Elliot Is My Husband

Elliot Is My Husband
Selamat



Selamat membaca!


Tubuh Alissa pun meluncur deras dalam dekapan pria yang sejak tadi terus memeluknya dengan erat. Sampai akhirnya, tubuh keduanya mendarat sempurna di sebuah balon berbentuk persegi yang memang telah disediakan oleh pria itu sebagai rencana cadangan jika rencana utamanya mengalami kegagalan.


Namun, walau jatuh di tempat yang sangat empuk, jantung Alissa benar-benar berdetak tak karuan karena ia merasa sangat takut dengan situasi yang dialaminya saat ini.


"Ya Tuhan, apa aku selamat?" batin Alissa masih tak berani membuka matanya, sampai akhirnya suara teguran pria itu memastikan dirinya selamat dari situasi yang membuatnya ketakutan setengah mati.


"Cepat Nona, mereka tidak akan lama lagi sampai di sini. Kami tidak ingin membuat keramaian di kota ini karena itu hanya akan membuat masalah baru, walau sebenarnya aku dan temen-temenku bisa menghabisi mereka semua."


Alissa pun tersadar dan langsung bangkit dari posisi tidurnya. Setelah turun dari balon udara itu, Alissa bergegas menyusul langkah pria itu yang sedang menuju sebuah mobil van bermerk Mercedes Benz berwarna silver, yang terparkir beberapa langkah di depan mereka.



Pria itu masuk terlebih dahulu, setelah seseorang membuka pintu dari dalam mobil. Tak lama, Alissa tepat menyusul di belakangnya untuk ikut masuk ke dalam mobil. Walau ragu, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain mengikuti pria itu. Terlebih pria itu mengenal Elliot dan juga Alice.


Saat berada di dalam mobil, Alissa mulai menatap secara bergantian beberapa pria yang ternyata juga telah berada di dalam sebelum dirinya masuk.


"Kalian siapa?" tanya Alissa menautkan kedua alisnya. Saat ini rasa penasaran semakin memenuhi isi kepalanya, apalagi dengan kenyataan yang harus diterimanya jika Sean juga salah satu pria yang menginginkannya mati.


"Perkenalkan saya Benjamin, pimpinan mereka. Ini Arnold, pria yang telah menyelamatkan Anda, di sebelahnya Christopher. Sekarang Anda sudah aman dan tidak perlu ada yang ditakuti lagi."


Arnold hanya menggerutu di kedalaman hati. Ia merasa kesal karena pria itu harus kalah hompimpa dari rekan-rekannya. "Sepertinya besok aku tidak perlu belajar menembak lagi, tapi belajar hompimpa saja agar aku tidak perlu menyelamatkan wanita ini. Dasar menyusahkan saja!"


Alissa yang mendengarnya coba melontarkan protes sambil menatap tajam wajah Arnold yang saat ini tengah memalingkan wajahnya. "Jadi kamu enggak ikhlas menolongku. Lagian kenapa juga kamu menyelamatkanku? Dasar aneh!" protes Alissa yang sudah dibuat kesal dengan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut pria itu.


Benjamin pun tak menghiraukan perdebatan kecil yang terjadi di antara keduanya. Ia lebih memilih untuk melaporkan status misi yang telah berhasil dilalui timnya kepada Raymond. Setelah mengambil ponsel dari saku rompinya, Benjamin mulai menghubungi Raymond dan tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu pun tersambung.


📱"Halo, Tuan, kami telah berhasil menyelamatkannya dan sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Anda."


📱"Bagus sekali Ben, kau selalu bisa aku andalkan. Kita memang memerlukan kesaksian wanita itu untuk menyeret pelaku penyerangan Elliot ke dalam penjara."


📱"Kenapa tidak kita habisi saja orang itu, Tuan?" tanya Benjamin menawarkan karena baginya adalah tugas yang sangat mudah untuk melakukan semua itu.


📱"Tidak Ben, aku ingin tahu alasannya kenapa mereka melakukan semua itu kepada Elliot. Aku yakin, jika semua ini bukan semata-mata karena menentang pernikahan Elliot dengan Kelly, tapi pasti ada masalah yang lebih besar dan aku rasa, ini ada hubungannya dengan masa lalu Elliot."


📱"Baiklah Tuan, kalau itu memang keinginanmu. Nanti aku akan menyelidikinya lagi."


"Masalah ini bermula karena aku menolong Tuan Elliot. Andai waktu itu aku tidak menolongnya, mungkin aku tidak perlu mengalami semua ini," batin Alissa menyesali apa yang telah dilakukannya waktu itu.


Sesuatu yang akhirnya merubah kehidupannya. Tak ada lagi ketenangan karena Alissa merasa hidupnya selalu berada dalam bahaya.


...🌺🌺🌺...


Di ruang rawat Elliot, terlihat Tara sedang menyuapi Elliot makan dengan perlahan.


"Tara, aku sudah kenyang. Bolehkah aku minum?" tanya Elliot yang tak pernah membayangkan, jika wanita itu menjadi sangat dekat dengannya akhir-akhir ini.


"Kamu kan baru makan tiga suap, Tuan. Bagaimana kamu bisa begitu cepat kenyang?" protes Tara diakhiri dengan sebuah pertanyaan seraya menautkan kedua alisnya.


"Ya, namanya juga lagi sakit Tara, apapun yang aku makan pasti terasa sangat pahit."


"Okelah, tapi nanti kalau kamu lapar lagi, katakan saja padaku, biar kita teruskan lagi makannya." Tara pun mengerti keinginan Elliot dan mulai meletakkan piring yang berisi makanan itu di atas nakas. Setelahnya, Tara mengambil segelas air putih dan membantu Elliot untuk meminumkannya. Maklum saja tubuh pria itu masih sangat lemah karena baru saja sadar dari komanya.


"Ayo Tuan, minumlah!" titah Tara sambil mendekatkan gelas yang sudah digenggamnya pada bibir Elliot.


"Ya Tuhan, kenapa setiap bersentuhan dengan pria ini jantungku terasa berdetak tak karuan ya. Apa mungkin aku telah jatuh cinta dengannya?" batin Tara yang memang telah lama mengagumi Elliot. Bahkan sebelum ia tahu bahwa Elliot ternyata adalah kakak kandung dari Alice.


Sementara itu di lobi rumah sakit, terlihat sepasang kaki melangkah dengan tergesa menuju sebuah lift yang berada di sudut lobi.


"Kali ini kau tidak akan bisa melarikan diri Elliot," gumam Garry dengan rahang wajahnya yang mengeras.


...🌺🌺🌺...


Bersambung✍️


Author perlu bantuan kalian untuk membawa novel ini masuk ranking gift, yuk berikan gift kalian.


Terima kasih banyak telah sabar menunggu saya untuk update.


Kalian juga bisa memberikan semangat, lewat Instagram saya : ekapradita_87