Elliot Is My Husband

Elliot Is My Husband
Melarikan Diri



Selamat membaca!


Setelah Kelly pergi, Alissa kini mulai mendekati Elliot yang masih bersandar di atas sofa. Wanita itu memilih untuk duduk di seberang pria itu karena ada sesuatu yang ingin dikatakannya.


"Tuan, boleh aku berpendapat tentang masalah yang sedang menimpamu ini?" tanya Alissa sambil duduk di seberang Elliot.


"Memang apa pendapatmu?" Elliot bertanya balik pada Alissa sambil menampilkan wajah penasarannya.


"Mungkin ini ada hubungannya dengan Nona Kelly, karena setiap Tuan menghubunginya pasti semua penjahat itu tahu keberadaan Tuan." Alissa mengusap dagunya sambil menganalisa semua yang telah terjadi terhadap Elliot.


Elliot sejenak terdiam untuk berpikir.


"Sepertinya perkataan Alissa memang ada benarnya juga ya," batin Elliot mulai menyadari.


...🌺🌺🌺...


Saat Kelly terlihat keluar dengan tergesa dari lobi hotel, Garry pun mulai menyelinap masuk ke dalam lobi secara diam-diam. Ia langsung melangkah menuju sebuah lift yang berada di ujung lobi untuk mendatangi Elliot sekaligus membunuhnya dengan tangannya sendiri.


"Akhirnya semua ini akan berakhir, kau akan mati di tanganku Elliot dan rahasia Ayah akan tetap aman selamanya," gumam Garry dengan rahang mengeras dan sorot mata yang tajam.


Hanya butuh waktu beberapa menit, kini Garry pun tiba di depan kamar Elliot. Pria itu mulai mengetuk pintu kamar dengan perlahan dan seolah-olah suaranya menyerupai seorang room boy yang sedang melakukan kunjungan ke setiap kamar hotel.


"Permisi layanan kamar," ucap Garry yang sedang berakting agar dapat masuk dengan mudah ke dalam kamar tanpa menimbulkan keributan.


Tanpa ada curiga, Alissa pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Namun, baru saja wanita itu hendak membuka pintu kamar hotel, Elliot langsung menghentikan dengan menggenggam tangan Alissa saat tangan wanita itu sudah menggenggam handle pintu.


"Alissa berhenti! Dia bukan room boy." Elliot berbicara dengan nada berbisik kepada Alissa yang seketika langsung merasa gugup.


Alissa kini mematung diam di depan pintu dengan peluh yang sudah mulai terlihat di keningnya. Rasa takut kembali menyelinap ke dalam pikirannya. Ia teringat kejadian yang paling menegangkan dalam hidupnya, ketika ia harus melompat ke roof top hotel lainnya yang membuatnya hampir terjatuh.


Elliot beranjak dari posisi duduknya untuk menghampiri Alissa dengan langkah yang tidak sempurna. Maklum saja luka tembakan itu belum sepenuh pulih hingga mengganggu langkah kakinya yang terlihat pincang.


Elliot mengambil sebuah lampu tidur dari atas nakas. Lampu tidur yang terbuat dari besi.



"Alissa dengarkan aku, kau pegang lampu ini dan pukul ke arah kepala pria itu, saat dia masuk. Ingat pukul dengan seluruh tenagamu!" titah Elliot berbisik ke telinga Alissa.


Alissa masih tak bergeming dengan rasa gugupnya. Wajahnya kembali memucat seperti yang ditampilkannya saat semalam. Elliot kini melangkah lebih dekat, hingga saat ini keduanya sudah saling berhadapan. Elliot menatap kedua mata Alissa dengan dalam, lalu menangkup kedua sisi wajah wanita cantik itu yang kini sudah terlihat gemetar. Namun, Elliot tak menyerah, ia terus berusaha untuk meyakinkan Alissa.


"Dengarkan aku baik-baik! Kita tidak punya banyak waktu. Hanya kamu yang bisa menolongku saat ini. Aku akan sangat berhutang budi jika kamu mau menolongku."


Alissa mulai tersadar dari rasa takut yang seakan membelenggunya.


"Tanpa kamu minta, aku pasti akan membantumu, Tuan!" Alissa menggenggam kedua tangan Elliot untuk melepaskan dari wajahnya.


Sesaat pintu terbuka. Garry mulai melangkah masuk, namun dengan wajah yang sudah memakai sebuah topeng. Garry terus menyodorkan pistolnya ke arah Elliot hingga membuat Elliot melangkah mundur.


"Siapa kamu?" tanya Elliot berulang kali, namun tetap saja Garry tak menjawabnya.


Elliot terus melangkah mundur karena Garry semakin merangsek masuk ke dalam kamar hotel dan menutup pintunya.


"Kau itu seperti belut Elliot yang sudah aku tangkap, tapi sebentar lagi, aku akan membunuhmu!" Garry mendengus dengan kasar sambil mulai menarik pelatuk pada pistolnya.


Elliot pun langsung melirik ke arah Alissa yang kini ada di belakang Garry. Lirikan yang merupakan isyarat untuk Alissa agar segera memukul Garry dengan sekuat tenaganya.


"Ayo Alissa sekarang pukul pria ini sekuat-kuatnya!" gumam Elliot dengan sorot mata yang tajam, menatap wajah Alissa yang kini sudah bersiap untuk memukul.


Tak berapa lama, Garry yang mulai menyadari lirikan mata Elliot, langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya dan kemudian saat itulah Alissa memukul kepala Garry sekeras-kerasnya hingga pistol yang berada dalam genggaman Garry pun seketika terlepas. Membuat pria itu limbung merasakan pening pada bagian kepalanya akibat hantaman benda keras itu. Saat melihat kesempatan itu, Elliot pun dengan cepat mendorong tubuh Garry hingga jatuh ke lantai. Lalu, ia langsung menarik tangan Alissa untuk mengajaknya keluar dari kamar hotel.


Garry pun berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya dan mengambil pistolnya. Tak membuang waktu, pria itu mulai melangkah untuk mengejar Elliot dengan amarah yang semakin memuncak dalam dirinya.


"Awas kau Elliot! Bukan hanya kau yang akan aku bunuh, wanita itu juga akan mati."


Garry sudah keluar dari kamar hotel dan mulai melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengejar Elliot ke arah lift yang berada di ujung koridor. Sementara Elliot dan Alissa masih tertahan di pintu lift, masih menunggu pintu lift terbuka, sambil terus menoleh ke arah belakang dengan raut wajah yang panik.


"Sial, lama sekali pintu lift ini." Elliot terus menekan tombol lift berulang-ulang. Namun, pintu lift seperti tertahan di lantai 6. Membuat keduanya menjadi semakin panik akan situasi yang tengah mereka hadapi saat ini.


"Tuan bagaimana ini?" Alissa yang hampir menangis karena rasa takutnya. Membuat Elliot menjadi tidak tega dengannya.


"Alissa pergilah ke tangga darurat, kau akan aman! Percayalah ini adalah urusanku, kau tidak perlu terlibat dengan semua ini! Pria yang di sana itu, yang sedang mengejarku tidak akan melepaskanku sampai dia berhasil membunuhku jadi kalau kamu terus bersamaku, kamu akan selalu dalam bahaya. Jadi pergilah Alissa!" Elliot mendorong tubuh Alissa untuk mengarahkannya menuju pintu tangga darurat yang berada hadapannya.


Alissa pun menghempaskan tangan Elliot dengan kedua alisnya yang saling bertaut. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Tuan," bantah Alissa begitu tegas menolak perintah Elliot. Raut keras kepala wanita itu seketika mengingatkan Elliot akan sosok Alice, adiknya.


"Sial, wanita ini benar-benar membuatku cemas! Aku tidak bisa leluasa bila dia tetap bersamaku, jika aku mati tidak masalah, tapi aku tidak mau wanita ini ikut menjadi korban," batin Elliot mengesah kasar, terus menatap pintu lift yang kini sudah mulai terbuka.


Sesaat pintu lift terbuka. Keduanya dengan cepat masuk dan saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba sebuah peluru nyaris mengenai kepala Elliot. Beruntung pintu lift yang bergerak menutup membuat peluru itu mengenai ujung pintu lift tersebut.


Elliot dan Alissa terhenyak menatap ke arah Garry dari ujung koridor yang kini berlari ke arah lift.


"Ya Tuhan, tolong bantu aku dan Tuan Elliot lolos dari pria itu," batin Alissa terus berdoa sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah dengan bibir yang gemetar.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar dan Gift kalian ya jika kalian suka dengan novel ini. Jangan lupa bantu share ke sosial media agar teman-teman yang lain bisa tahu tentang novel ini.


Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87