
Selamat membaca!
Setelah berhasil meloloskan diri dari situasi yang membuatnya hampir tertangkap, kini Garry sudah berada di dalam mobilnya dengan perasaan kesal.
"Sial, aku gagal. Sepertinya aku memang tidak bisa meremehkan pria yang menjaga Elliot. Dia bukan orang biasa karena ternyata dia sudah melihat keberadaanku saat di lorong rumah sakit," gumam Garry sambil memukul kemudinya dengan keras.
Di saat kekesalan dalam diri Garry kian membuncah, tiba-tiba ponselnya berdering. Membuat pria itu langsung meraih benda pipih miliknya yang berada di atas dashboard mobil.
"Siapa yang menghubungiku?" tanya Garry yang mulai melihat layar pada ponselnya dan seketika kedua alisnya tampak bertaut tajam.
"Ayah."
Garry pun tak menjawab panggilan telepon itu karena ia tak ingin melaporkan kegagalannya kepada sang ayah yang pasti ingin menanyakan keberhasilan misinya. Misi untuk membunuh Elliot di London.
"Lebih baik aku tidak menjawabnya dulu dan sekarang aku harus pikirkan kembali. Bagaimana caranya agar aku bisa menghabisi Elliot dengan penjagaan ketat dari pria itu?" Garry pun mulai memutar otaknya untuk berpikir keras. Sampai akhirnya, pria itu mulai memperlihatkan seringai menakutkan penuh rencana dari kedua sudut bibirnya. Ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa saat ini Garry telah menemukan rencana yang tepat untuk bisa menuntaskan misinya.
Kembali ke ruang rawat Elliot, dimana pria itu kini masih mendapatkan penanganan yang serius dari tim medis setelah keluhan pada kepalanya begitu menyakitkan untuknya. Kondisi yang membuat Tara merasa sangat cemas hingga ia tak bisa duduk dengan tenang.
"Nona, duduklah daripada mondar mandir begitu di depan pintu!" titah Collins yang merasa risih melihat Tara yang sebegitu cemas dengan kondisi Elliot.
Hal yang membuatnya mulai menaruh curiga bahwa wanita itu memiliki perasaan yang lebih kepada Elliot.
"Sepertinya wanita ini memendam perasaan yang lebih terhadap Tuan Elliot. Sikapnya yang berlebihan ini semakin membuatku yakin," batin Collins yang seketika mengalihkan pikirannya saat mengingat kembali tentang Garry.
"Nona, saya pergi dulu ya untuk memeriksa sekitar rumah sakit!" ucap Collins memberitahu Tara sambil melangkah pergi.
Namun, saat melintas di depannya, Tara pun langsung menghadang langkah Collins sebagai tanda bahwa ia tak setuju dengan apa yang dilakukan oleh bodyguard itu. "Jangan pergi! Nanti kalau pria itu kembali lagi bagaimana?" titah Tara dengan wajah protes yang kemudian berubah me jadi raut ketakutan saat wanita ini melontarkan pertanyaan kepada Collins.
"Tenang saja! Pria itu tidak akan kembali dalam waktu dekat," ucap Collins dengan santai.
"Tenang katamu! Kau bisa tenang, tapi bagiku semua yang terjadi tadi adalah hal yang mengerikan tahu!" Tara begitu kesal hingga meluapkan emosinya kepada Collins. Namun, pria itu tak menghiraukannya dengan terus melanjutkan langkah kakinya melewati tubuh Tara begitu saja.
"Dasar bodyguard menyebalkan!" geram Tara sambil mengayunkan tangannya ke arah kepala Collins yang kini telah membelakanginya.
"Kenapa?" tanya Collins dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Enggak apa-apa, cuma gatal rambut saya gara-gara kamu yang keras kepala! Pokoknya awas saja kalau saat kamu tinggal pria itu datang lagi!" kecam Tara sambil berpura-pura menggaruk kepalanya di hadapan Collins.
"Tenang saja bawel dia tidak akan datang lagi, setidaknya hari ini! Kalau saya pikir-pikir, kamu memang sangat berbeda sekali ya dengan Nona Alice. Kenapa juga Nona Alice bisa memiliki adik seperti kamu?" Tanpa menunggu jawaban dari Tara, Collins pun pergi begitu saja meninggalkan wanita itu yang kini semakin dibuat kesal dengan perkataannya.
Tara menghentakkan kakinya berkali-kali sambil melayangkan sebuah tinju ke arah Collins yang semakin menjauh darinya. Ia terus menggerutu kesal sampai suara pintu ruangan yang terbuka seketika membuyarkan amarahnya. Melihat sang dokter dan beberapa suster mulai keluar dari ruangan, Tara pun langsung menghampiri untuk menanyakan kondisi Elliot saat ini.
"Dokter, jadi bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Tara dengan raut cemas yang kembali terlihat, menyisihkan amarah yang sempat menaungi wajahnya.
"Nona tenang saja! Saat ini kondisi pasien sudah membaik setelah kembali tenang. Tolong setelah ini jangan ada yang mengganggu ketenangan pasien lagi ya!" ucap sang dokter dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Tara pun mulai merasa lega setelah mendengar kabar baik itu. Membuat seulas senyum mulai terlihat dari kedua sudut bibirnya.
"Terima kasih ya, Dok, tapi saya rasa rumah sakit ini perlu menjaga keamanan di lantai ini karena tadi ada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela dan ingin membunuh Tuan Elliot, Dok!"
Dokter yang mendengar ucapan Tara pun seketika terkejut, ia tak menyangka bahwa kondisi pasiennya yang memburuk disebabkan karena ancaman pembunuhan itu.
"Baiklah Nona, nanti saya akan beritahu pihak rumah sakit agar ada yang menjaga Tuan Elliot di ruangan ini. Saya permisi dulu ya, Nona!"
"Terima kasih sekali lagi, Dok!" jawab Tara tersenyum. Setidaknya ia bisa semakin tenang karena selain Collins, petugas keamanan dari pihak rumah sakit juga akan ikut menjaga keselamatan Elliot.
"Semoga dengan penjagaan ketat di ruangan ini, pria itu tidak akan bisa menyakiti Tuan Elliot," batin Tara sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
🌺🌺🌺
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif dan gift kalian agar Author bisa terus semangat updatenya. Oh ya, jika kalian berkenan dan memiliki Facebook kalian bisa gabung ke grup pembaca saya, kalian tinggal cari saja Sahabat EP di Facebook.
Saya tunggu di sana ya!