
Selamat membaca!
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam mobil Garry terlihat begitu geram menerima laporan dari anak buahnya bahwa Elliot kembali melarikan diri. Namun, kali ini berkat bantuan adiknya sendiri yang menggagalkan rencananya.
"Sepertinya aku yang harus turun tangan menghabisi Elliot, sebelum dia menyadari semua dan menceritakannya kepada Kelly." Garry menghentakkan kemudinya dengan keras untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Setelah melampiaskan amarahnya, kini pria itu mulai mengambil ponsel dari saku jasnya dan langsung melacak keberadaan Kelly lewat GPS ponselnya.
"Ternyata mereka di sana," ucap Garry dengan senyum tipisnya. Ia tetap berusaha tenang dan berpikir dingin agar bisa menghabisi Elliot dengan tangannya sendiri.
Tanpa membuang waktu lagi, pria itu pun langsung menambah kecepatan mobilnya hingga membuat mobil melaju dengan kecepatan tinggi untuk membelah lalu lintas yang terbilang cukup ramai itu.
Tak butuh waktu lama, Garry pun sudah tiba di sebuah parkiran yang berada di seberang hotel. Ya, Garry memang sengaja memarkirkan mobilnya di seberang hotel agar Kelly tak mengetahui kedatangannya saat ini.
"Jadi itu hotelnya." Garry mengambil pistol dari dashboard mobilnya yang kemudian diselipkan di balik celananya. Setelah itu, ia mulai melangkah menyebrangi jalan untuk menuju ke dalam lobi, sambil terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa membuat Kelly pergi dari hotel ini.
Setelah berpikir beberapa detik, seringai licik penuh rencana pun mulai tersemat dari kedua sudut bibirnya. Pria itu tampak mengambil ponsel dari saku celananya untuk mulai menghubungi Kelly dan tak butuh waktu lama, Kelly pun menjawab panggilan teleponnya, walau dengan nada yang terdengar ketus.
π±"Iya ada apa?" singkat Kelly menjawab teleponnya.
π±"Kamu dimana? Ayah menyuruhmu pulang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang pernikahanmu dengan Elliot. Sepertinya Ayah berubah pikiran dan menyetujui hubunganmu," jawab Garry yang sedang membohongi Kelly.
Mendengar semua itu Kelly tampak begitu bahagia. Ia dengan cepat menutup teleponnya dan merengkuh tubuh Elliot dengan erat.
"Aku sangat bahagia, akhirnya Ayah menyetujui hubungan kita," ungkap Kelly dengan rona bahagia yang tersirat dari wajahnya.
Elliot yang mendengar perkataan Kelly jadi ikut merasa bahagia karena pada akhirnya semua usahanya sampai datang ke Melbourne membuahkan hasil sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Namun, kebahagiaan keduanya tak serta merta dapat dirasakan oleh Alissa. Perasaan wanita itu, entah kenapa merasa sakit saat menyaksikan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh Elliot dan Kelly.
"Jadi mereka sudah ingin menikah," gumam Alissa dengan wajah yang terlihat sendu.
Merasa tak kuat melihat kebahagiaan yang sedang terjadi di depan matanya, Alissa pun sengaja memalingkan pandangannya agar tak melihat kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang bagai sebuah sayatan pisau untuknya. Terasa menyakitkan, tapi tak mengeluarkan darah.
"Aku tidak boleh terbawa perasaan, ingat Alissa tujuanmu yang sebenarnya hanyalah sebatas meliput berita tentang kecelakaan yang terjadi di atas jembatan Melbourne itu, tidak lebih Alissa. Jangan sampai perasaan yang kamu rasakan malah melemahkan niatmu. Ingat karirmu sedang berada di puncak. Apalagi kamu tidaklah sederajat dengan Tuan Elliot, kamu itu hanya seorang wartawan. Ingat itu baik-baik, Alissa!" batin wanita itu yang terus meyakinkan dirinya sendiri.
"Sekarang Ayah menyuruhku pulang, untuk bertemu. Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Kelly sambil mengurai pelukannya.
"Tidak apa-apa, nanti kita tinggal komunikasi saja lewat ponsel. Sudah jalan sana, nanti Ayahmu menunggu terlalu lama." Elliot pun tersenyum sambil mengusap lengan Kelly untuk melepas kepergian sang kekasih.
Setelah mencium singkat bibir Elliot, kini Kelly mulai beranjak keluar dari kamar hotel, walau hatinya tidak tenang meninggalkan Elliot hanya berdua bersama Alissa. Namun, sesaat sebelum keluar, ia sempat meninggalkan sebuah pesan pada Alissa.
"Alissa aku minta tolong ya, jaga Elliot sampai aku kembali!" titah Kelly penuh harap agar Alissa mau mengabulkan permintaannya.
Tanpa keraguan, Alissa pun dengan cepat mengiyakannya permintaan Kelly dengan sebuah senyuman yang terulas di paras cantiknya.
"Sekali lagi terima kasih ya, Alissa. Kalau begitu aku pergi dulu!" Kelly mulai melangkah keluar dari kamar dan tak lupa wanita itu kembali menutupnya.
Dengan langkah yang tergesa, Kelly terus menyusuri koridor hotel untuk menuju sebuah lift yang berada di ujung sana. Saat ini pikirannya masih tak bisa lepas memikirkan kedekatan yang terjalin antara Alissa dan juga Elliot. Pikiran yang sebenarnya membuat dirinya sulit untuk meninggalkan Alissa hanya berdua dengan Elliot. Namun, ia tak punya pilihan lain karena dengan bertemu ayahnya, Kelly bisa segera menikah dengan Elliot dan setelah itu mereka berdua bisa pindah ke London untuk hidup bahagia di sana.
"Sekalian aku akan bertanya pada Ayah, apa dia yang memerintahkan orang-orang itu untuk membunuh Elliot," gumam Kelly yang masih penuh tanda tanya.
...πΊπΊπΊ...
Bersambung βοΈ
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87