DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
24. Penyesalan



Regret always comes at the end, because God wants to see you in the process, and when the final grade comes out, your task is not to lament but to repair- Aldi Varenza Munaf


Aldi tahu ini bentuk penyesalannya yang terlambat, tapi hatinya tak bisa berbohong jika dirinya menginginkan Danira. Aldi memainkan gitarnya menyanyikan sebuah lagu berjudul The scientist dari Coldplay.


Come up to meet you, tell you I'm sorry


You don't know how lovely you are


I had to find you, tell you I need you


Tell you I set you apart


Tell me your secrets and ask me your questions


Oh, let's go back to the start


Running in circles, coming up tails


Heads on a science apart


Nobody said it was easy


It's such a shame for us to part


Nobody said it was easy


No one ever said it would be this hard


Oh, take me back to the start


“Wehhh mellow ni” Sapa Zaky , Aldi menghentikan aktivitasnya.


“Ganggu aja lo berdua”


“Di, lo lagi ada masalah sama Orion?” Pertanyaan Orion membuat Aldi semakin badmood.


“Gw pergi dulu” Aldi memilih pergi daripada harus menceritakan soal Orion


“Kalian ini kenapa sih jadi kayak gini, kenapa pertemanan kita jadi gak solid gini” Zaky meluapkan isi hatinya, membuat Aldi menghentikan langkahnya.


“Gw gak tau apa yang terjadi sama lo dan Orion Di, tapi gw harap lo bisa dewasa menyikapinya, gw tau lo yang paling bisa berfikir dewasa diantara kita” Zaky melanjutkan ucapannya.


Yah memang Aldi orang yang paling berotak dingin diantara mereka berempat. Aldi adalah orang yang bisa mencairkan suasana dan menjadi penengah saat mereka sedang berseteru.


***


“Kak Orion mau sarapan sekarang?” Aku berharap hari ini hubunganku dan kak Orion bisa lebih baik setelah hal-hal yang membuat kita salah paham. Kak Orion merubah posisinya menhadap kearahku, bukannya bangun ia malah memelukku.


“Nyaman” Ucanya lirih


Aku juga nyaman kak ada dipelukan kamu kayak gini, walaupun belum mandi tapi aroma tubuh kak Orion tidak bau sama sekali. Kenapa bisa gitu, tapi aku suka hehehe.


“Kakak gak laper?” Tanyaku lagi, bukannya menjawab kak Orion malah mengecup keningku, alhasil pipiku merona dibuatnya.


“Udah siang, kakak gak sekolah” Tanyaku lagi dan lagi.


“Enggak” Beoku


“Terus kakak bolos?”


“Kamu lupa ini hari apa?”


“Memangnya hari apa?”


“Pikir aja sendiri” Kak Orion malah semakin mempererat pelukannya, aku yang merasakan kenyamanan berada di dada bidang kak Orion. Kami pun terlelap kembali.


Lagi-lagi kehadirannya membuatku kesal, siapa lagi kalau bukan Anna.


“Pagi Anna” Balasku tak kalah lembut


“Kak Orion ada?” ihhh ngapain tanya emang gak bisa liat orang segede gitu.


“Ganteng ya suami kita” Ucapnya Anna lagi, ingin rasanya ku lumuri mulutnya dengan adonan tepung di tanganku.


“Aku kesana dulu ya, bye Dira”


“Yon, jalan yuk” Ajak Anna


“Gak”


“IHHHH lo kenapa sih cuekin aku?”


“Gw gak bisa lagi nemenin lo, gw mau nemenin Danira”


“Tapi Yon gw kesini jauh-jauh buat lo”


“Sekarang semuanya udah beda, gw udah beristri lo tau itu”


“Kok lo tiba-tiba gini sih”


“Gw gak mau nyakitin istri gw”


“ORION LO GAK CINTA DIA, LO CUMA KASIHAN” Aku tersentak mendengar penuturan Anna, apa benar kak Orion gak bener-bener cinta sama aku.


“Jangan pernah temuin gw lagi” Orion menatap dingin ke arah Anna dan pergi ke kamar. Anna menatap sinis ke arahku, dan pergi dari rumah.


Aku tau kak Orion sedang tidak baik-baik saja, aku membawakan makanannya ke kamar.


“Kak, makan yuk” Ajakku sembari mendekat ketempat kak Orion duduk.


“Ra” Panggil Orion, dan aku pun menoleh. Kak Orion memegang kedua pipiku mengusapnya lembut dan berakhir dengan kecupan singkat di bibir ku. Ku rasakan detakan jantungku yang tak beraturan, aku yakin pipiku sudah memerah sekarang. Tapi untuk pertama kalinya aku berani menatap mata Orion. Orion kembali mendekatkan wajahnya, kini bukan kecupan melainkan ******* halus yang Orion lakukan dibibirku. Tuhan, aku bisa mati.


Aku menarik nafas dalam-dalam saat ciuman itu terlepas dan tiba-tiba saja kami menjadi canggung satu sama lain.


“Makan” Ucap Orion tiba-tiba


“I-iya kak” Kami pun memakan makanan yang sudah ku masak.


“Ra, gw boleh minta sesuatu ke lo” Deg jantungku berhenti, apa kak Orion akan meminta hal itu


“Kenapa bingung, lo mikir apa?”


“Emmm gak kok kak, kak Orion minta apa?” Darah ku berdesir saat Orion kembali menatap tajam ke arah ku


“Lo tenang aja, gw gak akan minta itu kalo lo belum siap. Gw Cuma minta lo jauh-jauh dari semua temen gw terutama Aldi” Aku menengadahkan wajahku ke arah Orion yang sudah mengganti posisinya berdiri. Ingin aku bertanya kenapa? Tapi aku tak ingin membuat kak Orion marah lagi, serem soalnya. Aku hanya mengangguk saja.


Saat aku tengah merapikan pakaianku di dalam lemari, aku melihat buku diary yang kusimpan dibawah tumpukan bajuku. Buku diary pemberian bang Dewa saat aku ulang tahun. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan keluargaku. Apa mereka juga merindukanku, tapi sekalipun mereka tak pernah menghubungiku walaupun hanya sekedar menanyakan kabarku. Apa ayah benar-benar memutuh hubungannya denganku. Tidak, tak pernah ada yang namanya mantan anak atau sebaliknya. Aku tetap anak ayah dan ayah tetap ayahku. Yah, Dira gak pernah lupa buat doain ayah, semoga ayah sehat selalu. Tak terasa air mataku menetes membasahi selembar fotoku bersama ayah.


***


“Kak” Sapa Salsa


“Urusan kita udah selesai jangan pernah muncul dihadapan gw lagi” Ucap Lucas ketus tanpa menatap kearah Salsa


“Tunggu kak” Salsa menahan tangan Lucas


“Lepasin” Dengan cepat Lucas mengempaskan tangan Salsa dengan sarkas


“Sejijik itu lo kak sama gw” Pekik Salsa, melihat kepergian Lucas.


Tak ada yang tau apa yang sebenarnya yang dirasakan Lucas, berapa banyak wanita yang sudah dirusak Lucas. Hanya karena rasa kecewanya dengan kedua orangtuanya. Bahkan wanita yang tak bersalah pun harus menjadi korbanna. Danira Egawasta, sejak kapan Lucas mengetahui nama itu. Lucas sendiri tak tau kapan yang jelas Lucas menyesali perbuatannya kepada gadis itu. Terlebih sahabatnya sendiri yang harus bertanggungjawab atas kejadian itu. Lucas merutuki dirinya sendiri, mengapa ia harus memilih cara ini untuk melampiaskan emosinya, kenapa tidak cara lain. Basket misalnya, tapi basket sudah menjadi makanannya sehari-hari dan sudah menjadi hal biasa baginya. Karena sejak SMP Lucas dan teman-temannya sudah menjadi tim basket yang tak terkalahkan.


Namun dari semua hal itu ada satu hal yang Lucas sesali, ia menyesal telah merenggut kehormatan gadis itu.