Elliot Is My Husband

Elliot Is My Husband
Belum Usai



Selamat membaca!


Benjamin mulai bangkit menata kesadarannya yang sempat goyah. Ada perasaan sedih memikirkan nasib kedua rekannya, tapi ia sadar betul bahwa ini bukan akhir dari pembalasan dendamnya. Setelah memastikan kondisi Christopher yang tak sadarkan diri, kini langkah Benjamin mulai mendekati rumah yang telah hangus terbakar. Kobaran api masih tampak menyala dan belum padam. Langkahnya begitu tertatih. Pandangan yang samar dengan luka di bagian dahinya, membuat kondisi Benjamin bisa dikatakan tidak terlalu baik. Namun, rasa cemas mendorongnya untuk kuat mencari keberadaan Arnold, rekannya yang lain.


Dipandangnya sekeliling dengan jeli. Pria itu masih mencari keberadaan rekannya. Sampai akhirnya, di tengah keputusasaan yang mulai merebak, Benjamin menemukan tubuh Arnold setelah suara dari pria itu memanggil. Walaupun terdengar lemah, suara tersebut mampu membuat Benjamin tahu keberadaan rekannya.


"Arnold." Benjamin seketika menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya, sebuah pintu rumah yang terpental jauh saat ledakan terjadi. Pintu itu yang ternyata melindungi tubuh Arnold hingga tidak terbakar. Namun, akibat benturan keras yang terjadi, beberapa tulang rusuknya patah dan membuat pria itu tak sanggup bangkit.


"Sudah, sudah, kau tidak perlu bangun! Aku akan segera menghubungi ambulance untuk segera datang ke sini," ucap Benjamin sembari menyingkir badan pintu yang berada di atas tubuh Arnold.


Arnold tampak terkekeh kecil. Ia tak menduga bahwa Garry memiliki rencana selicik itu dan benar-benar jauh dari pemikirannya. "Pria itu sungguh pintar, dia bukan orang yang bisa disepelekan, tapi kau harus tetap memburunya. Aku rasa dia masih belum jauh dari sini, Ben. Kejarlah dia Ben, balaskan dendam Collins untuk kami!"


Tak ingin mengecewakan rekannya, Benjamin langsung mengiyakan permintaan Arnold yang hampir hilang kesadarannya. "Baiklah, aku akan tetap memburunya, tapi berjanjilah kau akan kuat sampai tim medis datang!"


"Apa kau meremehkanku, Ben? Aku tidak akan mati hanya karena ledakan itu, percayalah! Sekarang kejar, bunuh, dan selesaikan misi kita!" pinta Arnold dengan penuh kesungguhan.


Tak berapa lama kemudian, pria itu pun tak sadarkan diri. Sementara Benjamin, masih menatap rekannya itu sembari memastikan denyut nadi pada pergelangan tangannya. Walaupun ia cemas karena takut kehilangan rekannya lagi, tapi pada kenyataannya, Arnold memang benar-benar hanya pingsan. Hal itu pun membuat Benjamin merasa lega.


Pria itu mulai bangkit kembali. Sorot mata yang tajam dengan rahang mengeras, membulatkan tekad dalam diri Benjamin untuk mengabulkan permintaan Arnold.


"Tak peduli bagaimana kondisiku saat ini, aku akan memburunya! Bersiaplah kau, Garry!" kecam Benjamin dengan tangan yang mengepal erat.


Tak ingin semakin jauh kehilangan jejak Garry, Benjamin langsung berlari ke arah mobilnya berada. Ia merasa ada kekuatan baru yang timbul dalam dirinya. Terlebih ketika Arnold mengatakan permintaannya dan mengingat bahwa misinya masih belum usai. Misi untuk membalaskan dendam Collins. Misi itulah yang menjadi alasan, mengapa Benjamin masih terlihat memiliki tenaga, padahal lukanya terbilang tidak biasa saja.


Setelah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kedua matanya mulai memindai sekelilingnya. Mata yang bagai elang itu terus mencari keberadaan Garry jauh di depan sana.


"Benar kata Arnold dia masih belum jauh!" Benjamin sudah dapat melihat mobil Garry jauh di ujung jalan yang membentang di depannya. Jalan yang membelah hutan dan hanya memiliki dua ruas jalur. Jalan yang benar-benar indah bila dilihat dari atas sana.



...🌺🌺🌺...


Di tempat lain, tepatnya di kamar di mana Elliot masih tampak ditemani oleh seorang wanita yang terus menanti kesadarannya. Wanita itu adalah Alissa. Ya, Alissa meminta kepada Alice untuk mengajaknya ke London. Ia pun tak malu-malu, mengakui perasaannya terhadap Elliot kepada Alice yang notabenya adalah adik dari pria yang dicintainya.


"Tuan, sadarlah. Aku di sini, aku datang untukmu." Alissa masih tampak menggenggam tangan Elliot. Ada harapan besar terpatri dalam dirinya, melihat Elliot sadar dan memanggil namanya. Namun, sudah setengah jam berlalu, pria itu masih bergeming. Tak ada tanda-tanda bahwa Elliot mendengarnya.


Alissa pun hanya tertunduk. Bulir air matanya mulai membasahi kedua pipi. Sampai akhirnya, jemari Elliot perlahan bergerak membuat senyuman mulai terbentuk dari sudut bibir wanita itu. Sambil mengusap air mata, Alissa mulai mengangkat wajahnya untuk melihat wajah dari pria yang sangat ia rindukan.


"Tuan Elliott, akhirnya kau sadar," ucap Alissa penuh haru. Dilihatnya, pria itu tampak sedang mengerjapkan kedua matanya, walau dengan perlahan.


"Alis-sa.." Terdengar parau dan terbata, Elliot memanggil nama itu. Nama dari seorang wanita yang sudah lama sekali ia rindukan. Walaupun ia baru mengenalnya, tapi entah kenapa ada kenyamanan saat bersamanya. Hingga ketika mereka jauh, ia pun menjadi rindu.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih.


Follow Instagram Author : ekapradita_87