.
Di saat Benjamin lengah, Garry dengan cepat menusuk sebelah kaki sang bodyguard hingga pria itu mengerang kesakitan. Benjamin pun mulai limbung dengan darah yang keluar dari luka tusukan yang tepat mengenai bagian pahanya. Namun, Benjamin tak begitu saja termakan rencana licik Garry. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk menendang bagian dada pria itu, membuatnya terpental beberapa langkah ke belakang. Tendangan keras yang membuat Garry sampai terbatuk hingga mengeluarkan bercak darah.
"Dasar bodyguard, sialan!" kecam Garry masih memegangi bagian dadanya yang terasa sakit akibat tendangan Benjamin.
Tanpa berlama-lama, Garry pun kembali bangkit dengan sorot mata yang semakin menajam. Saat ini, pikiran pria itu benar-benar menginginkan kematian Benjamin di depan matanya.
"Aku pasti akan membunuhmu!" Garry langsung mendekati Benjamin yang tengah sibuk mencabut pisau pada pahanya.
Setelah melihat sang bodyguard kembali bangkit, Garry tanpa ampun mulai melancarkan serangannya. Kali ini Benjamin terlihat kewalahan akibat luka tusukan pada pahanya, sungguh membuat gerakannya menjadi sangat lamban. Bahkan Benjamin sampai terjatuh beberapa kali karena tendangan dan juga pukulan Garry tak dapat ditepisnya.
"Pria ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Pantas saja Collins bisa mati di tangannya. Ternyata kemampuan bela dirinya di atas rata-rata. Sebaiknya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang nanti ada untuk menghabisi pria ini!" batin Benjamin mulai menyusun rencana agar dapat membunuh Garry dengan satu serangan pamungkas.
Di dalam mobil sport berwarna hitam milik Raymond, terlihat pria itu tengah fokus mengendarai mobilnya. Ia tak sendiri karena Richard ikut bersamanya. Tujuan mereka hanya satu, membantu para bodyguardnya menghadapi Garry. Baik Raymond dan juga Richard sebenarnya merasa ketiga bodyguardnya dapat mengatasi Garry dan semua anak buahnya. Namun, mereka membuang pikiran itu jauh-jauh karena mau bagaimanapun lawan yang mereka hadapi bukanlah orang biasa. Terlebih Garry adalah seorang mafia internasional yang pastinya memiliki rencana agar dapat lolos dari lubang jarum sekalipun.
"Titik GPS Benjamin sudah semakin dekat. Semoga kita belum terlambat," ucap Raymond sambil terus memerhatikan sebuah map pada monitor mobilnya. Raymond memang dapat melacak keberadaan Benjamin lewat mobil yang dikendarai oleh bodyguardnya itu. Lewat GPS yang terpasang pada mobil tersebut, Raymond dan Richard berhasil menemukan lokasi keberadaan Benjamin saat ini.
"Ingat, Ray! Jangan sampai terbunuh karena aku tidak akan tega memberitahu Alice dan juga kedua anakmu. Maka itu, hati-hati ya! Oh ya, sebaiknya kau gunakan rompi anti peluru ini!" titah Richard menegaskan kepada Raymond bahwa hal yang akan mereka hadapi nanti sangat berbahaya dan bukan sebuah latihan yang biasa mereka jalani berdua.
"Kau tenang saja, Richard. Aku janji tidak akan terbunuh, tapi sebaiknya kau juga harus berjanji. Ingat! Greta saat ini tengah mengandung dan anakmu nanti pasti sangat membutuhkan sosok ayah."
Perkataan Raymond membuat seulas senyuman seketika mengembang dari kedua sudut bibir Richard. Pria itu seolah mengiyakan lewat raut wajahnya yang tenang sambil memeriksa pistol yang saat ini berada dalam genggamannya. Sementara itu, Raymond mulai berdoa agar ketiga bodyguardnya dapat mengatasi Garry yang merupakan seorang mafia paling disegani di kota Melbourne.
"Semoga saja Benjamin, Arnold, dan Christopher bisa menang dalam pertarungan itu. Namun, jika mereka kalah, setidaknya kalian harus mampu bertahan menunggu kedatanganku dan Richard," batin Raymond yang mulai menambah kecepatan mobilnya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian.
Terima kasih banyak.