DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
22. Cek Kandungan



Sejak Anna datang lagi di kehidupan kak Orion, sikap kak Orion padaku jadi berubah. Kak Orion lebih sering menghabiskan waktu diluar bersama Anna dibanding menemaniku.


“Lo Danira kan?” Tanya Zaky yang baru saja datang bersama Aldi


“Iya kak, kalian ini??”


“Gw Aldi dan ini Zaky temennya Orion” Terang Aldi yang kujawab anggukan


“Orion ada?” Tanya Aldi lagi, aku menggeleng


“Lo dirumah sendirian? Emang Orion kemana?” Tanya Zaky


“Kak Orion jarang dirumah kak” Seolah tau dimana Orion berada Zaky dan Aldi pun pamit


“Lo hati-hati dirumah, gw sama Zaky pergi dulu”


“Iya kak”


Aku membuang nafasku kasar, apakah ini bisa dikatakan sebagai rumah tangga. Jika dasarnya saja bukan cinta wajar jika mudah goyah. Aku tidak boleh lemah aku harus kuat demi anakku.


***


Hari ini aku ada pemeriksaan mengenai kehamilanku, aku tidak berani membangunkan kak Orion yang masih tertidur. Aku menulis pesan dan ku letakkan dimeja , aku juga sudah menyiapkan segelas susu hangat untuk kak Orion.


Untuk Kak Orion,


Kak, hari ini aku check up ke dokter, maaf aku gak berani bangunin kamu sudah kusiapkan susu hangat di meja jangan lupa diminum ya.


Danira


Aku berharap setelah ini kak Orion kembali peduli padaku, aku merindukan pelukannya yang selalu menenangkan ku. Kak, apa salah jika aku mencintai mu, apa setinggi itu hingga aku tak bisa meraihmu.


“Terimakasih ya pak”


“Sama-sama non”


Setelah menunggu akhirnya namaku dipanggil, aku masuk ke ruangan dan dokter memeriksa kandunganku. Dari layar aku bisa melihat janin yang ada di perutku yang mulai tumbuh.


“Ibu Danira, hasil pemeriksaannya bagus janinnya berkembang dengan baik” Dokter Syeila menerangkan padaku


“Usianya sudah berapa bulan ya dok”


“Usianya kandungan ibu Danira sudah enam minggu”


“Tapi kenapa perut saya belum membesar dok?”


“Pada perkembangan janin di usia enam minggu ini, perubahan pada bagian perut ibu mungkin masih belum terlihat karena ukuran janin di dalam rahim masih terlalu kecil”


“Oh begitu dok”


“Apa ada keluhan yang ibu rasakan selama masa kehamilan trimester pertama?


“Gak sih dok, cuma terkadang mual sama pusing saja”


“Itu normal bu, saya tuliskan resepnya ya”


Alhamdullah kandunganku baik-baik saja, akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran gara-gara kak Orion. Mulai sekarang aku harus lebih memperhatikan kandunganku.


“Danira” Sapa Aldi


“Kak Aldi ya”


“Kamu sakit?”


“Oh gak kok kak, aku habis cek kandungan aku” Entah mengapa kak Aldi celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang


“Kak, lagi cari siapa?”


“Kamu sendirian? Orion gak nemenin kamu?”


“Enggak kak”


“Kamu udah selesai? Aku anter pulang ya” Tawar Aldi


“Gak usah kak aku bisa pulang sendiri” Aldi menggenggam kedua tanganku sepertinya ia sangat mengkhawatirkanku


“Ra, gw mohon ijinin gw nganterin lo pulang”


“Ra, gw gak repot sama sekali kok” Merasa tidak enak akhirnya aku menyetujui tawaran Aldi.


Sepanjang perjalanan aku merasa canggung sedekat ini sama Aldi, aku memilih melihat ke luaran jendela mobil.


“Ekhmmmmm”


“Kenapa kak?”


“Ra, bayi lo”


“Ohhh baik kok kata dokter usianya udah enam minggu”


“Oh belum tau ya laki-laki atau perempuan”


“Ya belum lah kak mungkin setelah enam bulan saat perut aku udah terlihat besar udah bisa ketahuan bayinya cowok atau cewek”


“Boleh gw anter lo pas lo cek kandungan lagi”


“Hahhh” Beoku


“Ra, sorry atas kejadian waktu itu gw bener-bener gak sadar ngelakuinnya”


“Kak”


“Ra bayi itu juga anak gw kan?”


“Kak cukup, kak. Aku udah ada kak Orion”


“Tapi Orion gak peduli sama lo”


“Kak Aldi gak tau”


“Gw lebih tau Orion dibanding lo, pasti sekarang dia lagi sibuk sama Anna kan sampe biarin lo pergi ke dokter sendirian”


“Aku turun disini aja kak, terimakasih”


“Ra, tunggu” Kak Aldi menahan tanganku


“Maaf, gw kebawa suasana gw minta maaf. Gw gak mau lo kenapa-kenapa gw anter lo pulang”


Kak Aldi kembali melajukan mobilnya, tak ada obrolan apapun setelahnya. Sesampainya dirumah aku terkejut melihat pemandangan yang benar-benar mebuat hatiku terasa sakit.


“Kak Orion” Panggilku lirih menahan air mataku, melihat pria yang telah menjadi suamiku sedang berciuman dengan wanita lain di hadapanku. Anna dan kak Orion menoleh ke arah kami( aku dan Aldi).


“Yon, brengsek lo Buggghhhh “ Aldi yang emosi memukul wajah Orion


“Kak Aldi udah kak, berhenti”


“Anna lo tau kan Orion udah punya istri, gw pikir lo mahal ternyata lo murahan”


Plakkkk , Anna menampar pipi Kiri Aldi


“Lo gak ada hak menilai gw, Di” Ucap Anna membela diri


“Cihhh” Aldi berdecih


“Lo sendiri ngapain jalan sama istri orang” Ucap Anna yang membuat kak Orion menatap tajam kearah ku, aku hanya bisa menangis.


“Gak usah ngalihin topik, gw gak sengaja ketemu Danira dirumah sakit. Gw cuma nganter pulang gak lebih”


“Oh ya??? Kalo lo berdua boong emangnya kita tau lagi pula lo juga pernah tidur juga kan sama Danira” Ucap Anna sembari memasang wajah jijik ke arahku.


Buggggg, Mendengar ucapan Anna membuat Orion marah dan memukul Aldi.


“Kak, udah kak apa yang dikatakan kak Aldi benar” Ucapku memohon


“Kak Aldi gak apa-apa”


“Yon, kalo lo emang udah gak mau sama Danira lo ceraikan dia biar gw yang tanggungjawab bayinya” Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang diucapkan kak Aldi, lagi-lagi kak Orion tak terima dan kembali memukul kak Aldi.


“SUDAH CUKUP, BERHENTI” Teriakku, dan mereka pun berhenti


“Kak Aldi gak usah ikut campur rumah tanggaku dengan kak Orion, anak ini anakku kalian gak perlu repot-repot mengakui anak ini”. Aku memilih kembali ke kamar ku.