
Orion masih sibuk mengurus berkas-berkasnya untuk masuk universitas, Orion tidak jadi melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, karena ia merasa memiliki tanggungjawab terhadap Danira. Terlebih hubungan Danira dengan ibunya sedang tidak baik-baik saja. Orion tidak mungkin meninggalkan Danira sendiri disini.
Beberapa hari lalu saat pulang kerumah orangtuanya, Orion bertemu dengan ayahnya (Devan). Devan sudah tau soal masalah Danira, meski begitu Devan tak lantas menjudge buruk terhadap Danira. Orion juga menceritakan permasalahan yang sebenarnya terjadi kepada Devan. Untung saja Orion memiliki ayah seperti Devan yang berfikir tenang dan jernih. Devan menepuk bahu Orion bangga akan keberaniannya mengakui kesalahannya dengan bertanggungjawab terhadap Danira meskipun belum tau anak yang dikandung Danira anak Orion atau bukan.
Devan hanya menasehati jika Orion harus mempersiapkan diri untuk ikut andil dalam mengurus perusahaan. Orion satu-satunya penerus keluarga Galandra, maka dari itu Devan menaruh harapan penuh kepada Orion. Cepat atau lambat Orion akan memegang separuh dari saham keluarga Galandra. Untuk itu Devan tak ingin jika karena masalah ini konsentrasi Orion akan terbengkalai.
Orion mengerti akan apa yang dikehendaki ayahnya, selama ini Devan tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada Orion.
“Ini susunya kak” Danira meletakkan segelas susu coklat di meja
“Makasih Ra”
“Kak”
“Emmm mulai sekarang kamu boleh panggil aku Orion”
“Hah, ta-tapi kenapa?”
“Aku ini suamimu bukan kakakmu”
“Ta-tapi aku gak bisa”
“Bisa, atau mau panggil mas”
“Mas???” Beo Danira, itu panggilan umum untuk pria tapi kenapa aneh saat panggilan itu disematkan di depan nama Orion
“Kenapa?”
“Hehe Orion aja”
***
Danira Pov
Hari ini Orion pamit untuk pulang kerumah mamah selama dua hari, awalnya aku keberatan, walaupun selama ini Orion sering pulang tapi tidak sampai menginap. Tapi saat Orion menjelaskan jika kondisi mamah sedang kurang sehat aku mencoba memahami, andai diijinkan ingin rasanya aku mengunjungi mamah, tapi aku tau mamah belum bisa menerimaku.
“Ra, aku pergi dulu ya kamu hati-hati dirumah jangan sembarangan bukain pintu”
“Iya kak” Mendengar kata kak Orion memutar bola matanya malas
“Ma-maaf Orion, hati-hati ya” Orion mengangguk lantas mengecup keningku.
Tak ada siapapun dirumah sebesar ini selain aku seorang diri, apa yang akan aku lakukan tanpa Orion? Hmmmm, mending aku nonton drakor. Cukup lama aku memilih film yang akan ku tonton sampai akhirnya pilihanku terhenti pada sebuah judul “Cinderella and Four Knights”. Sepanjang film berlangsung aku benar-benar terbawa suasana sampai-sampai aku seperti orang gila kadang tertawa lalu menangis. Tanpa ku sadari bel rumahku berbunyi, aku menghentikan aktifitasku dan melangkah kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Ada rasa ragu dihatiku melihat ini sudah pukul 20:00 malam dan ada tamu di jam segini batinku, apa mungkin Orion tak jadi menginap?. Karena dirundung kebingungan akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu. Namun, saat aku membuka pintu tak ada siapapun.
Flashback on
Anna dan Lucas ingin menjebak Danira malam ini, tapi ada seseorang yang telah mengetahui rencana busuk mereka berdua. Dan orang tersebut menggagalkan aksi penjebakan itu. Sesaat sebelum Danira membuka pintu, Lucas terlebih dahulu dipukul kepala belakangnya hingga pingsan. Dan orang itu membawa tubuh lucas menjauh dari rumah Danira.
Flashback off
“ihhh kok gak ada siapa-siapa sih?” Kenapa masih ada orang iseng di jam segini. Telfonku berdering dan menampilkan sebuah nama yang selalu ku rindukan suara baritonnya. Dengan segera aku menggeser tombol hijau.
“Hallo”
“Belum tidur?” Tanya Orion di balik telfon
“Belum kak ehhh Oriom”
“Kamu habis nangis? Suaramu serak?”
“Ehhh iya tadi habis nonton drakor”
“Jangan tidur malam-malam gak baik buat kehamilan kamu”
“Iya kamu juga ya”
“Iya, selamat tidur Ra”
Tut..tut..tut
***
Author Pov
“Lo bisa diem gak?”
“Gw bakalan diem kalo kerja lo itu bener”
“Kayak lo cewek bener aja, harusnya lo sadar diri apa yang bikin Orion udah gak mau lagi sama lo” Anna membolakan matanya dan
Plakkkk, satu tamparan keras mendarat di pipi Lucas.
Lucas mengelus pipinya sembari tersenyum getir ke arah Anna.
“Cas, sorry gw” Anna merasa menyesali perbuatannya
“Okay, for this time i’m forgive but next time i will repay it hurts more” Seketika Anna menyesali menerima tawaran Lucas untuk bekerjasama dengannya.
“Gw punya cara lain, dan kali ini rencana itu gak akan gagal” Lucas tersenyum miring menunjukkan wajah liciknya.
Tanpa diketahui keduanya ada seseorang di sebrang sana yang telah merekan semua pembicaraan Anna dan Lucas di dalam otaknya. Orang itu tersenyum santai sembari menikmati coklat hangat yang telah ia pesan.
***
Danira ingin quality time hari ini, angan-angannya selama ini untuk pertama kalinya akan terwujud, berendam di bathtub dengan aroma lavender ditemani musik leraksasi.
Pikiran Danira menerawang membayangkan dirinya tengah bermain bersama ibu dan ayahnya. Ada perasaan rindu di hatinya yang tak pernah bisa ia sampaikan. Rasa rindu yang teramat dalam hingga menimbulkan luka dihatinya. Tak terasa bulir putih itu mengalir begitu saja, saat teringat kenanganan dirinya masih merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ayah. Pelukan sang ayah yang setiap hari ia nantikan saat ayahnya pulang dari kerja. Tapi seiring berjalannya waktu pelukan itu memudar berubah dengan kebencian yang teramat sangat. Isakan itu kini telah berubah menjadi tangisan.
Saking nyamannya Danira sampai tidak menyadari jika dirinya hampir dua jam berendam. Danira segera membilas tubuhnya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Tekatnya sudah bulat hari ini ia ingin mengunjungi ayahnya, ia butuh pelukan ayahnya saat ini. Sebelum Danira pergi ia sudah terlebih dahulu meminta ijin pada Orion. Walaupun harus dengan susah payah memohon ijin dari Orion akhirnya Orion mengalah dengan satu syarat tidak boleh menginap dan pulang larut malam. Dengan perasaan senang Danira menyetujui syarat itu.
Dengan diantar ojek online Danira sudah sampai di depan rumahnya. Dengan hati-hati Danira mengetuk pintu rumahnya, dan sesaat kemudian sosok yang sangat ia rindungan sudah berdiri dihadapannya.
“Ayah” Danira mencoba menahan sekuat tenaga agar air matanya tak keluar
“Mau apa kau datang kesini? Bukankah kau sudah mendapatkan keluarga baru yang lebih kaya”
“Danira rindu ayah”
“Siapa yah” Tanya ibu sambung Danira Maya
“Kamu????” Pekik Maya, Danira mencoba menyalami ibunya sopan, namun tangan Danira ditepis Maya dengan sarkas.
Danira tau jika hal ini akan terjadi, seharusnya orang yang sudah dibuang sadar diri kehadirannya tidak pernah diinginkan sejak awal. Ema yang mengetahui kedatangan Danira, langsung menerjang Danira. Menjambak rambut Danira dan menampar pipi Danira berkali-kali. Maya dan Dani hanya melihat Ema menganiaya Danira tanpa berniat memisahkan.
“Lo tau jal***, gara-gara lo gw di bully di sekolahan...HIHHHH” Pekik Ema meluapkan semua emosinya.
“Aku minta maaf Ema aku gak tau, sakit”
“MAAF LO BILANG??? INI BELUM SEBERAPA DARI APA YANG GW TERIMA SETIAP HARI, PLAKKKKK RASAIN LO MAMPUS”
“EMA CUKUP” Dewa menarik tubuh Ema menjauh dari Danira
“Lepasin kak, aku pengen bikin dia ngerasain apa yang aku rasain di sekolah dan itu semua karena dia”
“Cukup Ema” Bentak Dewa
“Tapi dia pantas mendapatkan itu kak” Ema masih mencoba meraih tubuh Danira
Plakkkkk
Tamparan dari Dewa mendarat dengan keras di pipi Ema. Danira dan kedua orangtuanya membolakan mata mereka saat melihat itu.
“Kak Dewa tampar aku?” Ucap Ema lirih dan masuk kedalam rumah begitu juga Dani dan Maya. Dewa masih terdiam dengan apa yang telah ia lakukan terhadap adik yang sangat ia cintai.
“Ayah” Danira menahan tangan Dani
“Aku bukan ayahmu” Ucap Dani, dan melepaskan tangan Danira dari tangannya.
Sakit???? Jika ada ungkapan yang lebih dari kata sakit itulah yang Danira rasakan saat ini.
“Pulang Ra, gak ada yang menginginkan kehadiran lo disini” Ucap Dewa
“Kak” Dewa menutup pintu rumahnya.