Elliot Is My Husband

Elliot Is My Husband
Bertemu Kelly



Selamat membaca!


Di sebuah gedung pernikahan yang sudah dipenuhi oleh banyaknya tamu undangan. Pernikahan yang mewah dengan dekorasi elegan di setiap detailnya. Kini Alice dan Raymond sudah melangkahkan kedua kaki mereka untuk masuk ke gedung pernikahan sembari menggendong kedua anak mereka dalam dekapannya masing-masing.


Gedung pernikahan mewah yang terletak di pusat kota Sydney.



Saat itu resepsi pernikahan baru saja di mulai dengan kedua mempelai yang terlihat melangkah begitu serasi menuju pelaminan. Wajah keduanya tampak bahagia dengan seulas senyuman yang tak pernah memudar untuk menyapa para tamu yang hadir di hari bahagia mereka.


Setibanya di atas pelaminan, pandangan mata mereka langsung tertuju akan sosok yang mereka kenal hadir menaiki pelaminan.


"Tamu jauh datang, sayang," ucap Richard memberitahu Greta akan siapa yang datang.


Begitu berada di hadapan kedua mempelai, Raymond dan Alice langsung memberikan selamat dan ikut merasa bahagia atas pernikahan keduanya.


"Tentu aku tidak mungkin tidak datang Rich, lagipula ini hari yang bersejarah untuk kalian. Selamat ya Brother."


"Terima kasih ya Ray, terima kasih karena kamu sudah mau datang jauh-jauh ke pernikahanku," jawab Richard masih menjabat tangan sang adik.


Setelah Raymond, kini giliran Alice memberi selamat kepada sang kakak ipar, sementara itu Raymond beralih kepada Greta. Di sinilah ikatan masa lalu yang pernah terjadi sudah terlihat pudar di antara keempatnya.


"Selamat berbahagia ya Richard, semoga kamu dan Greta selalu diberikan kebahagiaan seumur hidup," ucap Alice sambil menggendong Valicia dalam dekapannya.


"Terima kasih Alice. Semua ini untuk kebahagiaan kita bersama. Kamu juga bahagia ya bersama Raymond," jawab Richard yang membuat Alice tersenyum.


Berbeda dengan Richard dan Alice, situasi canggung justru diperlihatkan ketika Raymond dan Greta saling berhadapan.


"Greta, akhirnya sekarang kamu sudah memperoleh kebahagiaanmu. Maafkan aku ya atas semua kesalahanku padamu di masa lalu. Hiduplah bahagia bersama Richard karena Kakakku itu pria yang baik."


"Aku sudah melupakan masa lalu kita, sekarang tidak perlu lagi bahas, lagipula bukan hanya kamu yang salah, tapi juga aku. Obsesiku yang berlebihan membuatku seperti orang gila mengejarmu, sampai akhirnya Richard menyadarkanku dan aku beruntung akan hal itu," jawab Greta penuh haru, saat mengingat semua yang dilakukannya sudah melampaui batas apalagi sampai mencelakai Raymond dan Alice.


"Pokoknya aku doakan, semoga kalian secepatnya mendapatkan momongan ya!" Raymond pun berlalu dan menunggu Alice di ujung pelaminan.


Setelah Raymond berlalu, giliran Alice yang kini memberi ucapan selamat kepada Greta dengan langsung memberi sebuah pelukan pada tubuh Greta, walau terhalang Valicia yang masih berada dalam gendongannya.


"Selamat ya Greta. Bahagia selalu ya dengan Richard."


"Terima kasih banyak ya Alice. Ponakan Tante ini lucu banget sih, Alice anakmu kenapa begitu menggemaskan, semoga aku juga punya anak kembar seperti kalian ya."


"Aku doakan Greta, semoga secepatnya kalian menyusul kami ya. Lagipula punya anak lucu itu sangat menyenangkan, selalu ada saja tingkah menggemaskan yang mereka berdua lakukan setiap harinya."


Greta terkekeh lucu sembari menggenggam tangan mungil Valicia.


"Valicia, sini gendong Tante mau gak?" tanya Greta dengan mendekatkan wajahnya ke arah Valicia yang menggemaskan.


"No.." celoteh Valicia merengek, memberikan kode bahwa ia tak ingin jauh dari dekapan Alice.


"Wah dia gak mau Greta, maaf ya. Memang Valicia selalu manja denganku. Bahkan dengan Raymond pun selalu menangis dia."


"Dasar anak Mommy Alice ya."


Akhirnya Raymond dan Alice menyudahi canda tawa mereka di atas pelaminan untuk memberikan kesempatan pada tamu undangan yang lainnya. Mereka pun segera turun karena memang antrian sudah mulai mengular di belakang mereka.


"Sayang, kita berapa hari akan menetap di Australia?" tanya Alice menautkan kedua alisnya.


"Paling dua hari ya sayang."


Alice pun tersenyum karena baginya dua hari adalah waktu yang cukup untuk mengajak kedua anaknya berkeliling kota Sydney.


"Kelly," sapa Alice memanggil.


Kelly menoleh dan melihat kedatangan Alice yang semakin mendekatinya, hingga membuatnya terhenyak karena pertemuan ini adalah sesuatu yang tidak diinginkannya setelah gagal menikah dengan Elliot dan membuat Elliot sampai koma.


"Apa kabar Kelly? Aku sepertinya tidak perlu terlalu sopan kepadamu ya!" ucap Alice dengan tegas mengingat apa yang dilakukannya kepada Elliot, sungguh membuatnya sangat geram.


"Maafkan aku Alice, tapi semua itu bukan keinginanku untuk menyakiti Elliot."


Alice menautkan kedua alisnya. Sorot matanya tajam menatap wajah Kelly yang kini terlihat canggung. Hubungan baik di antara mereka harus berubah tegang, saat Alice mendapati kondisi sang kakak hampir tidak bisa diselamatkan. Namun, beruntung semenjak dipindahkan ke London keadaan Elliot berangsur membaik, walau masih dalam kondisi belum sadarkan diri.


Mendengar tanggapan Kelly yang seakan tak tahu apa-apa, Raymond pun menimpalinya.


"Selama dua hari di sini, aku akan menemui Ayahmu Nona Kelly, aku akan meminta pertanggung jawaban padanya atas apa yang dilakukannya kepada Elliot!"


Kelly menelan salivanya dengan kasar. Rahang Raymond yang sudah mengeras, menunjukkan bahwa dirinya juga sangat kecewa dengan perlakuan yang dilakukan oleh keluarga Kelly terhadap Elliot.


"Tapi apa kalian punya bukti? Karena semua itu hanya bersumber dari perkataan Alissa saja 'kan, aku sendiri menanyakan kepada Kakak dan Ayahku tapi mereka selalu saja mengelak. Aku juga kesal Alice, aku ingin marah, akan tetapi aku tidak punya cukup bukti."


Raymond menaikkan kedua alisnya dengan sorot mata yang tajam. "Kau tenang saja Kelly, biar Benjamin yang akan mencari bukti itu. Ayah dan Kakakmu hanya tinggal menunggu waktu saja sampai polisi datang menangkapnya!" kecam Raymond dengan gurat amarah yang terlihat di wajah tampannya.


Kelly hanya diam dan tak menjawab apa yang Raymond katakan. Wanita itu memilih untuk pamit selesai mengatakan sesuatu pada Alice. "Maaf jika pertemuan kita harus seperti ini, tapi aku juga akan menyelidiki semuanya dan setelah aku mendapatkan bukti yang kuat. Aku pasti akan pergi dari rumah untuk meninggalkan keluargaku. Aku permisi Alice."


Kepergian Kelly membuat Alice masih menyimpan amarah padanya karena sebagai wanita yang menjadi alasan Elliot datang ke Australia, Kelly tak bisa melindungi pria yang dicintainya dari keluarganya. Bahkan wanita itu saja masih belum percaya sepenuhnya kalau keluarganya adalah dalang di balik penyerangan Elliot.


"Sayang, kamu harus tenang! Kita pasti akan menyeret keluarga mereka ke dalam penjara, atas apa yang mereka lakukan terhadap Elliot!"


Alice pun mulai tersenyum menatap Raymond dengan lekat. Ia sangat mempercayai semua perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Hatinya kini sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Aku mengandalkanmu Tara, jaga Kakakku dengan baik ya," batin Alice sembari menghela napasnya untuk meredakan amarah yang membuncah dalam dirinya.


Saat Alice teringat tentang kondisi Elliot, tiba-tiba suara dering ponselnya berbunyi dan wanita itu pun langsung menjawab panggilan telepon tersebut yang ternyata dari adiknya yang bernama Tara.


📱"Ya, halo Tara, ada apa kamu menelepon?" tanya Alice memulai percakapannya.


📱"Kak, Elliot sudah sadar," jawab Tara dengan penuh sukacita.


Mendengar kabar dari sang adik, hati Alice begitu bahagia. Ia benar-benar tak dapat menahan dirinya dan langsung menangis karena begitu terharu. Tangisan Alice membuat Raymond begitu cemas kepadanya.


"Kenapa sayang? Apa yang terjadi dengan Elliot? Kenapa kamu menangis?" tanya Raymond penuh tanda tanya.


"Ini tangisan kebahagiaan sayang. Elliot sudah sadar, sayang."


Perkataan Alice membuat senyuman mulai mengembang dari kedua sudut bibir pria tampan itu.


"Terima kasih Tuhan, sekarang akan lebih mudah untuk menyeret keluarga Kelly ke dalam penjara karena ada kesaksian langsung dari Elliot." Raymond melingkarkan sebelah tangannya ke tubuh sang istri dan mulai mendekapnya.


...🌺🌺🌺...


Sementara itu di Bandara Heathrow, London, tampak seorang pria baru saja tiba dan terlihat melangkah dengan santai menuju pelataran lobi. Pria tampan dengan kaca mata hitam yang ia kenakan dan membawa satu koper pada tangannya.


"Karena tembakan dari pria itu, aku baru bisa menyusulmu ke sini Elliot, kau itu sungguh sangat menyusahkanku!" kecam Garry yang mau tak mau harus terbang ke London untuk menghabisi Elliot.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️


Baca season pertamanya di Penjara Hati Sang CEO.