
Danira Pov
Aku duduk terdiam sembari mrngelus perutku yang mulai buncit. Apa yang aku lalui akhir-akhir ini membuatku melupakan janin yang ada dikandunganku, sungguh aku merasa bersalah terhadap anakku.
“Jika kamu lahir kelak , mamah akan menamaimu Lentera. Karena hadirnya kamu membuat hidup mamah yang tadinya gelap menjadi terang”
Tak terasa air mataku mengalir, apa nantinya anak ini akan bahagia atau malah sebaliknya.
“Mikirin apaan” Tanya Orion yang baru keluar dari kamar mandi
“Lagi mikirin nama buat anak kita”
“Emang siapa namanya” Orion mengusap sisa air mata di pipiku.
“Boleh gak kalo aku kasih nama Lentera” Orion mengernyitkan dahinya.
“Gak suka ya”
“Apapaun nama pemberian kamu untuk anak kita aku yakin itu nama terindah” Aku memeluk tubuh Orion.
“Lentera Mahardika Galandra”
“Bagus namanya”
“Danira gimana kandungan kamu?”
“Baik mah, Danira bantu ambilin piringnya ya”
“Gak usah sayang kamu duduk aja ya”
“Tapi mah”
“Udah kamu diem aja disini liatin aku” Ucap Orion
“Hihhh ngapain liatin kamu” Dengusku
“Yakin gak mau liatin aku” Orin mendekatkan wajahnya membuatku gugup samapai-sampai untuk menelan salivaku sendiri aku kesulitan.
“Ekhhhmmm” Deheman papah Devan menyelamatkanku
“Pah” Sapaku canggung
“Gimana Ra, sudah lebih baik” Aku mengangguk
Makanan telah siap dimeja makan, kami menikmati makan malam kami hanya ada obrolan ringan antara papah dan Orion.
“Pah Orion mau rayain pernikahan ku dan Danira”
“Uhuk-uhukkkk” Aku tersedak makananku
“Hati-hati Ra”
“Ma-maaf” Ucapku sungkan
“Kamu sudah yakin?”
“Yakin pah, uah saatnya semua tau bahwa Orion sudah menikah. Orion capek pah harus nyembunyiin status Orion” Aku hanya menunduk, Orion meraih kedua pipiku.
“Kamu mau kan” Tanyanya
Pipiku memanas dadaku bergemuruh rasanya aku ingin menangis dan teriak sekencang-kencangnya.
“Ra, kamu mau kan” Tatapan mata kami bertemu, tanpa ragu aku menganggukkan kepalaku, dan setelahnya Orion mengecup keningku dan memlukku.
“Selamat ya sayang”
“Makasih mah, makasih udah baik sama Danira” Mamah Tamara memelukku.
Kebahagiaan yang begitu nyata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, menjadi istri seorang Orion Galandra. Dibalik sikapnya yang dingin dia adalah orang yang sangat hangat. Acara makan malam selesai dan kami kembali ke kamar masing-masing.
“Ra, besok kita akan fiting baju”
“Secepat itu?”
“Kalo gak mau yaudah pake baju seadanya saja”
“Kamu kenapa sih, cepat sekali berubah”
“Tapi sayang aku ke kamu gak akan berubah” Seketika pipi ku merona.
“Baiklah aku mau”
“Tapi besok kamu sama mamah ya, aku gak bisa nemenin ada yang harus aku urus besok”
"Iya gak apa-apa kok"
"Orion makasih ya"
"Untuk???"
"Untuk semuanya" Orion tersenyum
"Kamu beneran udah yakin??? mau publis hubungan kita"
"Setiap keputusan aku udah aku pikirin baik-baik jadi kamu gak perlu khawatir"
"Oke deh, aku tidur duluan ya kamu jangan tidur larut malam" Orion mengusap pucuk rambutku dan setelahnya mencium keningku.
Paginya aku sudah bersiap agar mamah tidak menungguku.
Sesampainya di butik rupanya Orion sudah memesankan gaun yang indah untukku, gaun berwarna putih yang sangat cantik.
Aku mencobanya dan melihat diriku di cermin begitu cantik.
"Cantik banget sayang"
"Makasih mah"
Selesai urusan dibutik mamah mengajakku untuk check kandunganku ke dokter. Syukurlah bayiku dalam keadaan sehat dan sudah menginjak usia empat bulan.
"Sayang apa kau menginginkan sesuatu untuk dibeli sebelum kita pulang"
"Emmm gak ada mah"
"Terus kenapa wajahmu murung begitu"
"Mah, boleh tidak Danira memberitahu hal ini ke ayah dan ibu Danira" Mamah Tamara nampak berfikir
"Jadi kamu mau kerumah kamu" Aku mengangguk
"Mamah antar ya"
"Gak usah mah, mamah kan udah seharian nemenin Danira pasti mamah juga capek kan. Danira cuma sebentar kok"
"Kamu yakin gak apa-apa" Aku mengangguk yakin walaupun sebenarnya aku tidak yakin mereka akan menerima ku.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
"Ayah"
"Danira" Ayah memelukku
"Gimana kabarmu nak"
"Danira baik yah, maaf yah kedatangan Danira menggangu waktu ayah. Danira cuma mau minta restu ayah"
"Ayah akan selalu merestui kamu, ayah mau anak ayah bahagia" Aku tak bisa menahan air mataku, setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan kasih sayang ayahku lagi.
"Maafin ayah Danira karena ayah kamu harus merasakan pahitnya hidup, kamu gak pernah salah apa-apa tapi ayah selalu menyia-nyiakan mu"
"Ayah menangis"
"Enggak sayang, ini tangis bahagia seorang ayah. Meskipun selama ini ayah sudah jahat terhadap mu tapi kamu gak pernah melupakan ayah"
"Bagaimana Danira bisa melupakan orang yang paling berharga dalam hidup Danira"
"Yasudah ayok masuk"
"Emmm Danira"
"Sudah jangan takut ada ayah disini"
Dengan ragu aku mengikuti langkah ayah masuk ke dalam rumah. Dan disana sudah ada ibu, Ema dan bang Dewa.
"Kak" Ema berlari ke arah ku dan memelukku begitu juga ibu.
"Kak maafin Ema, selama ini Ema udah jahat Ema dihasut"
"Gak ada yang perlu dibahas lagi semuanya sudah berlalu"
"Terimakasih kak"
"Danira ibu, juga minta maaf ya ibu banyak salah"
"Gak buk, Danira yang harusnya minta maaf Danira udah bikin keluarga ini kecewa"
"Lo gak pengen peluk gw juga" Ucap bang Dewa yang langsung ku balas dengan pelukan.
Aku seperti lahir kembali di keluarga ini.
"Apa kita semua diundang di acara kak Danira?" Tanya Ema
"Tentu dong, kalian semua harus datang"
"yeeyyyyyyyy" Girang Ema membuat kami semua tertawa
"Ema, apa kamu masih di bully di sekolah" Aku sedikit ragu untuk menanyakan hal ini tapi aku mengkhawatirkan keadaan Ema.
"Enggak kok kak, lagian aku udah kebal sama Bullyan mereka jadi aku gak ambil pusing deh" Ucap Ema santai tapi aku tau yang sebenarnya tidak baik-baik saja.
"Maafin aku ya Ema" Ucapku merasa bersalah
"Kak, gak usah minta maaf bukannya kakak yang minta kak Salsa buat jagain aku" Aku mengenyitkan dahiku bingung
"Salsa???"
"Iya kak Salsa, temen sekelas kakak dulu, berkat dia juga aku jadi lebih berani dan menyadari kesalahanku sama kakak. Sekali lagi aku minta maaf ya kak" Ucap Ema penuh penyesalan. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya.
"Sayang, ini ibu bikinin susu buat kamu"
"Bu, kenapa repot-repot"
"Udah berapa bulan sayang kandungan kamu"
"Udah jalan empat bulan Bu"
"Jangan capek-capek, jangan banyak pikiran makan yang banyak, liat tuh badan kamu kurus gitu"
"Hehehe iya Bu"
"Kak Danira nginep sini?"
"Emmm, sepertinya belum bisa lain kali pasti aku nginep"
"Ok deh"
"Yaudah kita makan yuk, masakan ibu udah siap"
Kami menikmati makan malam kami bersama, penuh kehangatan, canda tawa. Sampai akhirnya suamiku Orion Galandra datang menjemput.
"Kak itu kak Orion ya" Aku mengangguk
"Masih ganteng aja ya, beruntung banget sih"
"Kamu ini"
Orion menyalami ayah, ibu, bang Dewa dan juga Ema.
"Sayang kamu baik-baik aja?"
"Aku baik Orion"
"Kita pulang?" Aku mengangguk sembari tersenyum.
"Orion, ayah titip Danira ya"
"I-iya om, ehhh ayah"
"Hahaha kamu ini sudah jadi menantu ayah kok manggilnya om" Ucapan ayah membuat Orion semakin canggung dan membuat kami semua tertawa melihat wajah lucu Orion.
"Yasudah kami pamit dulu yah"
"Hati-hati dijalan jangan ngebut, ayah gak mau sampe anak dan cucuk ayah tergores atau lecet. INGAT ITU"
"Ayah"
"Danira pamit ya yah"
"Hati-hati ya sayang" Ayah mengecup lembut pucuk kepalaku.
Saat di dalam mobil tiba-tiba saja mood ku berubah dan aku menangis sejadinya.
"Loh kamu kenapa sayang, kenapa kamu menangis" Ucap Orion panik membuatku semakin menangis
"A-aku bahagia Yon" jawabku di sela-sela tangisanku. Orion tersenyum dan membawaku dalam dekapannya.