
Selamat membaca!
Tampak sebuah mobil sedang melaju dengan begitu cepat membelah lalu lintas kota London. Mobil sport berwarna hitam itu terlihat menyalip beberapa mobil yang ada di depannya.
"Bagaimana Ben? Apa lokasi keberadaan Collins sudah dekat?" tanya Richard kepada sang bodyguard yang masih terus memantau sebuah monitor pelacak GPS.
"Sebentar lagi kita akan tiba, Tuan." Benjamin pun terlihat lihai mengemudikan mobil yang dikendarainya dan hanya dalam beberapa menit saja, mereka akhirnya tiba di sebuah area gudang tua yang berada jauh dari pusat kota London.
"Apa benar di sini, Ben?" tanya Richard sambil memindai setiap area yang dilihatnya saat ini.
"Benar Tuan, sesuai GPS yang terpasang pada kalung Collins," jawab Benjamin sambil menghentikan laju mobil yang dikendarainya tepat di depan sebuah gedung tua. Gedung yang terlihat sudah berlumut hampir di beberapa bagian dindingnya.
Keduanya pun keluar dari mobil setelah menyiapkan pistol digenggamannya masing-masing. Tak ada pikiran atau hal aneh apa pun yang dirasakan oleh mereka. Namun, dari kejauhan ketika keduanya hendak masuk ke dalam gedung tua tersebut, pandangan mereka terhenti di satu titik. Ya, keduanya langsung berlari dengan cepat untuk menghampiri tubuh Collins yang saat ini tengah terkapar jauh di depan sana.
"Collins," teriak Benjamin yang tiba lebih dulu dan mulai mengguncangkan tubuh rekannya itu. Namun, sayangnya Collins tetap bergeming seakan sudah tak lagi memiliki nyawa.
"Kita sudah terlambat, Ben." Richard mengatakan semua itu sambil mengatur napasnya yang terengah akibat berlari. Ada raut kesedihan di wajahnya yang begitu dalam atas apa yang dilihatnya saat ini. Terutama ketika pandangan mata pria itu tertuju pada luka tembak yang terdapat pada bagian dada kiri dan juga kanan Collins.
"Tidak Tuan, Collins hanya pingsan, dia tidak mungkin mati!" Sosok Benjamin yang biasanya kuat, saat ini terlihat sangat lemah. Sampai ia tak bisa membedakan antara harapan atau sebuah kenyataan.
"Ben, sadarlah! Collins sudah mati! Kita harus tetap hati-hati karena bisa saja mereka masih ada di gudang ini dan sedang memperhatikan kita," ucap Richard yang langsung sigap dengan pistol yang digenggamnya sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
Walaupun sempat tak mempercayai bahwa rekannya itu telah mati, pada akhirnya, Benjamin pun mulai percaya dengan perkataan Richard setelah tak ada denyut pada nadi Collins yang saat ini sedang digenggamnya.
Di saat Benjamin masih hanyut dalam kesedihan, Richard terus mengamati situasi di sekitar gudang tua tersebut untuk melindungi Benjamin bila ada musuh yang menyerang mereka. Sampai akhirnya, Richard pun mulai yakin bahwa Garry beserta anak buahnya sudah tak lagi ada di tempat tersebut.
"Ben, sepertinya mereka sudah pergi setelah membunuh, Collins." Richard pun mulai mengalihkan pandangan matanya untuk kembali melihat kondisi Collins. Raut sendu dengan sorot mata yang nanar, memperlihatkan bahwa pria itu sangat kehilangan salah satu bodyguard yang sudah menemaninya dalam beberapa tahun belakangan ini.
Benjamin pun tiba-tiba berdiri sambil merengkuh tubuh Collins dan langsung meletakkannya di atas pundak kirinya. "Sekarang kita kembali untuk memakamkan Collins. Setelah itu saya akan mencari Garry untuk membunuhnya dengan tangan saya sendiri," kecam Benjamin yang telah dipenuhi oleh amarah. Kini sebelah tangan pria itu pun tampak menggenggam erat sebuah kalung yang biasa dikenakan oleh Collins. Kalung yang saat ini tengah berlumuran darah.
"Ya, kau jangan khawatir karena pria itu tidak akan bisa lolos dari kota London. Kita akan balas kematian, Collins!" jawab Richard dengan sorot mata yang menajam.
Kedua pria yang tengah dibalut dendam itu pun melangkah keluar dari gudang tua tersebut. Langkah yang terasa begitu berat karena mereka harus menerima kematian Collins. Di luar dugaan mereka, ternyata Garry berhasil membunuh Collins.
"Jangan panggil aku, Benjamin. Kalau aku tidak bisa menghabisimu, Garry!" kecam Benjamin dengan kedua mata yang memerah. Bukan hanya ada kesedihan tersirat di sana, tetapi juga sebuah dendam. Dendam yang membuatnya tidak akan tenang sebelum kedua matanya melihat kematian Garry.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak.
Follow Instagram Author : ekapradita_87