
KALIAN TAU KAN CARANYA MENGHARGAI KARYA SESEORANG ❤️
TINGGALIN JEJAK KALIAN
PANGGIL AKU BUNA☺️
SELAMAT MEMBACA
Malam ijinkan aku mengungkapkan keresahanku,
Resah yang menggebu menusuk ke dalam kalbu,
Rindu terpatri tergores akan mimpi,
Mimpi tanpa tertidur itu sulit,
Sukma yang lelah namun tak ingin menyerah,
Hati yang terlukai jiwa yang tersakiti,
Bak halusinasi yang tak bernah berwujud,
Merealisasikan dengan tetesan air mata,
Menggembala rindu,
Menggiring menuju kedamaian,
Lelah diterpa harapan,
Tertatih melanjutkan kehidupan,
***14 Oktober***,
***Danira Egawasta***
Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah, aku tidak ingin sampai kehilangan beasiswaku. Setidaknya aku masih harus memperjuangkan pendidikanku.
“Eh cupu, masih hidup lo gw kira udah mampus” Aku malas sekali harus meladeni ocehan Salsa.
“Kemana aja lo?” Ucap Meta teman Salsa
“Bisu lo, atau udah merasa SOK secara kan ada yang belain” Timpal Lora
“Kalo diajak ngomong itu jawab” Salsa menjengut rambutku
“Lepasin sakit” Ucapku lirih, aku berusaha menahan air mataku yang akan segera jatuh
“Lo harus diberi pelajaran” Tegas Salsa, yang membuatku semakin takut.
“SALSA!!!!” Itu bu Jihan wali kelasku
“Urusan kita belum selesai” Ucap Salsa, sebelum pergi karena bu Jihan sedang berjalan kearahku
“Danira, ikut ibu ke kantor” Tungkas bu Jihan
“Silahkan duduk Dira” Aku duduk di kursi tepat di hadapan bu Jihan,aku menunduk pasrah.
“Dira, kemana aja kamu tiga hari tidak masuk sekolah?” Tanya bu Jihan
“Sa-sakit bu” Ucapku berbohong
“Kalau begitu mana surat sakitnya” Aku tersentak bagaimana aku bisa seceroboh itu
“Emm, sa-saya hanya demam biasa bu jadi gak ke Dokter” Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa takut.
“Danira, kali ini ibu maafkan kamu tapi jika kamu mengulangi hal yang sama ibu akan panggil orangtua kamu.
“Baik bu”
“Ibu harap kamu bisa menaikkan nilai akademik mu Dira, untuk menutupi absensimu yang sering sekali Alfa”
“Iya bu”
“Apa ada yang mengganggu kamu Dira”
“E-enggak kok bu, gak ada”
“Yasudah kamu boleh kembali ke kelas”
Aku terpaku saat keempat pria yang ku kenal berjalan kearahku, tubuhku bergetar dan dada ku bergemuruh. Wajah mereka membuat tubuhku lemas seolah terlepas dari tulang-tulangku. Aku memutar tubuhku agar mereka tak melihat keberadaanku. Mereka berempat adalah cowok favorit disekolahku. Entah mereka sadar atau tidak merekalah yang sudah menghancurkan hidupku. Walaupun satu diantara mereka tidak melakukannya tapi tetap saja aku menganggapnya sama-sama brengsek. Ingin rasanya aku menampar wajah mereka.
“TUNGGU” Terlambat tubuhku menegang seketika saat suara berat dari salah satu mereka terdengar di telingaku.
“Lo” Aku membuang wajahku dari mereka
“Muka lo kek gak asing” Pria yang bernapa Lucas ingin meraih wajahku namun tangannya lebih dulu di tepis oleh Orion.
Orion menarik pergelangan tanganku dan membawaku menjauh dari ketiga temannya.
Author Pov
“Lah, Yon” Orion tak menghiraukan panggilan Zaky
“Gw inget sama tu cewek” Aldi mengingat akan gadis itu
“Siapa emangnya” Tanya Zaky
“Dahlah gak penting juga” Tandas Lucas, Aldi tersenyum smrik menatap kepergian Orion dan Danira.
“Lepasin kak” Danira menghempaskan tangannya dari cekalan Orion.
“Tolong jangan ganggu aku” Danira hendak pergi namun lagi-lagi Orion menahannya.
“Mau kakak apa sih” Orion mengikis jarak diantara mereka membuat netra keduanya bertemu.
“Kak” Danira mendorong dada bidang Orion
“Apa belum puas temen-temen kakak nyakitin aku” Ucapnya gemetar
“Lo dibayar berapa?” Danira melebarkan matanya menatap pria tampan dihadapannya tak percaya.
“Maksud kakak apa?”
“Lo dibayar berapa sama temen-temen gw?”
“Aku bukan wanita seperti itu” Tuduhan Orion sangat menyakitkan bagi Danira.
“Lalu , kau wanita seperti apa yang dalam semalam bermain dengan tiga pria sekaligus”
Glek!! Danira menelan salivanya susah
Kata-kata itu terdengar sangat kejam membuat hatinya tercabik-cabik.
***
Danira berdiri disamping jalan menunggu angkutan umum. Sebuah motor berhenti di hadapannya, pria itu pun membuka kaca helmnya menampilkan wajah tampannya.
“Sami, kenapa kamu disini?”
“Jemput kamu!” Danira mengernyitkan dahinya bingung
“Udah gak usah seneng gitu, nih pake helmnya” Sami memberikan satu helmnya kepada Danira.
“Kamu serius jemput aku?” Tanya Danira memastikan
“Gw udah jauh-jauh sampai sini lo masih bilang gw becanda Ra” Sami menggelengkan kepalanya tak percaya. Danira tersenyum melihat tingkah Sami.
Berada di samping Sami membuat Danira selalu bisa melebarkan senyumannya, Sami selalu mampu membuatnya nyaman.
“Udah siap”
“Udah” Danira mengangguk mantap.
Seseorang menatap kepergian Danira dengan tatapan datar, ada rasa tidak suka tapi juga ahhh sudahlah lagi pula siapa pun wanita itu dia tak perduli.
“CK” Orion berdecak membuat ketiga sahabatnya reflek menatap wajah Orion yang berubah masam.
“Napa lu Yon?”
“Gak”
“Masih mikirin nyokap lo”
“Gak usah dibahas”
“Anjir galak banget tuh orang, kesambet apaan dah” Cicih Zaky
Orion memutar matanya jengah.
“Kita ke apartemen lo ya Yon” Tawar Lucas
“Serah lo pada” Ketus Orion
Mereka pun mengambil motor mereka masing-masing dan melesat membelah jalanan menuju apartemen Orion.
Namun sebelumnya Orion sudah memberitahu teman-temannya jika ia akan mampir untuk membeli minuman di cafe yang tak jauh dari sekolah mereka.
Orion memarkirkan motornya di depan cafe dan memesan beberapa minuman untuknya dan ketiga sahabatnya.
“Mbak pesen Caffe lattenya satu, Chocolate cappuccino satu sama Americano dua”
“Iya mas ada tam---“ Danira mendongakkan kepalanya dan terkejut saat orang yang memesan minuman adalah Orion.
“Ada tambahan lagi” Danira mengulangi ucapannya yang tadi sempat tertahan
“Itu aja” Jawab Orion ketus
“Totalnya satu juta seratus dua puluh ribu kak” Orion memberikan kartu debit miliknya.
“Terimakasih silahkan ditunggu pesannya” Danira mengembalikan kartu dan struk Orion.
“Bisa kah aku menambah satu pesanan lagi!” Danira menatap Orion bingung, bukankah tadi dirinya sudah bertanya ada tambahan atau tidak. Mengapa tidak dari tadi, batin Danira.
“Bisa kak, mau nambah apa?”
“Bisa kau antar pesanan ku ke apartemenku!”
“Maksudnya?”
“Kau sudah tau letak apartemenku bukan!!!” Orion meninggalkan Danira yang masih cengo dibalik meja kasir.
Danira tengah menyiapkan semua pesanan yang Orion pesan dan siap untuk mengantarnya.
“Ra, lo yakin mau nganter pesanan ini?” Danira mengangguk
“Biar gw nyuruh kariyawan yang lain aja Ra”
“Sami gak apa-apa ini juga tugas aku”
“Yasudah hati-hati ya Ra, atau mau gw anter?” Danira menggeleng cepat.
“Tidak usah aku bisa melakukannya sendiri”
Ojek yang Danira pesan juga sudah sampai, Sebenarnya Danira masih trauma untuk datang ketempat itu lagi tapi dia harus profesional. Danira menginjakkan kakinya di basement apartemen milik Orion. Danira bertanya kepada security yang berjaga karena ia tak ingat letak apartemen yang ditinggali Orion.
“Maaf pak, apa bisa minta tolong”
“Bisa nona”
“Saya ingin mengantar minuman atas nama Orion Galandra. Apa bisa bapak memintanya untuk turun ke sini”
“Sebentar ya nona, saya meminta receptionist untuk menghubungi tuan Orion” Danira mengangguk dan duduk di sofa yang sudah di sediakan. Selang beberapa lama security itu menghampiri Danira.
“Maaf nona, Nona diminta untuk mengantar minumannya sendiri ada di lantai tiga no 305”
“Terimakasih pak” Danira masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tiga.
Thing, lift sudah sampai di lantai tiga, Danira menyusuri setiap kamar mencari kamar nomor 305. Sampai di depan kamar yang dicari Danira menelan salivanya, tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Danira menetralkan degup jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dia hanya perlu memberikan pesanannya lalu pergi. Danira meyakinkan dirinya dan menekan bell yang ada disamping pintu.
Tak berselang lama seseorang membukakan pintu, mata Danira terpana saat pria dihadapannya sangat tampan, tubuhnya begitu proposional dengan dada bidang dan waittt tunggu Danira menyadarkan dirinya dari lamunannya.
“Ini tuan pesanan anda” Danira menyerahkan paperbag yang ada di tangannya. Pria itu tersenyum smrik menatap Danira.