DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
14. Mine



Ini sudah yang kesekian kalinya Orion mendatangi tempat ini,namun keberadaan Danira tak kunjung ia temui. Bahkan orang-orang kepercayaan Devan tak mampu menemukan keberadaan Danira.


Orion mencengkeram kuat sedir mobilnya menunjukkan urat-urat ditangannya. Puluhan telfon masuk di ponselnya dia abaikan. Danira hanya Danira yang dirinya inginkan saat ini.


Tatapan nyalang Orion tertuju pada seorang wanita yang berdiri di pembatas jembatan dengan kedua tangan direntangkan seolah wanita itu tengah menikmati detik-detik terakhir dalam hidupnya.


Wanita itu adalah Danira gadis yang Orion cari selama hampir sepekan ini.


Tubuh Danira limbung saat seseorang menarik tangannya, Danira terjatuh diatas tubuh Orion. Netra keduanya bertemu, sembelum Danira memilih memutus kontak matanya.


“Kak Orion ngapain” Tanya Danira


“Harusnya gw yang Tanya bukan lo” Danira menunduk saat melihat tatapan tajam Orion. Rahang Orion mengeras dan tatapannya begitu menusuk membuat Danira tak berani menatap wajah tampan Orion.


“Tatap gw Danira” Sentak Orion membuat Danira semakin takut.


“Lo mau mati?” Tanya Orion dingin yang dijawab anggukan oleh Danira


Orion menarik tangan Danira membawanya kembali ke tepi jembatan “Lo mau mati kan, LAKUIN DI DEPAN GW” Ucap Orion dingin penuh penekanan.


Wajah Danira memucat, seketika keberaniannya untuk mati hilang. Bahkan air dibawah sana yang tadinya nampak menenagkan seketika berubah menjadi sangat-sangat menakutkan.


“Kenapa diam, lo mau mati kan? Lakuin Ra” Sentak Orion


“KENAPA LO RAGU ,HMM”


Danira menggelengkan kepalanya “Kamu gila”


“Ya Ra, gw gila dan lo tau apa yang bikin gw gila, ELO” Ucap Orion penuh penekanan.


Danira menggeleng-gelengkan kepalanya. Aura Orion lebih terasa menyeramkan dibanding jatuh dari atas jembatan.


“Atau lo mau gw bantu???Gw bisa bunuh lo sekarang” Gila, Orion sudah benar-benar gila dan Danira sangat takut sekarang.


“Lepasin aku kak” Teriak Danira, Orion menarik tangan Danira hingga tubuh Danira menabrak tubuhnya, menahan pinggang ramping Danira.


Cup


Orion mencium bibir Danira meraupnya secara kasar membuat Danira memberontak memukul dada bidang Orion.


Orion menahan tengkuk leher Danira agar bisa menciumnya lebih dalam lagi. Orion menggigit pelan bibir Danira, membuat bibir bawah Danira bengkak. Setelah hampir lima menit ciuman panas itu terjadi, Orion melepaskan ciumannya, kesempatan itu dipergunakan Danira untuk meraup Oksigen sebanyak yang dia bisa.


Bibir Orion mendekat ketelinga Danira “Apa itu cukup buat lo mau jadi istri gw” Mata Danira melebar mendengar ucapan Orion.


ISTRI????


...***...


Danira menatap sekitar ruangan yang membuat perasaannya kalut. Saat ini Danira berada di apartement milik Orion. Laki-laki itu membawa paksa Danira.


“Ra” Panggil Orion


“Mulai saat ini lo tinggal disini” Danira mengerjap


“Ke-kenapa?”


“Ini keputusan gw Ra dan lo gak bisa nolak” Danira semakin bingung dengan pria dihadapannya ini.


“Kak, aku”


“Ra, gw gak suka dibantah” Danira menghembuskan nafasnya pelan


“Kita akan menikah” Ucap Orion tiba-tiba membuat Danira mengerjapkan matanya.


“Gw yang akan jadi ayah dari anak yang lo kandung” Danira merasakan hatinya menghangat, tapi kenapa harus Orion bahkan dia bukan yang melakukannya.


Orion mengubah posisi duduknya menghadap Danira, menatap manik mata coklat milik Danira yang sudah berkaca-kaca.


“Gw emang belum cinta sama lo, tapi gw juga gak bisa biarin lo nanggung semuanya sendiri” Entah mengapa ucapan Orion semakin membuat hati Danira semakin sakit.


Danira hanya bisa menerima semua keputusan yang dibuat Orion, orang seperti Danira mana bisa menolak kehendak orang lain terhadapnya.


“Kak” Panggil Danira


“Hmmm”


“Dimana aku akan tidur?” Tanya Danira hati-hati


“Pilih kamar yang lo suka”


Danira menggigit bibir bawahnya.


“Gak usah banyak mikir, lo tidur dikamar gw” Ucap Orion santai


“Hah” Beo Danira


“Kalo aku tidur dikamar kakak, terus kakak tidur dimana?” Tanya Danira


“Dikamar gw” Danira semakin tidak mengerti dengan ucapan Orion, tapi dia hanya bisa menurut apa yang Orion katakan.


Danira sedang memasak makan malam untuk mereka berdua, ya mereka memang tidur dikamar yang sama sesuai permintaan dari Orion yang tak bisa di bantah.


Danira hanya membuat nasi goring dan telor ceplok sebagai pelengkapnya. Danira masih belajar untuk soal masak-memasak.


“Kak makanannya udah siap” Ucap Danira


“Sorry gw ada urusan sebentar lo makan dulu aja” Ucap Orion dingin setelahnya melangkah keluar apartement.


Jujur saja Danira merasa sedih tapi dia berusaha untuk menerimanya, kata-kata Orion pun terlintas kembali dipikirannya.


“Gw emang belum cinta sama lo, tapi gw juga gak bisa biarin lo nanggung semuanya sendiri”


IKUTI TAKDIR,


Danira menguatkan hatinya, sebaiknya dia menunggu Orion pulang, tidak baik tamu makan saat yang punya rumah sedang tidak ada. Bukankah tidah sopan.


...***...


Orion melangkahkan kakinya menuju Lucas yang sudah standby di meja bar.


Lucas tiba-tiba saja mengirim Orion pesan dan mengajaknya bertemu di bar tempat biasa mereka nongkrong. Meskipun Orion bukan maniak minum ataupun dunia malam tapi bar juga bukan hal tabuh bagi seorang Orion.


“Dah nyampe lo Yon” Ucap Lucas sembari meneguk minuman di gelasnya.


“Hmm”


“Santai Yon, minum dulu lah” Ucap Lucas lagi membuat Orion semakin malas.


“Lo bisa gak hargain waktu gw” Decak Orion


“Sorry gw cuma gak mau buru-buru aja” Ucap Lucas


“Gw rasa gak ada hal penting yang mau lo omongin sama gw, gw pergi” Orion beranjak dari duduknya.


“DANIRA” langkah Orion terhenti saat Lucas mengucapkan nama Danira.


“Biarin gw yang tanggungjawab” Rahang Orion mengeras, dia sangat-sangat tau tabiat Lucas.


“Serahin gadis itu ke gw Yon” Ucap Lucas lagi sembari memegang bahu Orion. Orion menghempaskan kasar tangan Lucas. Hanya senyuman smrik yang dia tunjukkan lalu pergi meninggalkan Lucas.


“Gw tau lo tertarik sama dia Yon”


Orion memarkirkan mobilnya di parkiran apartement, menekan tombol lift menuju apartemen miliknya.


Ceklek


Saat pintu apartemen terbuka Orion melihat Danira yang tengah tertidur pulas di sofa. Orion tersenyum simpul, melihat dua piring nasi goreng yang tersaji di meja makan.


Orion mengelus lembut pipi Danira dengan ibu jarinya, merapikan surai rambut Danira yang menutupi wajah cantik Danira, bahkan wajahnya terlihat sangat cantik saat tertidur.


Orion menggendong tubuh Danira dan membawanya ke kamar.


“Eughhh” Lenguh Danira saat merasakan tidurnya terganggu. Danira yang masih terlelap tanpa sadar menarik tangan Orion dan membawanya ke dadanya.


“Jangan bangunin singa tidur Ra” Ucap lirih Orion tepat di telinga Danira


“Kalo gw khilaf jangan nyesel” Orion tersenyum smrik menatap wajah Danira yang masih terlelap.


“Gw gak akan pernah biarin lo jadi milik orang lain, meski itu sahabat gw sendiri”


“Sesuatu yang udah gw klaim jadi milik gw gak akan pernah gw biarin lepas gitu aja, sampai tangan gw sendiri yang ngelepasnya”


“Danira Egawasta ‘You My Mine’”


Orion merengkuh tubuh Danira kedalam pelukannya dan masuk ke alam mimpi menyusul Danira.