DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
08. Hamil



Aku merasakan sesuatu terjadi pada diriku, terlebih ini sudah lewat tanggal dari biasanya tamu bulananku dating.


“Oekkk…oekkkk…oekkk” Ini sudah ketiga kalinya aku merasa mual.


“Ra, Lo sakit?” Sami meletakkan punggung tangannya dikeningku.


Aku menepis tangannya pelan “Aku gak apa-apa Sam”


“Lo pucet Ra”


“Aku telat makan aja”


“Kok, bisa ibu lo gak ngasih lo makan lagi?”


Aku merasakan pandanganku mulai kabur, tulangku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku.


Aku merasakan aroma minyak angin yang menyengat dan membuatku merasa mual.


“Oekkk…”


“Ra, ini minum” Sami menyerahkan segelas teh hangat untukku.


Aku menerimanya “Makasih Sam”


“Maaf ya aku jadi ngerepotin gini” Ucapku merasa tidak enak.


“Kesehatan lo lebih penting, ini gw bikini bubur buat lo”


“Dimakan jangan sampai perut lo kosong gini”


Makanan buatan Sami selalu menggugah selera makan ku, tapi baru melihat bubur ini perutku sudah berkontraksi dan berakhir muntah lagi.


Sami membantu mengelus punggunggu, entah mengapa dia tidak merasa jijik.


“Kita kerumah sakit ya Ra”


Aku menggeleng “Aku boleh ijin pulang aja”


“Boleh, gw anter”


“Gak usah Sam, aku bisa naik kendaraan umum”


“Gak, gw gak ijinin lo tunggu disini bentar, mana kunci loker lo” Aku menyerahkan kunci loker yang kusimpan disaku celanaku.


Aku suka mendapat perhatian seperti ini dari Sami tapi aku juga tau jika kedekatanku dengan Sami membuat karyawan wanita di café ini tidak menyukaiku.


“Terimakasih Sam, udah mau repot-repot”


Sami tersenyum manis kearahku “Lo, istirahat dulu sampai keadaan lo bener-benar sehat, kerjaan lo biar digantiin sama karyawan yang lain”


“Besok aku udah sembuh kok”


“Gak usah maksa”


“Emang bos bakalan ijinin?”


“Ntar gw yang bilang ke bos”


“Kan gw bosnya Ra, lo aja yang gak tau hehe” Batin Sami


“Yaudah kalo gitu aku masuk dulu”


Aku mengeluarkan tespeck yang ku beli di apotik tempo hari.


Haruskah??? Haruskah aku mengeceknya???


Aku ragu tapi aku juga harus meyakinkan jika ini hanya ke khawatiranku saja.


Dunia ku runtuh saat tespeck menunjukkan garis dua. Aku positif hamil hiks hiks hiks. Aku menangis sejadinya, dada ku terasa sesak kepalaku terasa penuh.


Di Sekolah,


Aku sedikit mengubah penampilanku, jika biasanya aku memasukkan seragam ku dengan rapih kali ini aku membiarkannya keluar. Walaupun ini sama sekali membuatku merasa jadi anak nakal tapi mulai sekarang aku harus menutupi perutku.


Aku terkejut saat sebuah tangan menarikku dan menghempaskan tubuhku hingga jatuh ke lantai.


“Haahahaha” Mereka tertawa melihat aku merintih kesakitan. Aku merasakan sakit yang amat sangat di area perutku.


“Awwwww, Sakitttt” Aku mengerang menahan sakit diperutku.


Salsa menjengut rambutku “Gak usah lebay”


“Sakit Sa, lepasin” Aku memohon


“Sejak kapan seragam lo, lo keluarin kayak gini?”


“Gimana kalo kita rusak aja seragam dia” Mata ku membola mendengar ide konyol Lora


“Tunggu gw siapin handphone gw dulu, saying banget kalo moment ini gak diabadikan” Ucap Meta


Salsa dan Lora berusaha menarik paksa seragam yang ku kekenakan, mereka benar-benar akan merusaknya. Aku menahan sekuat tenanga dengan tanganku. Beberapa kancing terlepas dari seragamku. Lora menarik satu lengan seragamku hingga sobek tanpa merasa bersalah mereka tertawa keras.


Aku mulai terisak tenagaku mulai terkuras.


BERHENTI


“Pergi guys” Mereka bertiga pergi meninggalkan aku yang masih terduduk di lantai dengan pakaian yang sobek sana-sini.


Sepasang kaki berhenti dihadapanku, aku mendongakkan kepalaku ke atas.


DEG, ORION.


Dengan wajah datar dia menatap ku sembari melepaskan satu persatu kancing seragam sekolahnya hingga menyisakan kaos putihnya.


Apa lagi ya Tuhan, apa yang ingin dia lakukan.


“Pakai ini” Orion menyerahkan seragamnya kepadaku. Aku masih terpaku menatap kearahnya.


“Pakai sebelum gw berubah pikiran”


Aku menerimanya dan hendak berjalan menuju ke toilet.


“Lo mau kemana?”


“To-toilet”


“Pakai disini” Mata ku melebar


“Lo mau jadi tontonan anak-anak yang lain?” Ucapnya datar


Benar juga, tapi kan ada dia disini.


Orion memutar badannya membelakangiku, aku mengganti seragamku dengan seragam Orion, seragamnya sangat kebesaran di tubuhku bahkan rok yang ku kenakan hanya terlihat beberapa centi saja.


“Kak” Orion tak bergeming dan tetap membelakangiku


“Kak makas---“ Ucapanku terhenti saat Orion sudah berjalan meninggalkanku.


Sesampainya di kelas teman-teman melihat ke arahku, karena seragamku yang kebesaran.


“Ra, lo kok bisa pakai seragam kak Orion?” Aku melihat kea rah name tag seragam yang ku kenakan ORION GALANDRA.


“Itu tadi aku emmm”


“Danira, Alia bisa kita mulai pelajaran sekarang” Aku menghela nafas lega saat guru bahasa masuk kedalam kelas, jadi aku tak perlu mencari jawaban atas pertanyaan Alia.


Author POV


Ema mengetuk pintu kamar Danira, sudah menjadi rutinitasnya untuk merampas uang jajan bulanan Danira .


"Ra, buka"


"hih dimana sih, tinggal buka pintu aja lama banget"


Ema menarik handle pintu kamar Danira, rupanya pintu kamar Danira tidak dikunci.


"Gak dikunci, bagus deh jadi gw gak perlu ngabisin suara gw buat maksa tu orang"


Tanpa basa-basi Ema membuka semua tempat yang sekiranya menjadi tempat Danira menyimpan jatah bulanannya.


"Ditaro dimana sih hufffh"


"Lemari udah, kasur udah, meja belajar juga udah emmm dimana lagi ya" Dialog Ema, pandangan matanya mengarah di nakas kecil di samping tempat tidur Danira.


Ema menghampiri nakas itu dan membuka satu persatu laci yang ada dinakas itu tapi ia tak menemukan apapun. Tanpa sengaja tangan Ema menyenggol novel yang ada diatas nakas.


Ema mengernyitkan dahinya saat melihat benda asing yang terjatuh dari dalam novel milik Danira.


"Tespeck???"


Cafe


Danira menyeka keringat dingin yang keluar dari keningnya beberapa kali. Meskipun ruangan cafe ini suhunya cukup dingin tapi entah mengapa Danira masih saja berkeringat.


"Ra, Lo oke" Tanya Sami khawatir


"Udah mendingan kok"


"Masih mual???"


"Enggak kok"


"Besok-besok jangan lupa makan biar gak kayak gini lagi, atau mau gw bikinin sarapan tiap pagi"


"Ehhh gak perlu Sam"


Sami mengacak rambut Danira gemas " Yaudah gw lanjut kerja"


Danira mengulum senyum mendapat perlakuan manis dari Sami. Memang Sami pria yang selama ini Danira kagumi, meskipun dekat Danira hanya berani sebatas mengagumi tanpa berani mengungkapkan isi hatinya.


"Syukurlah akhirnya hari ini selesai juga" Danira mengelus lembut perutnya.


"Ra, Lo ngapa ngelus perut Lo kayak gitu??? kayak Lo lagi hamil aja" Cetus Mila rekan kerja Danira


"Ehhh gak kok, aku cuma kekenyangan aja tadi banyak makan" Alasan Danira


"Ohhhh kirain Lo hamil" Mila terkekeh dengan candaannya karena tak ada seorang pun yang tau dengan kehamilan Danira. Danira ikut tersenyum palsu menanggapi candaan Mila.


"Gw duluan ya Ra, udah ditunggu ayang" Danira mengangguk.