
Selamat membaca!
Elliot mengeluarkan pistol yang berada di balik celananya. Ia kemudian mengintip dan mulai menghitung ada berapa orang yang sedang menembakinya dari roof top yang berada di seberangnya.
"1,2,3,4,5 hanya ada 5 orang."
Elliot mengeluarkan amunisi pada pistol yang digenggamnya.
"Peluru di dalam pistol ini hanya ada 3, berarti aku tidak boleh meleset."
Elliot menatap tajam ke arah kelima orang yang masih terus menembakinya. Beruntung pilar yang saat ini melindungi mereka masih tampak kokoh.
"Alissa siap ya, kamu harus berlari sekencang-kencangnya!" titah Elliot menatap wajah Alissa yang terlihat tegang dan penuh kepanikan.
Alissa menarik napasnya panjang. Ia mengesah kasar untuk mengurangi beban, yang kini terasa menghimpit di kedua pundaknya.
Elliot keluar dengan cepat dari pilar tempatnya bersembunyi, ia berguling-guling sambil sesekali melepaskan tembakan ke arah kelima orang itu yang tidak siap menerima tembakan dari Elliot, mereka tidak menyangka jika Elliot memiliki senjata untuk balik menyerang mereka. Dua tembakan tepat mengenai kedua orang yang seketika langsung roboh tanpa perlawanan.
"Sekarang Alissa, larilah!"
Alissa berlari dengan sangat kencang sambil merunduk. Saat tiba di depan pintu roof top, Alissa langsung membukanya dengan kasar dan masuk ke dalam. Kini Alissa telah berada di tempat yang aman.
"Akhirnya rencanaku berhasil," ucap Elliot tampak lega.
Elliot terus merunduk dan mengintip dari celah di antara kedua tong sampah besar yang saat ini melindunginya.
"Peluruku tinggal 1, mereka ada 3 orang. Kemungkinan tipis untuk aku bisa sampai ke pintu di sana."
Elliot berdecih kesal.
"Aku tidak boleh mati di sini. Lagipula aku masih ingin bertemu dengan keponakanku di London jadi aku harus tetap hidup," gumam Elliot terus memutar otaknya untuk menemukan cara agar berhasil lolos dari ketiga orang yang saat ini masih mengejarnya.
Tiba-tiba Elliot menyeringai licik dengan sebuah ide yang seketika menyelinap masuk di dalam pikirannya.
Elliot keluar dari tempat persembunyiannya.
"Aku menyerah, tangkaplah aku!"
Ketiga orang itu tak percaya begitu saja dengan perkataan Elliot. Mereka memerintahkan Elliot untuk membuang pistol yang saat ini masih berada dalam genggamannya.
"Cepat buang pistolmu!" bentak seorang pria dengan lantang, tampak wajahnya begitu geram karena selalu gagal menangkap Elliot.
Elliot membuang pistolnya jauh-jauh dari tempatnya berdiri. Setelah memastikan Elliot telah melakukan perintah mereka, ketiga pria itu mulai melompat ke seberang roof top untuk menghampiri Elliot.
"Inilah saatnya," ucap Elliot yang langsung melompat ke arah pistol yang di telah dibuangnya, lalu setelah mengambilnya Elliot melepaskan sebuah tembakan kepada seorang pria yang dalam sekejap langsung terkapar. Elliot pun dengan cepat menghampiri seorang lagi lalu melumpuhkannya dengan dua pukulan telak pada wajah dan perutnya. Elliot mengambil pistol dari pria yang berhasil dilumpuhkannya, kemudian ia berdiri berbarengan dengan seorang pria yang tinggal menyisakan satu orang.
Kini mereka berhadapan satu lawan satu dan sama-sama mengarahkan pistol saling memberi ancaman.
"Kita lihat siapa yang akan mati!" kata pria itu yang yakin akan kemenangannya.
Elliot terlihat menyeringai penuh rencana.
"Kau pikir aku takut dengan gertakanmu," jawab Elliot menajamkan sorot matanya.
Pria itu terus memperhatikan genggaman tangan Elliot yang saat ini terus mengarahkan pistol ke arahnya. Namun, ada hal yang luput dari pengamatan pria itu, sebuah pistol yang digenggam Elliot dibalik tubuhnya menggunakan tangannya yang lain.
Elliot ternyata menggenggam dua buah pistol.
Tak berapa lama suara tembakan mulai menderu memenuhi seisi ruangan. Peluru itu menghujam dada kiri pria itu hingga membuatnya langsung tersungkur dengan darah kental yang terus mengalir dari bagian dadanya.
Elliot terkekeh penuh kemenangan.
"Kau terlalu percaya diri bodoh!"
Elliot berdecih dengan kesal. Pikirannya saat ini hanya satu, menemui Kelly dan menanyakan segala sesuatu yang telah menimpanya, mulai dari sebuah truk menabrak taksi yang ditumpanginya, sampai dirinya dikejar-kejar oleh beberapa orang yang bahkan ingin membunuhnya.
...🌺🌺🌺...
"Elliot." Kelly terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah, di dalam mimpi ia melihat beberapa orang sedang mengejar Elliot. Sampai akhirnya, sebuah tembakan mengenai dada kiri Elliot.
"Aku tidak ingin Elliot sampai terluka. Lindungi dia Tuhan," lirih Kelly penuh harap yang masih dibalut rasa cemas atas mimpi buruknya.
Kelly masih terduduk dengan raut gelisah. Pikirannya saat ini begitu merindukan sosok laki-laki yang sangat dicintai, hadir menemaninya.
"Aku harus menemui Elliot besok."
Kelly kembali menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Walau pikirannya masih begitu kalut memikirkan Elliot, namun ia coba memaksakan kedua matanya, agar lekas terpejam.
"Aku harus cepat tidur, agar waktu bisa cepat berganti dan aku dapat bertemu dengan Elliot," batin Kelly coba membuat dirinya terlelap.
Namun semakin Kelly mencoba, bayangan Elliot terus bertahta di dalam pikirannya, hingga membuat rasa rindu membuncah di hatinya.
Kelly beranjak dari ranjang untuk mengambil ponsel yang berada di atas sebuah nakas. Ia mulai mengetik sebuah pesan untuk dikirim kepada Elliot.
Selesai mengetiknya, Kelly menekan tanda panah yang berada di pojok kanan bawah layar ponselnya. Pesan pun terkirim. Selama beberapa menit Kelly terus memandangi layar ponselnya, menunggu dengan cemas jawaban pesan dari Elliot. Namun semakin lama rasa kantuk yang tadinya hilang, kini mulai hadir bergelayut di kedua matanya. Kelly pun memutuskan untuk kembali tidur setelah meletakkan ponselnya di tempat semula.
...🌺🌺🌺...
Elliot dan Alissa kini sudah berada di luar gedung. Keduanya terus menjauh untuk menghilangkan jejak dari anak buah Garry yang terus memburu mereka. Elliot terus mengedarkan pandangan, untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Tatapan matanya seketika terhenti pada sebuah objek yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Di sana ada mobil, sepertinya kita harus mencurinya lagi untuk tumpangan kita."
Alissa mendengus kasar, ia sebenarnya tidak menyetujui atas apa yang ingin dilakukan oleh Elliot. Namun ia tak punya pilihan lain, selain mengikuti apapun rencana Elliot. Walau ia hanya bisa pasrah, namun otaknya terus berpikir dengan keras, siapa sosok laki-laki yang saat ini bersamanya dan sedang mencuri sebuah mobil di depan matanya.
"Apa ini mimpi atau sebuah kenyataan?" gumam Alissa tak menyangka bisa melakukan pencurian itu.
Alissa yang biasanya selalu meliput berbagai berita di kota Melbourne, kali ini tak bisa berkutik dan membiarkan sesuatu yang dibenci terjadi dalam pandangan matanya. Ia memang sangat membenci tindak pencurian, karena baginya itu sangat merugikan orang lain. Selain itu Alissa juga sering memperjuangkan hak para wanita yang kehormatannya telah direnggut oleh kalangan parlemen atau orang-orang terkemuka yang menjadikan uang sebagai alat kekuasaan untuk menutupi segala aib mereka dari media. Namun, Alissa sama sekali tak tergiur dengan semua iming-iming yang ditawarkan padanya, ia dengan berani menguak berita itu dan mem-blow up-nya ke media, hingga menjadi sebuah headline.
Sungguh keberanian yang sangat tinggi untuk ukuran seorang gadis, yang bahkan tingginya hanya mencapai dagu Elliot.
Alissa terus merutuki dirinya, atas apa yang saat ini disaksikannya dengan mata kepala sendiri.
"Sebenarnya pria ini siapa? Apa profesinya, sampai dia mengerti cara untuk mencuri mobil? Ya Tuhan maafkan aku yang hanya diam melihat mobil ini dicuri, tapi kami tidak punya pilihan lain Tuhan," gumam Alissa sambil mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Elliot memecahkan kaca pada bagian kursi kemudi, menggunakan ujung pistolnya, hingga membuat serpihan kaca jatuh berhamburan. Setelah berhasil membuka pintu mobil, Elliot dengan cepat mengeluarkan dua buah kabel yang berada di bawah kemudi. Ia mulai menyatukan dua buah kabel itu, untuk menyalakan mesin mobil. Tak butuh waktu lama, kini mesin mobil sudah terdengar bising.
"Ayo naik! Apa yang kau lihat di sana?" titah Elliot yang heran, karena Alissa hanya mematung diam melihat aksinya.
Alissa langsung berlari kecil untuk masuk ke dalam mobil. Setelah Alissa duduk di kursi samping kemudi, Elliot mulai menginjak gas mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, menelusuri lalu lintas kota Melbourne yang terlihat sepi.
Sudah 30 menit lamanya Elliot mengendarai mobil. Selama itu beberapa kali ia terus menguap menahan rasa kantuk yang semakin melemahkannya. Elliot sesekali menatap ke arah Alissa yang kini sudah terlelap.
"Kenapa semakin lama aku mulai tertarik dengan gadis ini ya?" tanya Elliot dalam hatinya, sambil terus memandangi wajah Alissa yang terlihat cantik saat terpejam.
Langit malam saat itu, semakin terlihat berkilau dengan cahaya lampu warna-warni yang berpijar, suasana kota masih tampak terang dan berkilau malam itu, namun tidak untuk kedua mata Elliot yang kini sudah meredup dan sayup. Elliot pun mematikan mesin mobil, kemudian membuka sedikit kaca mobil pada sisi kanan dan kiri sebagai tempat sirkulasi udara untuknya bernapas.
"Sekarang aku sudah bisa tidur," ucap Elliot mulai memejamkan kedua mata, sambil melipat kedua tangan di atas dadanya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar, like dan gift kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87