Elliot Is My Husband

Elliot Is My Husband
Terdesak



Selamat membaca!


"Mati kau!" Teriakan Rui begitu lantang sambil menembaki Richard kembali dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya. Amarah yang semakin meluap, terlebih saat melihat putranya nyaris dikalahkan oleh Richard.


"Sial." Richard berguling. Menghindari dua peluru yang meluncur cepat ke arahnya. Setelah berhasil menghindar sambil melompat, pria itu melakukan akrobatik sambil melancarkan sebuah tendangan ke arah Rui.


Garry yang melihat ayahnya terjatuh, seketika langsung bangkit tanpa memedulikan rasa sakit yang sempat membuatnya terkapar. " Lawanmu itu aku, bukan dia!" Dengan sekuat tenaga, Garry menarik pakaian Richard hingga membuat pria itu berputar dan menghadapnya.


Pertempuran di antara keduanya pun kembali berlangsung. Richard menatap tajam setiap serangan yang dilakukan oleh Garry hingga ia mampu menepis pukulan-pukulan yang mengarah padanya.


"Hanya segitu kemampuanmu!" sindir Richard yang masih dapat mengimbangi Garry.


"Aku akan mengganti namaku jika aku sampai gagal membunuhmu!" Garry semakin mempercepat intensitas serangannya. Mendesak Richard terus mundur hingga mendekatkan keduanya ke tepi jurang. Sampai akhirnya, perlawanan mereka terhenti di saat keduanya berhasil saling menembus pertahanan masing-masing.


Garry tampak meringis karena pukulan Richard berhasil bersarang pada sebelah pipinya. Namun, hal itu juga terjadi pada Richard yang juga merasakan sakit pada bagian perutnya saat tendangan Garry berhasil merangsek telak pada perutnya.


"Sial, rasanya sakit sekali." Richard masih memegangi perutnya hingga membuat pandangannya sedikit lengah.


Kesempatan itu ternyata diam-diam dimanfaatkan oleh Garry yang dengan cepat melompat sambil mengarahkan tendangannya ke arah Richard. Namun beruntung, pria itu berhasil mengelak sepersekian detik sebelum tendangan itu tepat mengenai tubuhnya.


"Hampir saja." Richard bergerak menyamping. Menahan rasa sakit yang masih membuat gerakannya terlihat sedikit lambat dari sebelumnya.


"Aku terlalu meremehkannya." Bercak darah mulai keluar di awali dari suara batuk Richard yang terdengar beberapa kali.


"Dengan melukai ayahku, kau membuatku jadi semakin marah! Jangan salahkan aku, kalau aku pasti akan membunuhmu!"


"Sudah habisi dia sekarang, Garry. Ambil pistol ini!" teriak Rui dari tempatnya sambil melempar senjata itu ke arah putranya. Kini Garry semakin merasa di atas angin karena itu artinya, ia hanya cukup menembak Richard untuk mengakhiri perlawanan dari pria yang sempat merepotkan di awal pertarungan mereka.


"Apa ada pesan-pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?" Ucapan itu sama seperti yang dikatakan Garry sewaktu akan membunuh Benjamin. Namun, perkataan itu malah membuat Richard mulai terkekeh. Membuat amarah Garry kian memuncak karena merasa geram dan sudah tidak sabar lagi ingin menghabisi pria yang seolah meremehkannya.


"Lagi dan lagi kau menunjukkan bahwa kau memang laki-laki yang pengecut. Apa kau ingat saat berhadapan dengan Benjamin kau juga licik menggunakan pisau secara diam-diam? Sekarang kau juga ingin melakukan hal yang sama? Sebenarnya pembuktian apa yang ingin kau buktikan padaku? Pembuktian kalau kau bisa membunuhku dengan pistol itu atau dengan tanganmu sendiri?" Richard terus memancing amarah dan kebencian Garry. Ini adalah cara yang dilakukan olehnya untuk mengulur waktu agar kekuatannya bisa kembali pulih setelah sempat terkena dua serangan Garry secara berturut-turut.


"Kurang ajar kau!" Garry menarik pelatuk pada pistol itu. Menghiraukan semua perkataan Richard.


"Cepat bunuh dia! Jangan buang-buang waktu lagi Garry!" timpal sang ayah yang tak ingin putranya menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat membunuh Richard. Hal yang disadari oleh Rui bahwa pria itu bisa mengalahkan putranya bila mengingat di awal pertarungan Garry sempat kewalahan menghadapi Richard.


Garry yang mendengar itu, masih terlihat menimang-nimang setiap perkataan yang didengarnya. Sementara Richard, kini tampak membagi pandangan matanya. Menatap sekeliling, mencari kesempatan yang bisa ia gunakan untuk balik menyerang Garry di tengah situasi yang sedang mendesaknya.


"Hanya ada satu cara," gumam Richard terlintas sebuah rencana dalam pikirannya.


Bersambung ✍️