
Selamat membaca!
Saat ini Alissa sudah benar-benar tak dapat lagi membendung rasa takutnya, wanita itu kini menangis dengan suara yang ditahannya. Terlebih ketika ia mendengar suara pintu terbuka dengan paksa.
"Bagaimana ini mereka sudah masuk?" gumam Alissa semakin terdesak.
Sadar bahwa keberadaannya saat ini benar-benar terancam, Alissa mulai berpikir dengan keras sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempatnya bersembunyi saat ini. Sampai akhirnya, pandangan mata Alissa terhenti di sebuah balkon yang merupakan jalan keluar satu-satunya, agar Alissa dapat lolos dari situasi yang sangat mencekam untuknya
"Aku harus segera pergi dari sini, jika tidak aku pasti akan terbunuh oleh kedua orang itu," gumam Alissa yang kini langsung beranjak dengan tetap merunduk untuk menuju balkon kamarnya.
Di saat langkah kedua pria itu semakin dekat menuju ruang kerjanya, Alissa kini sudah membuka pintu balkon itu dan mulai menutupnya dengan sangat perlahan.
"Ya Tuhan, selamatkan aku," gumam Alissa yang sudah berada di luar balkon.
Ia kini mencari jalan keluar, agar dirinya dapat berpindah dari unit apartemennya saat ini menuju unit apartemen lainnya. Namun, apa yang ada benar-benar sangat membahayakan untuknya, apabila wanita itu sampai terpeleset dari ketinggian yang pasti tidak akan membuat siapapun akan selamat bila terjatuh.
"Bagaimana ini? Aku harus berjalan di tepi dinding itu dan bagaimana jika aku sampai jatuh?" Alissa tampak kebingungan, namun, ia tak punya pilihan lain setelah kedua orang itu kini telah tiba di ruang kerjanya.
Alissa pun tak membuang banyak waktu dengan mulai menaiki pagar besi pada balkon itu. Saat ini jantungnya berdebar tak karuan dan berusaha untuk tak melihat ke dasar apartemen yang dapat membuat keseimbangan akan goyah.
"Kamu pasti bisa Alissa." Wanita itu kini mulai bersiap melangkah dengan menapaki tepi dinding yang hanya berukuran satu kaki.
Setelah menghela napasnya dengan kasar, Alissa pun kini terlihat melangkah hati-hati dan dengan sangat perlahan. Langkah demi langkahnya tampak seimbang, hingga akhirnya kedua orang itu terdengar membuka pintu balkon dan di situlah keseimbangan Alissa mulai goyah. Namun, beruntung saat dirinya hampir saja terjatuh, Alissa mempercepat langkah kakinya dan langsung melompat untuk meraih pagar besi pada balkon yang berada di sebelah unit apartemennya.
Alissa kini bergelantungan beberapa saat pada pagar besi itu, sebelum akhirnya dengan sekuat tenaga ia berhasil mengangkat tubuhnya hingga melewati pagar besi itu.
"Aku berhasil, aku berhasil. Untung saja unit apartemen sebelahku ini kosong dan belum dihuni oleh siapapun, sepertinya aku bisa bersembunyi terlebih dahulu di sini. Setidaknya sampai Sean datang menolongku," batin Alissa yang mulai membuka pintu kaca pada balkon ruangan itu untuk masuk ke dalamnya.
...🌺🌺🌺...
"Siapa kau berani mengganggu pekerjaan kami?" tanya seorang pria yang masih hidup, setelah melihat rekannya tertembak tepat di bagian dahinya dan langsung mati terkapar.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku? Yang penting saat ini adalah apa alasan kalian sampai ingin membunuh wanita ini?" tanya pria itu dengan lantang.
Kini pria itu masih bersembunyi di balik dinding depan ruang kerja Alissa dan sesekali tampak mengintip ke arah dalam ruangan. Namun, beberapa kali pria itu hampir tertembak oleh anak buah Garry.
"Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya! Sepertinya nyawamu tidak ada gunanya untukku." Pria itu kini sudah berlutut dan bersiap melakukan penyerangan agar dapat menembak anak buah Garry yang saat ini masih bersembunyi di balik meja kerja Alissa.
Setelah memastikan apa yang harus dilakukannya, kini pria itu langsung berlari dengan cepat ke arah dalam ruangan dan saat anak buah Garry mulai menembak, pria itu berhasil mengelak dan langsung melompat sejauh-jauhnya, hingga melewati meja kerja itu sambil menembak ke arah anak buah Garry dengan menjatuhkan dirinya.
Muntahan peluru itu melesat dan mengenai dahi anak buah Garry, hingga membuatnya tumbang dengan bersimbah darah. Pria itu pun langsung bangkit mendekati keduanya untuk memeriksa seluruh tubuh mereka. Ia berharap agar dapat menemukan petunjuk tentang alasan mereka sampai datang untuk membunuh Alissa di apartemennya.
"Kedua pria ini tak membawa identitas apapun, tapi ponsel ini sepertinya berguna." Pria itu pun mengambil benda pipih dari saku jaket salah seorang anak buah Garry dan langsung menyimpannya ke dalam saku pada rompi anti peluru yang dikenakannya.
"Aku harus menghubungi Tuan Raymond karena ternyata wanita itu tidak berada di apartemennya," gumam seorang pria sambil mengambil ponsel dari saku rompinya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar untuk episode tegang saat ini.
Jangan lupa kasih gift juga ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87