
Seseorang dengan pakaian serba hitam, topi dan masker mengepalkan tangannya saat dirinya kecolongan. Rahangnya mengeras mendapati targetnya tak berdaya, tak ada yang bisa orang itu lakukan selain memantau targetnya dari kejauhan. Ingin sekali rasanya ia menghajar satu persatu orang yang ada disana.
Rasa sakit harus dibalas rasa sakit ucapnya dalam hati. Tapi dirinya tidak bisa gegabah dia tidak ingin identitasnya diketahui oleh siapapun dan rencananya hancur berantakan. Dia hanya ingin memastikan targetnya dalam keadaan aman.
Aldi membanting setirnya menepi tak peduli jika bagian depan mobilnya penyok akibat menabrak pembatas jalan. Aldi terus saja mengumpati dirinya, menjambak rambutnya frustasi.
“Ahhhh BRENGSEK” Aldi memukul setir mobilnya berkali-kali meluapkan emosi yang menggebu.
Ponselnya terus saja berbunyi sedari tadi menampilkan nama salah satu temannya. Sudah lebih dari dua puluh kali Zaky menelfon dirinya. Jengah dengan ponselnya yang terus berbunyi dengan terpaksa Aldi menekan tombol hijau di ponselnya.
“Lo dimana?” Pekil Zaky di sebrang telfon
“Kenapa?”
“Gw udah kirim share lok ke HP lo, gw tunggu. Nittt” Secara sepihak Zaky mematikan telfonnya. Hal itu membuat Aldi semakin emosi dibuatnya.
“Apa-apaan lo telfon gw Cuma mau bikin gw tambah emosi ahhhh brengsek” Pekik Aldi sendiri, Aldi menimang sebentar lalu melihat lokasi yang dikirim oleh Zaky. Gak ada salahnya juga menuruti kemauan salah satu teman laknatnya.
Sesampainya di lokasi yang dikirim Zaky, Aldi mematikan mesin mobilnya dan melihat Zaky tengah menunggunya sembari bersedekap dada.
Tumben banget nih bocah tampangnya serius, ucap Aldi dalam hati. Baru saja Aldi melangkahkan kakinya lima langkah dirinya sudah jatuh tersungkur ditanah akibat bogheman dari Zaky.
“Bangun lo” Zaky menarik kerah baju Aldi dan kembali memukulnya
“Brengsek, maksud lo apa?” Pekik Zaky sembari mengusap darah dari sudut bibirnya yang sobek akibat pukulan Zaky.
“Sini lo” Tantang Zaky yang membuat Aldi semakin tersulut emosi, perkelahianpun tak terhindarkan antara Zaky dan Aldi, sampai Aldi mengangkat tangannya menyerah.
“Cukup gw nyerah, mau lo apa?”
“Gw mau lo sadar” Pekik Zaky yang berjalan gontai mendekati Aldi yang masih tersungkur ditanah. Aldi terdiam meresapi ucapan Zaky.
“Di, lo temen yang paling deket sama gw”
“Gw tau lo nyesel dengan kejadian waktu itu, tapi lo jangan goblok gini Di” Ucap Zaky panjang lebar, Aldi yang masih belum paham dengan apa yang diucapkan sahabatnya hanya mengerutkan dahi.
“Kalo lo mau tu cewek bahagia gak gini caranya, dimana kepala dingin lo selama ini? Dimana Aldi yang gw kenal?” Zaky mengulurkan tangannya membantu Aldi berdiri
“Asal lo tau gw juga menyesal, gw ngerasa jadi cowok brengsek dan lari dari tanggungjawab tapi semua sudah terlambat buat disesali. Dengan siapapun sekarang cewek itu, tugas kita hanya satu Di cukup menjaga dia dari jauh” Sekarang Aldi paham arah pembicaraan Zaky
“Tapi Anna” Sergah Aldi
“Orion udah gak punya perasaan apa-apa dengan Anna setelah Orion melihat semua kecurangan Anna selama ini”
“Dari mana lo tau?”
“Lo pikir gw sebodoh itu? Lo emang cerita masalah lo ke gw?” Aldi menatap tajam kearah Zaky
“Gw ini bandar judi anak buah gw banyak” Celetuk Zaky asal, reflek Aldi menjitak kepala Zaky, membuat sang empunya meringis.
“Mau balik gw” Aldi melenggang pergi kearah mobilnya, setelah kepergian Aldi, bibir Zaky tersenyum menampilkan senyuman yang sulit untuk diartikan.
***
Orion menatap nanar kearah Danira yang masih menangis sesegukan. Dalam hati kecilnya Orion tidak percaya jika wanita dihadapannya akan melakukan hal itu, tapi mata kepalanya menepis perasaan itu. Semua adegan Danira dan Aldi jelas dilihat oleh kedua mata Orion.
Ini gimana ya allah, aku harus gimana? Kak Orion marah banget aku takut hiks hiks hiksss....
“BERHENTI MENANGIS” Bentak Orion yang membuat Danira mendongak kaget, hingga membuat saliva Danira tertahan ditenggorokan. Orion mengusap wajahnya kasar sudah hampir satu jam Orion memberikan waktu Danira untuk menangis dengan harapan setelah tenang Danira akan memberikan penjelasan kepada Orion.
Tapi Danira terlalu takut untuk berbicara dengan Orion, takut jika Orion semakin marah terhadapnya.
“Gw gak pernah memaksa siapapun untuk stay bersama gw kalo orang itu gak ngerasa nyaman sama gw, gw akan mempersilahkan orang itu pergi daripada harus selingkuh dibelakang gw, apalagi dengan temen gw sendiri” Sindir Orion
Danira membolakan matanya saat dia dituduh berselingkuh, ayo Danira bicara berhentilah menangis, Danira menguatkan dirinya sendiri. Tapi pita suaranya entah hilang kemana, bibirnya sudah mengucapkan sebuah kata namun suaranya tak keluar.
“Bicara Ra” Pekik Orion frustasi
“Ma-maaf” Orion menggebrak meja saat kata maaf yang keluar dari mulut Danira. Dari ribuan kata kenapa harus kata itu yang Danira ucapkan.
Pyarrrr
Tangan Orion menghantam kaca membuat kaca itu pecah dan berhamburan ke lantai. Danira menutup mulutnya tak percaya, melihat kemarahan seorang Orion adalah hal yang sangat-sangat menakutkan dibanding masuk kerumah hantu.
Cairan merah mengalir disela-sela jari tangan Orion, Danira yang melihat darah langsung pergi untuk mengambil kotak P3K. Namun kepergian Danira membuat Orion bertambah emosi. Apa yang diinginkan gadis ini. Orion menarik tangan Danira dan mendorong tubuh Danira hingga jatuh ke atas kasur. Dengan ganas Orion mencium bibir Danira, Orion meluapkan semua emosinya di dalam ciuman itu. Danira yang kehabisan nafas mendorong tubuh Orion agar dirinya bisa menarik nafas, namun Orion tak membiarkan hal itu terjadi. Yang ada Orion ******* habis bibir Danira dengan rakus.