DIRASTA (ON GOING)

DIRASTA (ON GOING)
35. I Love You Orion



Danira Pov


Aku menikamati peranku saat ini , dan aku berharap apa yang aku sedang perankan saat ini tidak akan segera berakhir, aku mencintaimu Orion Galandra.


“Ra” Panggil Orion


“Iya” Jawabku sembari mengubah posisi tidurku menghadap Orion


“Lo, udah ngantuk?” Tanyanya lagi dan ku jawab dengan anggukkan


“Boleh gw ngomong sebentar?” Aku mengangguk lagi jujur saja rasa kantukku sudah tak tertahankan tapi aku tidak ingin mengecewakan Orion.


“Gw mau jujur kalo gw udah mulai sayang sama lo, kalo lo gimana? Apa lo udah sayang sama gw??? Ra, gw gak akan biarin lo jatuh ketangan orang lain siapapun itu. Soal mamah gw akan cari cara agar lo dan mamah bisa kayak dulu lagi” Ucap Orion panjang lebar tapi sayangnya rasa kantuk lebih menggelayutiku untuk segera datang kealam mimpi.


“I love you Ra, cup”


Aku terbangun saat haus ditenggorokkanku tak tertahankan, dengan mata berat aku memaksa tubuhku untuk meraih segelas air putih yang sudah kusiapkan sebelum tidur disamping nakas.


Aku mengerutkan dahi saat ku tatap wajah Orion yang masih tertidur tapi ekspresinya menunjukkan seperti ketakutan, aku mengusap lembut keringat dikening Orion. Apa yang ada di mimpi Orion sampai ia perkeringat seperti ini.


Orion terbangun dan langsung memelukku, menenggelamkan wajahnya dicengkuk leherku.


“Kamu mimpi buruk?” Orion masih mengatur nafasnya yang tersengal, aku mencoba menenangkannya dengan mengusap lembut punggungnya.


“Jangan tinggalin gw” Ucap Orion tiba-tiba, aku hanya diam.


“Ra, jangan tinggalin gw” Ucapnya lagi


“Aku gak akan ninggalin kamu, Yon. Aku akan selalu ada disampingmu” Ketakutannya sedikit mereda


“Ra, gak nyangka gw lo jago masak” Puji kak Zaky


“Makasih” Untunglah Orion tak mempermasalahkan pujian yang sedari tadi kak Zaky lontarkan, dari masakanku enak, pinter ngurus rumah, penampilanku yang makin cantik dan masih banyak lagi.


“Ra, gimana kandungan lo” Tanya Zaky spontan


“Deggg” Pertanyaan Zaky membuat jantungku berhenti berdetak tiba-tiba, aku menatap Orion yang ternyata juga terusik dengan pertanyaan itu dan menghentikan aktifitas makannya.


“Ehhh, maksud gw....” Zaky jadi salah tingkah, begitu juga Aldi yang masih setia menunggu ekspresi Orion selanjutnya. Aku menggigit bibir bawahku takut.


“Bayinya sehat” Jawab Orion singkat dan kembali melanjutkan makannya, kami pun melepaskan nafas lega.


Sesekali aku juga memperhatikan kak Aldi yang diam-diam memperhatikanku tapi saat manik mata kami bertemu aku sebisa mungkin memutus kontak mata kami dengan cepat.


“Hati-hati ya kak” Orion mengusap pucuk kepalaku lembut dan mengecup sekilas keningku. Manisnya perlakuan Orion pagi ini berhasil membuatku tersipu malu, mungkin saja saat ini pipi ku sudah lebih merah dari tomat.


Saat aku akan kembali kedalam rumah aku melihat seseorang tengah berdiri memandang kearahku dengan pakaian serba hitam. Ku tajamkan pandanganku kearah orang tersebut, dan orang itu pun tahu jika aku mengetahui keberadaannya. Dari kejauhan orang itu mengarahkan ujung pisaunya kearahku dan setelahnya berlalu pergi. Aku bergegas masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah rapat-rapat.


“Siapa orang itu” Batinku


“Orion???” Perasaanku jadi tidak enak, aku mencoba menghubungi ponsel Orion tapi ponselnya dimatikan. Aku berjalan kesana-kemari entah sudah berapa kali, sesekali mengecek ponselku berharap ada pesan masuk dari Orion.


Tokk tokkk tokkk


Suara ketukan pintu, aku mengatur nafasku memberanikan diri untuk membuka pintu, namun saat pintu terbuka tak ada siapa-siapa diluar sana. Hanya ada sebuah kotak tanpa identitas tergeletak begitu saja.


Dengan ragu aku mengambil kotak misterius itu dan membawanya masuk, tapi isi dalam kotak itu membuatku semakin panik dengan keadaan Orion dan yang lain.