
Selamat membaca!
Benjamin mulai memacu mobil yang dikendarainya. Pria itu seolah tak memedulikan lebar jalan yang semakin mengecil dan begitu rawan untuk terperosok ke jurang.
"Walau harus mati sekalipun, aku akan membalas kematian Collins. Ini demi Christopher dan juga Arnold," ucap Benjamin dengan tatapan tajamnya. Sorot mata yang terus menatap ke depan mengamati jalan yang kini dilaluinya.
Sampai akhirnya, mobil yang dikendarai Benjamin pun dapat menyusul mobil yang dinaiki oleh Garry dan Rui. Keduanya pun begitu terkejut, saat melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi semakin mendekat ke arah mereka.
"Itu siapa? Apa jangan-jangan para bodyguard itu selamat?" tanya Garry terus melihat ke arah belakang dan mengamati mobil berwarna hitam yang tengah mendekat ke arahnya.
"Tembak mobil itu Garry! Itu pasti salah satu dari mereka. Aku yakin dari ketiga bodyguard itu ada yang selamat dari ledakan itu!" Rui mulai menambah kecepatan mobilnya untuk memperlebar jarak yang semakin dekat.
Sementara itu, Garry kini mulai menembaki mobil Benjamin secara bertubi-tubi. Tembakan yang menimbulkan suara bising akibat gesekan peluru dengan badan mobil. Namun, Benjamin terus memacu kecepatan mobilnya. Ia tak menghiraukan tembakan itu karena mobil yang saat ini dikendarainya memang anti peluru.
"Sial, mobil itu anti peluru, Dad!" gerutu Garry yang mulai berhenti menembaki mobil Benjamin karena semua itu hanya berakhir sia-sia.
"Cepat ambil di bawah kursi belakang ada RPG! Tembak dia dengan itu, sekuat apa pun mobilnya pasti tidak akan mampu bertahan," ungkap Rui yang terlihat geram karena mobil hitam itu terus membuntuti beberapa meter di belakang mobilnya.
Garry dengan cepat mengambil RPG seperti yang dikatakan oleh sang ayah. Setelah senjata itu ada dalam genggamannya, Garry kembali membidik mobil Benjamin lewat langit-langit mobil yang memang sudah dibuka oleh Rui sejak tadi. Kini pria itu sudah bersiap untuk menembak setelah memasukan satu peluru RPG ke dalam selongsong senjata itu.
RPG pun melesat tepat ke arah mobil Benjamin. Namun, berkat kelihaiannya, Benjamin berhasil menghindar. Walaupun mobilnya harus tergores dinding tebing yang membuat bagian kiri mobilnya rusak parah.
"Sial, apa dia masih punya peluru RPG lagi? Aku tidak punya pilihan lain." Benjamin terus memacu kecepatan mobil dengan rencana yang sudah dipikirkan matang-matang olehnya.
Setelah jarak antara kedua mobil hanya tinggal menyisakan beberapa meter saja dan hampir sejajar, Benjamin pun mulai menabrakkan mobilnya dengan mobil yang dikendarai oleh Rui.
"Sial, dia berhasil menghindar, Dad! Apa kau tidak ada peluru lagi?" tanya Garry mulai meneliti sekeliling mobil untuk mencari peluru RPG yang lainnya.
Sampai akhirnya, benturan keras yang ditimbulkan karena mobil Benjamin, membuat Rui semakin terdesak dan terus berusaha mempertahankan alur mobilnya.
"Sial, dia sepertinya ingin membuat kita terperosok jatuh ke jurang!" Rui semakin panik, di saat Benjamin terus membuat laju mobilnya semakin mendekati jurang yang berada tepat beberapa centimeter di sisi kirinya.
Sambil menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya, Garry dan Rui mulai bangkit dengan pistol di tangan mereka masing-masing. Sementara itu, Benjamin langsung menghentikan laju mobilnya dan bergegas keluar untuk menghadapi keduanya.
"Apa kau ingin pertarungan ini terlihat jantan?" tanya Benjamin setelah berada di luar mobilnya.
"Apa maksudmu?" tanya Garry memicing senyum tipisnya.
"Bertarung tangan kosong, tanpa kakek tua itu! Kau tidak ingin aku juga membunuh pria tua ini kan?" tanya Benjamin dengan wajah yang telah dipenuhi rasa benci terhadap Garry.
Di saat diskusi tengah berlangsung antara Garry dan Benjamin, sebuah tembakan dilesakkan oleh Rui ke arah Benjamin. Namun, dengan sigap sang bodyguard mampu menghindar sambil memutar tubuhnya 180 derajat, lalu balik menembak Rui sebelum dirinya mendarat sempurna dengan kedua kakinya.
Tembakan itu pun tepat mengenai sebelah kaki Rui yang seketika langsung mengerang kesakitan. Garry terlihat cemas. Ia mulai mendekati Rui untuk melihat seberapa parah luka tembakan itu.
"Bagaimana keadaanmu, Dad? Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur. Ini urusanku dengan dia! Lagipula pria itu bukanlah lawan yang mudah, tapi kau tenang saja! Aku tidak akan kalah." Garry melepas kemeja yang dikenakannya dan mulai membalut luka tembak pada kaki ayahnya, kemudian mengikatnya dengan kencang untuk menghentikan aliran darah yang terus keluar dari luka tembak itu.
Selesai memberikan pertolongan kepada ayahnya, kini Garry kembali menatap tajam sosok Benjamin yang masih menunggu jawabannya.
"Baiklah. Aku terima tantanganmu, tanpa senjata dan hanya tangan kosong!" ujar Garry mulai mendekati Benjamin.
Mendengar jawaban Garry, Benjamin pun tersenyum tipis. Ia seolah yakin bisa memenangi pertarungan melawan Garry. Pertarungan di mana bukan hanya nyawa yang dipertaruhkan, tetapi janji terhadap rekan-rekannya yang tersemat dalam tekadnya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Follow Instagram Author : ekapradita_87