
Selamat membaca!
Situasi yang tegang di dalam lift bukan hanya dirasakan oleh Alissa yang kini terlihat meringkuk di dasar lift dengan rasa takut yang membuat tubuhnya gemetar, tapi juga Elliot yang tampak kesal dengan apa yang di hadapinya saat ini.
"Sial, nyaris saja peluru itu mengenai kepalaku," gumam Elliot yang tampak geram karena hampir saja nyawanya melayang, karena tembakan yang dilancarkan oleh Garry.
Kini Elliot mencoba tenang dan berpikir dengan keras agar dirinya dapat lolos dari kejaran Garry. Sampai akhirnya, sebuah ide pun seketika terbesit di dalam pikirannya.
"Kita harus mengelabui pria itu karena saat ini dia pasti sedang menyusul kita dengan menuruni tangga darurat," ucap Elliot mulai menjelaskan apa yang akan direncanakannya.
"Maksudnya Tuan apa ya?" tanya Alissa dengan wajahnya yang polos.
"Kita naik ke lantai paling atas dan kita akan melakukan hal yang sama seperti semalam, yaitu melompat dan berpindah ke roof top gedung lainnya."
Alissa seketika mencetak kerutan dalam pada keningnya sambil menggelengkan kepala. Ia kembali teringat akan apa yang pernah dilaluinya saat melompat ke roof top lain hingga membuatnya langsung melambaikan kedua tangannya ke arah Elliot.
"Tidak Tuan, tidak. Terima kasih banyak, saya menyerah kalau sampai harus melompat lagi seperti semalam. Lebih baik saya mati tertembak saja, ampun Tuan." Alissa mengatur napasnya yang kini berembus tak beraturan.
Elliot merasa semakin iba dengan Alissa, ia pun kembali mencari cara lain untuk bisa meloloskan diri dari Garry. Tiba-tiba kedua mata Elliot tertuju pada sebuah denah hotel yang menempel pada dinding lift. Elliot melangkahkan kakinya untuk mendekati denah tersebut, lalu mulai mengamatinya dengan seksama.
Setelah selesai mempelajari denah hotel tempat mereka berada saat ini. Elliot menautkan kedua alisnya, menatap ke arah Alissa dengan penuh rencana.
"Dengarkan aku baik-baik! Saat tiba di lantai 2 kita akan keluar dan setelah itu kita turun menuju lobi, melewati tangga darurat. Pria itu pasti mengira kita sudah keluar dari lobi ke arah pintu depan, padahal kita akan keluar lewat pintu belakang." Elliot langsung menekan tombol angka dua pada lift dan bersiap untuk menjalankan rencananya.
Sementara itu Garry terus memacu langkah kakinya, menuruni anak tangga dengan begitu cepat, hingga membuat napasnya semakin memburu penuh amarah. Setelah tiba di lantai dasar, Garry langsung melihat ke arah pintu lift yang sudah terbuka. Namun, sudah tidak lagi tampak Elliot maupun Alissa berada di dalamnya.
"Sial mereka kemana ya?" tanya Garry berdecak kesal, kini pria itu mulai beranjak ke arah luar lobi hotel dengan setengah berlari. Membawa rasa kesalnya yang semakin menguasai dirinya karena lagi dan lagi ia harus gagal untuk membunuh Elliot.
"Aku rasa sudah aman, kita harus bergerak cepat." Elliot langsung menarik tangan Alissa sambil menahan rasa sakit pada sebelah kakinya. Wajahnya benar-benar menampilkan kesakitan karena pria itu memaksakan dirinya untuk melangkah dengan berlari demi agar dapat lolos dari kejaran Garry.
"Aku jadi merasa iba dengan Tuan Elliot. Semoga semua masalahnya segera berakhir," batin Alissa terus melangkah mengikuti langkah Elliot yang tertatih.
Rencana Elliot pun akhirnya berjalan dengan sukses, kini keduanya sudah berada di dalam mobil Alissa dan Elliot-lah yang berada pada kursi kemudi. Tanpa membuang waktu, Elliot langsung melajukan mobilnya untuk meninggalkan area parkiran hotel.
"Kita selamat Tuan, lantas apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya Alissa yang sesekali masih menoleh ke arah belakang untuk memastikan keadaan saat ini.
Pertanyaan dari Alissa membuat pria itu kebingungan. Ia hanya terdiam sambil memutar otaknya dengan keras agar dapat menentukan jalan yang akan diambilnya setelah ini. Setelah beberapa menit fokus dengan pikirannya, tiba-tiba saja terbesit sosok Richard dalam ingatannya. Seseorang yang pasti dapat memberikan perlindungan padanya.
"Aku akan menemui Richard, setidaknya di sana aku akan aman," ungkap Elliot yang terlihat tenang dengan keputusannya.
Melihat wajah Elliot yang mulai dapat tersenyum, membuat Alissa ikut merasa tenang. Namun, di sisi lain hatinya ada kesedihan yang mulai menelusup masuk hingga memenuhi hati dan pikirannya. Kesedihan yang seketika merubah raut wajah Alissa menjadi tampak begitu sendu.
"Walau ini pertemuanku yang terakhir dengan Tuan Elliot, tapi aku sudah cukup bahagia, jika melihatnya selamat, karena yang terpenting bagiku Tuan Elliot dapat lolos dari semua ancaman pembunuhan ini," batin Alissa terus menatap Elliot yang sedang fokus dengan laju mobilnya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar dan gift kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87