
Selamat membaca!
Setibanya di lobi hotel, Kelly pun langsung menuju meja resepsionis untuk memesan sebuah kamar, sambil terus memapah tubuh Elliot bersama Alissa.
"Selamat siang, untuk berapa orang Nona?" tanya seorang resepsionis kepada Kelly.
"Untuk 3 orang ya, saya ingin kamar dengan 2 bed," jawab Kelly yang membuat wajah resepsionis itu menjadi bingung setengah mati karena saat ini di hadapannya, ada dua orang wanita yang sedang memapah tubuh seorang pria.
"Ini Nona kunci kamarnya, silahkan."
Kelly mengambil kunci tersebut dan tanpa membuang waktu mereka bertiga mulai melangkah menuju lift.
Tanpa disadari, resepsionis itu terus menatap ketiganya yang semakin menjauh. Ia terlihat tak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya.
"Sensasi di pagi hari, threesome yang pastinya akan pagi ini akan terasa panas dan ternyata masih ada wanita yang mau melakukan semua itu." Resepsionis itu sampai geleng-geleng kepala karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sesampainya di kamar hotel, Alissa dan Kelly masih terus memapah tubuh Elliot untuk masuk ke dalam kamar. Setelah berada di dalam, Elliot langsung duduk di sebuah sofa, ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar dan melepaskan tumpuannya dari pegangan kedua wanita yang sejak tadi membantunya untuk melangkah.
"Au." Elliot mengaduh menahan rasa sakitnya.
Alissa pun menatap iba ke arah Elliot dengan luka tembak pada kaki kanannya. Sementara Kelly dengan cekatan langsung menyiapkan air panas pada sebuah wadah yang tersedia di dapur dan meletakkannya di atas meja yang berada di depan sofa.
"Ayo kita harus segera mengeluarkan peluru pada kakimu! Agar tidak infeksi. Alissa bantu aku, tolong ambilkan pisau lipat di dalam tasku."
Alissa pun menuruti perintah yang dikatakan oleh Kelly. Setelah Alissa memberikan pisau tersebut, Elliot langsung merentangkan kaki kanannya di atas meja. Kelly melepas ikatan pada luka tembak di kaki kanan Elliot dan mulai membersihkan lukanya. Setelah selesai membersihkan lukanya dengan air hangat, Kelly mengambil sebotol alkohol yang sudah dibelinya di apotik.
"Tahan ya, pasti sakit sekali ini."
Elliot menggigit jas yang dikenakannya untuk menahan rasa sakit yang begitu luar biasa, ketika cairan alkohol mulai mengenai dan meresap ke dalam lukanya. Elliot mengerang kesakitan, hingga matanya memerah. Setelah selesai membersihkan lukanya, Elliot langsung membuka pisau lipat yang diberikan oleh Kelly dan mulai mengeluarkan peluru yang bersarang pada kakinya. Elliot meringis kesakitan, dahinya kini semakin basah dengan peluhnya. Melihat hal itu, Kelly langsung mengusap keringat Elliot menggunakan lengan kemeja yang dikenakannya, hingga membuat Alissa memalingkan wajahnya agar tak menyaksikan adegan mesra yang saat ini terjadi di depan matanya.
"Kenapa aku jadi cemburu ya melihat semua ini? Apa jangan-jangan..." batin Alissa mulai menyadari perasaannya yang salah.
Merasa salah dengan perasaannya, Alissa pun langsung mengusir semua itu dari pikirannya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, tidak, aku tidak boleh memiliki perasaan itu kepada Tuan Elliot. Ingat Alissa, pria ini sudah memiliki calon istri! Kamu harus berkaca siapa kamu Alissa, kamu itu hanya seorang wartawan," batin Alissa yang terus berusaha kuat untuk menampik perasaannya terhadap Elliot.
Berbeda dengan Alissa yang sedang berkutat dengan perasaannya, Elliot kini mulai menceritakan kepada Kelly tentang segala sesuatu yang menimpanya saat pertama kali tiba di kota Melbourne. Namun, saat mendengarnya Alissa pun jadi tersadar bahwa ini adalah waktu yang tepat mengumpulkan berbagai materi untuk beritanya. Ya, wanita itu kini mulai mengaktifkan ponselnya untuk merekam seluruh pembicaraan antara Elliot dan Kelly tanpa sepengetahuan mereka.
"Aku sendiri tidak tahu siapa mereka. Padahal aku sama sekali tidak pernah punya musuh di negara ini," jawab Elliot terlihat geram terhadap orang-orang yang telah mengejarnya itu.
Sama halnya dengan Elliot, Kelly pun tampak begitu kesal dan saat ini tengah mencurigai Garry beserta ayahnya yang berada dibalik peristiwa penyerangan itu. Namun, ada satu hal yang membuat Kelly berada dalam pusaran dilema, yaitu tentang alasan apa yang melatarbelakangi mereka sampai tega ingin menghabisi kekasihnya.
"Aku sebenarnya mencurigai ayah dan kakakku yang melakukan itu terhadapmu, dengan menyuruh orang suruhannya, tapi aku tidak memiliki bukti yang kuat, bahwa merekalah dalang dibalik semua peristiwa yang telah menimpamu," ucap Kelly yang akhirnya memberitahu kecurigaannya itu kepada Elliot.
Elliot langsung mengusap dagunya untuk berpikir dengan keras. "Tapi apa mungkin Ayah dan Kakakmu yang terlibat? Lantas apa alasan mereka sampai ingin menghabisiku?"
Kelly yang memang masih belum mengetahuinya, hanya dapat mengedikkan bahunya. "Aku masih bingung El, aku benar-benar enggak nyangka. Pasti ada motiv lain yang melatarbelakangi semua ini."
Alissa yang ikut menyimak percakapan itu, sebenarnya ingin menimpali untuk memberikan pendapatnya. Namun, wanita itu merasa bahwa ia tak memiliki hak untuk ikut campur dalam permasalahan keduanya.
"Apa mungkin ayah dan kakakmu tidak ingin aku menikah denganmu? Sehingga mereka berniat untuk membunuhku, tapi apa mereka tidak takut dengan hukuman yang akan mereka terima atau mungkin ayahmu kebal terhadap hukum?"
"Maksudmu?" tanya Kelly dengan menautkan kedua alisnya penuh rasa heran.
"Maksud dari perkataan Tuan Elliot itu adalah apa Ayah dan Kakakmu seorang mafia?" timpal Alissa yang tidak tahan untuk ikut berkomentar tentang apa yang didengarnya.
Kelly seketika menoleh ke arah Alissa. Manik matanya yang berwarna kebiruan, memantulkan sorot mata yang tajam menatap wajah Alissa, menunjukkan rasa tidak suka atas ucapan yang telah dikatakan oleh Alissa.
"Memang benar Ayahku adalah pimpinan organisasi mafia terbesar di kota Melbourne, itulah alasanku kenapa aku tidak mau bekerja pada perusahaan AXN dimana Kakakku yang menjabat sebagai CEO di sana. Tapi aku tidak percaya jika mereka ingin membunuhmu, hanya karena alasan agar kita tidak bisa menikah. Kalau benar mereka yang ada di balik semua ini, pasti ada alasan lain yang lebih besar, El."
Elliot masih terus menatap Kelly dengan beribu tanda tanya dalam pikirannya. Membuatnya tiba-tiba saja teringat dengan mimpi masa kecilnya yang berulang kali sering hadir dalam tidurnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku? Sepertinya aku harus menyelidiki silsilah keluarga Kelly. Siapa sebenarnya Kelly dan juga Ayahnya itu?" batin Elliot memutuskan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar dan gift kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87